Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 27


__ADS_3

Kami sempat melakukan USG, kata Dokter Rayhan janinku masih sehat. Aku hanya terlalu banyak pikiran. Akhirnya atas saran dari Dokter Rayhan aku harus menjalani bed lrest selama satu minggu. Tanpa membantah mas Adzam menyetujui saran dari Dokter Rayhan. Mas Adzam segera menghubungi mama dan adik-adiknya.


Setelah Dokter Rayhan pergi, Mas Adzam mendekatiku, " Apa yang menjadi pikiranmu Fi? Bukannya kita sudah sepakat bahwa antara Mas dan Hanum sudah tidak ada hubungan apa-apa." Ucap mas Adzam.


Aku tidak menanggapi ucapan mas Adzam, Aku membuang pandanganku, rasa percayaku belum pulih untukmu mas.


Sepanjang kami berdua di ruangan rumah sakit, aku hanya diam. Begitu pun dengan


mas Adzam.


****


Mama datang dengan wajah penuh kepanikan, " Ada apa lagi? Kenapa harus masuk rumah sakit?"


Aku tidak menanggapi ucapan mama, hatiku sedang lelah. Hanya air mata saja yang menjawab pertanyaan mama.


Mas Adzam pun tak juga memberi keterangan. pada mama. Ia hanya menangkup kan tangannya di wajahnya. Entah apa yang di pikirkan.


Saat suster masuk ke ruangan ku, mama bertanya tentang keadaan ku.


" Ibu Afi harus bed rest ya buk? Sepertinya sedikit stres." Ucap suster pada mama.


Mama menutup mulutnya, ada keterkejutan di wajahnya.


Dan ini malam pertama kami di rumah sakit.


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Mama seperti orang yang sedang kelelahan. Selesai menjalankan shalat isya mama langsung tertidur. Sementara mas Adzam masih bermain dengan ponselnya.


" Maafin Afi ya, ma." gumamku dalam hati.


Seharusnya aku tidak menyusahkan mama di hari tuanya.


Karena tidak bisa tertidur, akhirnya aku bermain ponsel. Menjelajah dunia Maya, Mulai dari logo biru, logo hijau, akun tok tok juga logo pink kemerahan.


Bahkan aku masih menonton mereka tang sedang live baju. Aku bahkan masih sempat-sempatnya memesan tiga setel daster.


" Fi, belum tidur?" Tanya mas Adzam dari seberang tempat tidurku.

__ADS_1


Aku hanya menggeleng, rasa didadaku masih saja sebal lihat mas Adzam.


" Tidurlah, istirahat! Biar kamu cepat pulih." Mas Adzam mendekatiku dan kini duduk di pinggir ranjang. Ia mengambil ponselku, dan meletakkannya di atas meja.


Ia menggenggam tanganku, " Sehatlah, jangan banyak-banyak pikiran. Demi buah hati kita." Ucap mas Adzam lagi.


Aku menatap mata mas Adzam, mencoba mencari kebenaran. Apakah ia benar-benar sayang padaku seperti dulu? Tapi pada dasarnya aku tidak bisa menjawab pertanyaan ku sendiri.


Aku mengubah posisi badanku, membelakangi mas Adzam.


Ku pejamkan mata, namun tak jua tertidur.


Mas Adzam menutup tubuhku dengan selimut. Ia bangkit dari bibir ranjang yang ku tempati.


Aku masih pura-pura tertidur hingga terdengar bunyi handphone mas Adzam. Semalam ini? Siapa yang menelpon? Pentingkah? Aku menajamkan pendengaran ku.


" Besok pagi saja sekalian mas berangkat bekerja." Ucap mas Adzam pelan, bahkan suaranya seperti berbisik.


Seketika hatiku diliputi api cemburu yang membara. Aku menatap mas Adzam, ia tampak terkejut melihat aku yang ternyata belum tidur. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya.


Ia berbaring di dekat mama, lalu terdengar dengkuran halus yang mengartikan kalau mas Adzam sudah tertidur.


****


Mas Adzam sudah berdiri di sampingku, " Yang, mas mau pulang. Kamu sama mama dulu ya?"


