
Sementara Ririn dan Raka sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
Selesai makan aku melihat mas Adzam dan Hanum berdiskusi di ruang tamu.
Tidak ingin menambah rasa sakit hati, aku segera masuk kedalam kamar dan menutupnya. Tak lama kudengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah mama.
Aku berjalan kearah jendela. mas Adzam dan Hanum sudah pulang.
" Mas, setelah ada Bintari, tetap saja engkau tak bisa menolak permintaan Hanum. Ternyata cintamu lebih besar terhadap Hanum dari pada Bintari.
Aku memperhatikan wajah Bintari, bibirnya, hidungnya, ia lebih condong mirip mas Adzam.
" Jangan pernah sedih sayang, ada ibu yang selalu berada disamping mu." Bisikku di telinga Bintari.
Aku merebahkan tubuhku di samping Bintari.
Ada rasa lelahhingga mataku pun minta di pejamkan untuk sesaat.
Aku terbangun kala mendengar suara tangisan Bintari, mataku terbelalak kala melihat mas Adzam sudah membuatkan susu untuk Bintari.
Sejak kapan ia masuk kekamar ini? Bukankah ia sudah pulang sebelum aku memejamkan mata.
Aku mengusap wajahku, " Popoknya penuh mas?" Tanyaku basa basi.
" Tidak, sepertinya ia haus. Rak perlu membuat susu lagi mas, Bintari akan minum ASI."
Aku memberi tahu pada mas Adzam.
" Oh, maaf. Mas tidak tahu. Kalau begitu segera beri ASI mu pada Bintari, ASI lebih baik dari pada susy formula." Perintah mas Adzam.
Aku membawa Bintari dalam dekapanku. Aku menatap mas Adzam sejenak, ingin mengusirnya agar keluar dari kamar ini karena aku akan memberi ASI pada Bintari.
" Ayo segera! Bintari sudah haus." Ucap mas Adzam padaku.
" Tolong keluar sebentar,mas!"
Ia melotot padaku, wajahnya memerah karena ucapanku.
" Memangnya kenapa?"
Mas Adzam malah balik bertanya padaku.
" Aku tidak ingin kamu melihat aku menyusui Bintari." Jelasku lagi pada mas Adzam.
Setelah beberapa bulan tak bersama, seperti ada dinding diantara kami berdua.
Dengan wajah memerah ia keluar dari kamar. Aku mengunci pintu kamar agar merasa lebih aman.
Akhirnya aku bisa memberikan ASI pada putri kecilku, Bintari Iswara. Aku memperhatikan wajahnya yang gelagapan karena air susuku berlimpah.
__ADS_1
Kini ia sudah kenyang dan sudah tertidur kembali. Aku meletakkannya kembali di kasur empuk miliknya. Aku tidak ingin Bintari selalu di gendong, yang ditakutkan ia akan bau tangan dan selalu meminta di gendong.
Wajah polos ini tidur tanpa beban. Aku tersenyum sambil mengusap pelan pipinya.
Setelah memberi ASI pada Bintari entah mengapa aku begitu lapar. Apakah seperti ini jika sedang menyusui?
Aku membuka pintu kamar dan berjalan kedapur. Mas Adzam sedang memanaskan sesuatu. Sejenak aku berdiri mematung di depan pintu dapur. Memperhatikan semua gerak-gerik mas Adzam. Ia juga terlihat sedang menggoreng sesuatu.
Ia terkejut saat mendapati aku berada didapur.
" Eh, Afi. Mau apa?" Tanya mas Adzam.
Ia menghapus keringat di wajahnya dengan tangannya. Tampak ia kewalahan ketika sedang berada didapur.
" Mau makan?"
" Iya mas." Aku mengambil piring dari rak piring.
" Ehm, sayurnya belum masak. Kamu tunggu di kamar nanti makanannya mas antar."
"Memangnya Ririn kemana mas?"
" Ririn, mama dan Raka sedang kerumah nenek untuk beberapa hari ini. Jadi mas bertugas menjaga kamu dan Bintari." Ucap mas Adzam.
" Tunggu sepuluh menit lagi dikamar, mas akan datang membawa makanan untuk kamu.Oke?" iya mengedipkan matanya sebelah. Selanjutnya ia mendorong badan ku pelan untuk menjauh dari area dapur.
