
" Buku rekening?"
Mas Adzam hanya mengangguk. Aku mengambil dari tangannya dan membuka buku itu. Ada nama mas Adzam tertera di sana.
Aku membuka lagi isi selanjutnya, mataku membulat melihat angka yang tercetak di kertas ini.
Aku mengucek-ngucek mataku, " Ini benar angkanya mas? Mencapai tujuh ratus juta."
" Buat kamu dan Tari untuk menebus masa lima tahun yang terlewat tanpa mas. Untuk menebus rasa bersalah mas pada kalian. Rekening itu sengaja mas buat. Dalam hati mas yakin akan menemukan kalian suatu hari nanti,dan ternyata itu benar. Kini kalian sudah ada di depan mata mas."
Hatiku terenyuh melihat perlakuan mas Adzam. Ternyata diam-diam ia memperhatikan kami hingga menyiapkan dana sebanyak ini untuk masa depan Tari.
" Mas, terima kasih banyak sudah memikirkan masa depan Tari. Ucapku penuh haru.
" Tari adalah darah daging ku, dia harus jadi orang yang membanggakan kita kelak. Percaya sama Tari." Ucap mas Adzam hangat.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah tiga dini hari, aku dan mas Adzam memutuskan untuk tidur supaya esok lebih segar, karena kami akan menempuh sekitar enam jam lagi.
***
Pintu kamar hotel digedor oleh orang dari luar, mas Adzam bangun untuk membuka pintu.
" Loh! Belum siap juga?" Suara mama terdengar dari luar.
Aku bergegas bangun, mataku masih sepat karena kurang tidur.
Mama masuk dan membangunkan Tari.
" Sayang.. bangun.." Nenek berkali-kali membangunkan Tari.
Karena payah bangun, mama akhirnya menggendong cucu kesayangannya kekamar mandi dan langsung memandikan.
Aku dan mas Adzam hanya saling pandang.
" Biarkan saja, mama hanya sedang ingin mendekatkan diri sama cucunya."
Aku langsung menyiapkan pakaian terbaik untuk Tari.
Selesai Tari aku langsung masuk kekamar mandi,Saat akan menutup pintu, mas Adzam memanggilku, " Boleh bareng?"
Aku membulatkan mataku. Ada perasaan malu karena mama mendengar ucapan mas Adzam.
" Dasar buaya!" Ucapku.
Butuh waktu tiga puluh menit untuk kami berkemas dari kamar hotel ini.
Mama dan Tari sudah melenggang duluan sejak tadi, sementara aku dan mas Adzam masih mengumpul barang-barang bawaan kami. Takut ada yang tertinggal.
" Afi.." Mas Adzam sempat-sempatnya memegang tanganku.
Aku mendongak ke arah mas Adzam.
" Aku tidak memaksa, jika boleh kita ulang dari awal hubungan ini."
" Ngaco!" Aku melepas tangannya.
" Kenapa?" Ia malah memeluk pinggangku dari belakang.
" Mas!" Aku takut jika nanti akan terlena oleh perlakuan mas Adzam. Bagaimana juga kami adalah manusia normal.
Mas Adzam malah asyik menyerangku tanpa memperdulikan pintu kamar hotel yang terbuka.
Ia seperti seekor singa yang kelaparan. Dan aku sama sekali tidak berkutik di buatnya.
" Ehm!"
__ADS_1
Mas Adzam menghentikan aktivitas mencumbu ku karena suara orang.
Ada wajah yang kami kenal. Raka!
Ya Allah.. aku menutup wajahku karena malu tertangkap basah sedang menikmati sentuhan mas Adzam.
" Ayo, nanti di lanjutkan lagi." Ucap Raka dari balik pintu.
Aku bergegas meraih tas ku dan meninggalkan mas Adzam yang masih bengong karena menahan sesuatu.
Aku turun kebawah, bergabung dengan keluarga yang lain. Aku tidak berani menatap wajah Raka. Karena perlakuan mas Adzam, hilang sudah wibawa ku fi mata Raka.
" Ya Allah, semoga Raka tidak berbicara pada mama ataupun pada Ririn." Ucapku dalam hati.
"Ayah mana bu?"
" Ehm, ayah masih diatas." Ucapku ragu-ragu.
" Itu ayahmu!" Mama menunjuk kearah tangga.
Mas Adzam berjalan dengan lesu. Dasar buaya darat!
Mas Adzam meninju pelan bahu Raka.
Sementara Raka cengengesan menertawai mas Adzam.
Kami masuk kedalam mobil masing-masing, Suasana masih hening. Aku membuang pandanganku kearah jendela kaca.
