
Balasan pesan datang lagi dari Hanum, masih sama sebuah foto. Aku kembali membuka foto tersebut. Kedua bola mataku hampir melompat dari tempatnya saat menyaksikan foto kiriman Hanum yang kedua. Pose kedua jauh lebih menantang. Jiwa lelakiku kembali berontak.
Hanum begitu liar untukku. Lebih tepatnya, Binal. Aku masih memperhatikan foto nakal Hanum sampai aku di kejutkan oleh suara, " Mas sudah lama?"
Aku tidak sadar jika Afi sudah bangun. Sejak kapan ia memperhatikanku? Aku menjadi serba salah. Aku berusaha tenang menghadapi Afi. Entah dapat dari mana ilmu seperti ini. Yang jelas, semenjak aku beristri dua, aku menjadi lebih lihai berbohong.
" Fi, sudah bangun dari tadi?" Handphone di tangan ku letakkan di atas meja. Aku mendekatinya.
" Barusan, mas." Ia tersenyum manis padaku.
Kriett.. Pintu terbuka, seorang perawat masuk kedalam ruangan kami.
" Maaf pak Adzam, bapak di panggil dokter." Ucap perawat tersebut.
" Baik Sus, saya akan segera ke ruangan pak dokter." Aku pun segera bergegas keluar untuk menemui dokter Reyhan yang menangani Afi.
Tok.. tok..tok..
Akue mengetuk pintu ruangan dokter Rayhan.
" Masuk!" Terdengar suara dokter Rayhan dari dalam.
Aku pun segera masuk, tak lupa aku menjabat tangan dokter muda di hadapanku ini.
" Pak Adzam?"
Dokter muda itu melepas kacamata nya.
" Anda suaminya?" Tanya dokter Rayhan lagi.
Pertanyaan yang aneh menurutku, " Iya dok." Jawabku singkat.
" Pak Adzam, kondisi ibu Afi sangat lemah. Sangat rawan juga untuk kondisi janin di dalam kandungannya. Tolong ibu Afi di dampingi, di temani agar tidak semakin depresi. Jika ada masalah yang sangat berat tolong segwra diselesaikan." Pesan dokter Rayhan padaku.
Aku hanya mengangguk setelah selesai aku segera keluar dari ruangan dokter Rayhan. Aku duduk sejenak di bangku rumah sakit ini.
Bukan saja tubuhku yang lelah, pikiranku pun lelah menjalani kehidupan ini. Aku berniat ingin menelpon mama, kuraba kantong mencari handphone namun tidak kutemukan. Dimana handphone ku? Aku mencoba mengingat-ingat. Seketika aku berlari keruangan Afi, Handphone ku tertinggal di meja. Kalau sampai Afi melihatnya bisa gawat.
Aku segera membuka pintu kamar, kudapati Afi sedang memegang handphone ku.
**********
Kembali ke pov Afi ya teman-teman.
Hari ini mas Adzam berpamitan untuk berangkat ke kantor. Aku hanya mengiyakan saja, bagaimana juga mas Adzam masih punya tanggung jawab.
Mas Adzam berjanji akan segera pulang jika sudah selesai bekerja.
Aku merasa bosan berada di rumah sakit, aku ingin segera pulang dan beristirahat di rumah.
Hari sudah siang, aku mencoba menelpon mas Adzam. Aku ingin makan bakso mercon tang besar. Ah, membayangkannya saja air liur ku sudah ingin menetes.
__ADS_1
Puluhan kali panggilan telepon ku tak di jawab oleh mas Adzam. Sedang apa kamu, mas? Pikiran ku kembali suntuk.
Apa kamu sedang bercumbu dengan Hanum? Ya, feeling ku mengatakan seperti itu.
Hingga sore, mas Adzam menelponku balik. Aku malas-malasan untuk berbicara dengannya.
Sementara mama pamit pulang untuk berganti baju.
Saat aku tertidur, mas Adzam sudah datang.
Aku terbangun, namun aku hanya diam. Aku memperhatikan mas Adzam yang masih senyum-senyum menatap layar handphonenya. Apakah ia sedang berkirim pesan dengan Hanum?
Ia terkejut saat aku memanggilnya. Ia meletakkan handphone nya di atas meja, lalu mendekatiku. Tiba-tiba seorang suster datang memanggil mas Adzam, Ia pergi menemui Dokter Rayhan.