Kini aku sudah ada di kamar menunggui Bintari tidur.
" Makanan sudah siap.." Mas Adzam masuk kamar dengan tangan berisi nampan.
Aroma masakan mas Adzam membuat perutku semakin berisik.
Mas Adzam meletakan nampan berisi makanan diatas meja.
" Makan yang banyak ya!" Perintah mas Adzam.
Aku pun makan di depan meja rias.
Selera makanku begitu menggelora. Hingga aku menghentikan suapan di mulutku.
" Ada apa? Tidak enak?" Tanya mas Adzam penasaran.
" Sejak kapan kamu pandai masak mas?" Aku malah balik bertanya pada mas Adzam.
Ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia justru menggendong Bintari dan membawanya ke ruang keluarga.
Semenjak menikah denganku, tidak sekalipun mas Adzam kubiarkan untuk mengiris bawang di dapur. Apalagi sampai memasak. Selama bersama denganku, mas Adzam adalah raja bagiku. Sehingga semua keperluannya selalu aku persiapkan dengan rapi. sekarang?
Aku mempercepat makanku, habis tak tersisa sedikit pun.
__ADS_1
Nada dering ponsel mas Adzam berbunyi. Mas Adzam yang sedang bersama bintari seperti tak mendengar.
Diam-diam aku melongok kearah handphone mas Adzam. Ada namu Hanum terpampang di layar handphone. Ada tiga pesan di aplikasi berlogo hijau.
Dengan lancang aku membuka pesan itu.
Satu gambar sedang proses untuk di buka.
Dan begitu muncul, aku hanya bisa mengelus dada. Foto Hanum menantang dengan pakaian super tipis menampakkan belahan dada.
Aku sudah tidak terkejut lagi, aku juga sudah tidak marah lagi. Dan aku sekarang mengerti mengapa mas Adzam bisa melupakan aku dan keluarganya. Ternyata Hanum pandai menyenangkan bagian bawah perut mas Adzam.
Aku menutup kembali ponsel mas Adzam. Aku menyimpan piring kotor dan segera mencucinya bersama peralatan masak tadi.
Selesai, Aku segera mandi mumpung hari belum sore dan Bintari masih tenang dalam pangkuan ayahnya.
Aku menatap jam yang tergantung di dinding. masih pukul empat sore, Aku segera menyiapkan air hangat untuk memandikan Bintari.
Baju-baju Bintari juga sudah ku susun diatas tempat tidur agar nanti lebih mudah.
Setelah semua sudah beres ku persiapkan aku mengambil Bintari dari mas Adzam. Saat kulitku bersentuhan dengan mas Adzam, ada sesuatu rasa yang kurasakan.
Apa aku masih mencintainya?
Ah, aku berusaha membuang perasaan itu jauh-jauh. Mungkin aku hanya terbawa perasaan saja.
Aku menyibukkan diri agar tidak terlibat perasaan dengan mas Adzam.
****
Bintari sudah tidur, mas Adzam baru saja selesai mandi. Aku melihat penampilan mas Adzam jauh lebih buruk sekarang. Baju yang ia keluarkan dari tas pun nyaris seperti rambut habis di rol atau lebih ekstrimnya seperti baju yang habis di makan sapi.
Apakah Hanum tidak mengurus mas Adzam dengan baik? Mas Adzam sedang duduk di depan televisi. Ditangannya terdapat sebuah rokok yang sedang menyala. Sejak kapan mas Adzam menjadi perokok? Apakah ia sedang suntuk? Dari tempat aku duduk, tampak ia sudah habis beberapa batang rokok.
Aku memilih berbaring di samping Bintari. Selimut sudah kutarik menutup tubuhku. Mataku juga mulai terpejam.
Sayup-sayup terdengar langkah kaki mas Adzam memasuki kamar kami.
" Fi... Sudah tidur?"
Aku yang belum nyenyak seketika membuka mata.
" Boleh kita ngobrol sebentar?"
Aku bangun dari tidurku. Duduk di samping mas Adzam.
" Ada apa mas?"
Mas Adzam menggenggam tanganku erat,
__ADS_1
" Bisakah kita seperti dulu lagi?"