Sementara Tari asyik menikmati perjalanan ini. Ia tak tahu betapa rumitnya kehidupan yang terjadi di dalam rumah tangga kami.
*****
Setelah beberapa jam menempuh perjalanan,akhirnya kami tiba dirumah mama. Di kota ini aku pernah bahagia dan terpuruk.
Seorang wanita muda menyambut kedatangan kami.
Raka berpelukan dengan wanita itu, Oh ya itu kan istri Raka. Dulu aku sempat beberapa kali bertemu dengannya.
Aku bersalaman dengan istri Raka.
Ia memelukku erat, " Selamat datang mbak." Sapanya ramah.
Aku masuk kekamar kami dulu. Kamar yang pernah menjadi saksi air mataku. Kamar yang pernah menjadi saksi saat aku depresi, Kamar yang menjadi saksi saat aku merasa sepi. Tak banyak yang berubah. Bahkan baju ku masih tersusun rapi di lemari. Foto ku dan Tari terpajang rapi di meja kamar ini.
Huft! Begitu banyak kenangan yang menari-nari di kepalaku.
Mataku mengembun, membuat pandanganku rabun. Ada sesak yang menghimpit dadaku.
" Fi,"
Panggilan mas Adzam mengejutkanku.
Ku sembunyikan wajahku yang basah, aku tidak mau ia tahu apa yang kurasa.
Mas Adzam malah mendekatiku.
" Nangis?"
Belum sempat aku menjawab, ia menarik ku dalam pelukannya.
" Please, Jangan sedih!"
Terlalu sakit kah perasaanku, hingga aku masih menangis.
Mas Adzam mengusap bahuku berkali-kali, seolah-olah ia memberi kekuatan padaku.
__ADS_1
" Insya Allah,aku kuat mas." Ku lepas pelukan mas Adzam.
" Mandi biar fresh. Nanti kalau tidak capek, kita ajak Tari jalan-jalan sore." Mas Adzam mengusap pucuk kepala ku yang tertutup jilbab. Kemudian ia berlalu meninggalkan aku dikamar ini. Tak lupa ia juga menutup pintu kamar.
Belum sempat aku masuk kekamar mandi, kudengar suara mobil mas Adzam meninggalkan area halaman rumah mama.
Aku kembali mengelus dadaku. Sabar! Mas Adzam bukan milikmu. aku sibuk berbicara sendiri.
Selesai mandi aku memakai pakaian terbaikku, Tari juga sudah ku suruh mandi. Kini kami semua sedang berkumpul diruang keluarga. Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mas Adzam datang dengan Hanum.
Suasana kembali hening, dingin seperti salju.
Hingga mas Adzam memecah keheningan diantara kami.
" Afi, boleh kita pergi berempat sebentar?"
" Wanita sundel bolong itu ikut? gila kamu Zam?" Mama mulai meninggikan suaranya.
" Ma," Aku bangkit dan mulai bersiap-siap. Ini adalah waktu yang ku tunggu-tunggu."
Akhirnya setelah meminta izin sama mama kami pun berangkat.
Hanum mengambil duduk di bagian tengah bersama Tari. Aku tidak banyak bicara akhirnya aku duduk di samping mas Adzam.
Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit akhirnya kami sampai di sebuah Mall.
Mas Adzam menggandeng Tari, ia begitu sangat antusias melihat kemegahan Mall ini.
" Yah, ini namanya apa?" Tanya Tari kegirangan.
" Ini Mall sayang." Terang mas Adzam.
Kami masuk kedalam Mall, aku dan Hanum berjalan beriringan.
Mas Adzam sudah pergi bersama Tari. Kini tinggal aku dan Hanum.
Entah keberanian dari mana ia menarik tanganku dan duduk disebuah tempat makan dan minum.
Ia memesan dua jus jeruk dan dua piring nasi goreng.
" Fi," Panggil Hanum.
Aku hanya mendongak sebentar.
" Maafkan aku."
Aku masih diam, memberi kesempatan padanya untuk berbicara terlebih dahulu.
" Ada yang ingin aku beritahu padamu."
Ia berhenti sejenak. Dan sepertinya, ia butuh kekuatan untuk memulai pembicaraan ini.
Huft! Ia mencoba untuk rilexs.
" Fi, kembalilah dengan mas Adzam!" Pintanya.
Sontak mataku membulat. Bahkan aku yang sedang menyeruput jus jeruk hampir saja tersembur keluar dari mulutku.
" Aku akan mundur dari kehidupan mas Adzam." Ucapnya lagi.
Aku menatap wajah Hanum. Mencari kebenaran dan kesungguhan dari perkataannya.
" Aku mandul."
Hah!
__ADS_1