" Iya mas." Aku menyunggingkan senyum tipis pada mas Adzam.


" Nanti kalau sudah kelar kerjanya, mas langsung datang kesini." Mas Adzam mulai mengumpulkan pakaian kotor yang mau di bawa pulang.


" Tolong di laundry saja pakaiannya mas." Aku meminta tolong pada mas Adzam.


Ia hanya mengangguk dan mencium keningku lalu pergi meninggalkanku.


*****


Pov Adzam

__ADS_1


Aku tidak mengerti dengan takdir yang harus kujalani, terlalu rumit.


Mengapa setelah aku berbagi kebahagian, berbagi cinta, berbagi selimut dengan wanita lain, baru Allah kasih rezeki untukku dan Afi.


Ada rasa terkejut, bingung, dan senang yang menyatu pada diriku ketika mendengar Afi hamil. Sujud syukur pun ku lakukan. Afi sudah hamil sekitar 12 minggu.


Ia tidak mengalami mual dan muntah. Justru nafsu makannya semakin meningkat.


Hal yang fatal ku lakukan adalah saat kami mengadakan syukuran di rumah, Afi memergoki aku dan Hanum berada dalam satu ruangan yaitu di kamar pribadi kami. Hanum yang hanya menggunakan handuk setengah badan dan membiarkan bahu juga pahanya terbuka, membuatku sebagai laki-laki menjadi tergoda untuk sekedar mencicipi ranumnya bibir Hanum juga wanginya aroma tubuhnya Hanum.


Hanum memang pandai menggodaku.


Seketika Afi masuk kekamar pribadi kami. Ia tertegun melihatku dan Hanum. Padahal kalau difikirkan tidak ada yang salah karena Hanum juga adalah istri sah ku.


Sejak kejadian itu Afi seperti orang yang depresi. Ia tidak siap melihat aku dan Hanum bermesraan. Aku ketakutan saat mendapati bajunya sudah basah dengan darah. Ia juga sesekali seperti orang gila, sebentar sudah menangis, sebentar sudah tertawa. Ada perasaan bersalah yang menghujam jantungku.


Aku segera mengabari mama perihal Afi yang depresi. Aku pun menjadi sasaran omelan mama dengan kejadian Afi.


Akhirnya atas persetujuan mama dan Afi aku akan bercerai dengan Hanum. Walau berat rasanya untuk melepas Hanum.


Dan tadi pagi adalah titik terendah dari Afi, ia pendarahan hebat, Teriakannya pagi-pagi membuat aku bangkit dari kamar tidur.


Dengan sigap aku langsung membawa afi kerumah sakit. Afi butuh penanganan Dokter.


Kini Ia terbaring di rumah sakit. Untungnya janin kami masih bisa di selamatkan. Butuh perjuangan sekali untuk mempunyai buah hati.


Pagi ini aku harus berangkat kerja karena ada meeting mendadak. mau gak mau aku harus minta izin sama Afi untuk meninggalkannya.


Tapi pagi ini membuat aku kembali bimbang, Hanum memintaku untuk datang kerumahnya. Dan aku tak kuasa menolak pesonanya. Hanum memang menggoda. Kini aku sudah membuat janji akan menemui Hanum setelah pulang kerja.


Aku sendiri tidak konsen memimpin rapat pagi ini. Selain memikirkan Afi, aku juga memikirkan Hanum. Ada rasa rindu karena sudah beberapa hari tidak bertemu.


Rapat sudah selesai, Jam didinding menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya istirahat. Aku meminta izin untuk pulang lebih awal. Rencana ku siang ini adalah bertemu dengan Hanum, rindu dengan masakan nya.


Aku melaju kan mobil sport ku ke arah rumah Hanum, Aku sudah tiba di depan rumah nya.


Hanum sedang berada di teras rumah, rambut panjang hitam bergoyang di terbang kan angin. Senyum manis terpancar di wajahnya. Aku mendekatinya, ia menyambutku. Tanpa malu oleh tetangga ia memelukku erat-erat, " Rindu!" Ucapnya manja.

__ADS_1


" Sama sayang." Aku membawanya masuk kedalam rumah.


__ADS_2