Aku kini kembali sendiri, namun aku menatap benda tipis berwarna hitam di atas meja.
Handphone mas Adzam? Hatiku sedikit riang. Dengan susah payah aku mendekati meja itu untuk mengambil handphone mas Adzam.
Aku mulai mencek aplikasi berlogo hijau itu.
Ada nama Hanum di peringkat pertama pesan mas Adzam.
Dengan tangan bergetar aku membuka pesan dari Hanum. Mataku hendak loncat dari kelopaknya, Foto Hanum terpampang menantang. Badanku bergetar, air mataku menetes dengan deras. Emosiku memuncak, ingin rasanya berteriak.
Mas Adzam masuk keruangan kamar ku dengan tergesa-gesa, napasnya ngos-ngosan seperti habis berlari berkilo-kilo.
Ia berdiri termangu di depan pintu, matanya menatap kearah tanganku. Aku tersenyum sinis.
Ia mendekatiku hendak merampas handphone yang ada di tanganku.
" Mau ini?"
Brugh! aku melemparkan handphone mas Adzam ke dinding. Handphone itu hancur lebur terlepas menjadi beberapa bagian.
Mas Adzam tampak berang. Ia menarik rambutnya berkali-kali.
" Itu yang kamu sukai?" Tanyaku menyindirnya.
" Dia istriku juga, kami sah secara agam dan negara." Ucap mas Adzam.
Oh! Aku menutup mulutku. Sakit yang kurasakan begitu amat menyayat. Melihat suamiku membela madunya.
" Dia istriku juga, punya hak yang sama antara dia dan kamu. Kami menikah pun atas persetujuan mu. Ada tanda tanganmu tertera di atas materai." Ucap mas Adzam pelan, namun menusuk ke jantungku.
" Pergi dari sini!" Aku setengah berteriak.
" Pergiiiiii!!!" Aku mengamuk seperti orang yang kesetanan.
Aku memukul mas Adzam berulang kali, ia tak melawan.
" Ada apa ini?" Mama berlari kearahku yang masih kesetanan. Mas Adzam meminta bantuan suster dan dokter.
__ADS_1
" Pergi!!" ucapku keras
Aku disuntik obat penenang oleh dokter. Seketika tubuhku lunglai. Mataku gelap. Aku tertidur.
*****
Setelah beberapa jam aku mulai siuman. Mama sedang duduk disamping mas Adzam. Mereka menatapku berdua. Apa mama marah padaku?
" Ma?" Aku memanggil mama.
Mama mendekatiku.
" Ada apa?" Mama mengusap kepalaku.
" Afi mau pulang, ma!" Air mataku kembali menetes. Sakit rasanya kembali mengingat perkataan mas Adzam, apa lagi mengingat foto Hanum.
" Iya kita akan pulang, tapi kamu tunggu sehat dulu, sayang..." Ucap mama lembut.
Diluar dugaanku, mas Adzam mendekatiku. Ia ingin meraih tanganku. Namun aku menolaknya.
" Jangan sentuh!" Aku menatap tajam mas Adzam.
" Jangan sentuh aku!" Kembali ku tekankan suaraku.
" Pergi dari sini!" Usir ku pada mas Adzam.
" Maafkan mas, Fi!"
Tiba-tiba Dokter Rayhan masuk keruangan ku.
" Dok, saya mau pulang hari ini." Ucapku tanpa basa basi.
" Ibu belum boleh pulang, Keadaan ibu belum pulih." Jawab Dokter Rayhan.
" Dok, please! Saya sudah merasa baikan, saya ingin istirahat dirumah.
Dokter Rayhan, mas Adzam dan mama saling berpandangan
Tanpa menunggu lama aku mulai mencabuti selang infus yang ada di tanganku.
" Fi." Mas Adzam memegang tanganku.
" Jangan pegang!" Aku menatap tajam mas Adzam.
Aku mulai membereskan semua perlengkapan yang ada di kamar ini. Tak lupa aku memesan taksi online.
Setelah semua administrasi selesai aku berjalan keluar membawa perlengkapanku.
Mama berkali-kali melarang ku pergi.
" Ma, Afi butuh waktu untuk sendiri." Ucapku sambil menghapus air mataku.
__ADS_1