Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 43


__ADS_3

Aku memilih berbaring di samping Bintari. Selimut sudah kutarik menutup tubuhku. Mataku juga mulai terpejam.


Sayup-sayup terdengar langkah kaki mas Adzam memasuki kamar kami.


" Fi... Sudah tidur?"


Aku yang belum nyenyak seketika membuka mata.


" Boleh kita ngobrol sebentar?"


Aku bangun dari tidurku. Duduk di samping mas Adzam.


" Ada apa mas?"


Mas Adzam menggenggam tanganku erat,


" Bisakah kita seperti dulu lagi?"


Kami saling menatap, mencari sisa cinta yang pernah ada.


" Andai dulu mas bisa lebih tegas menolak permintaan kamu untuk menikah dengan Hanum, mungkin sekarang mas tidak akan kehilangan momen emas saat kamu hamil Tari."


Ada begitu banyak sesal mendalam pada ucapan mas Adzam.


" Mas menyesal,Fi."


Mata mas Adzam mulai berkaca-kaca.


" Apa Hanum tidak mengurus mu dengan baik mas?" Aku mencoba mengorek kehidupan mas Adzam dengan Hanum.


Bukannya menjawab pertanyaan ku, ia malah melepas genggaman tangan kami.


Ia berjalan kearah tas hitam diatas meja. Ia mencari sesuatu, dan sepertinya sudah menemukan.


Mas Adzam berbalik kearahku. Tangannya tampak menggenggam sesuatu.


" Coba kamu nilai, seberapa perduli ia pada mas?"


Mas Adzam memamerkan sebuah celana d*l*am miliknya.


Aku tidak bisa menahan tawa saat mas Adzam meregangkan celana itu. Bahkan tawaku sempat membangunkan Bintari yang sedang tertidur.


Aku menutup mulutku, agar tawaku bisa di redam.


Mas Adzam membiarkan tawaku menghilang dengan sendirinya. Ia duduk santai disampingku.


" Sudah selesai tertawanya?" Tanya mas Adzam.


" Sudah " Aku sesekali memegang perutku katena terlalu lama tertawa.


" Mas senang kamu bisa tertawa lepas lagi."


" Kamu tidak pulang mas? Hanum sudah memberi kode kan?"


Mas Adzam menatap dalam," kamu memeriksa ponsel mas?" Tanya mas Adzam.

__ADS_1


Aku hanya cengengesan," Sesekali bolehlah." Aku membela diri.


" Dulu mas tidak pernah memakai celana d*l*m seperti itu, karena kamu selalu siap siaga. Sekarang mas harus pakai, karena semua nasibnya seperti itu. Hanum hanya perduli pada dirinya sendiri. Mas juga sering malam-malam masuk kedapur, masak apa yang ada di dalam kulkas, karena mas sering kelaparan. Mau gak mau mas belajar masak."


Ya Allah... Sedih rasanya mendengar penuturan suamiku. Ku pikir ia bahagia dengan Hanum, ternyata hidupnya jauh lebih menderita.


" Mas sering teringat kamu, mas rindu kamu, saat sama kamu, mas gak pernah kelaparan. Rumah rapi, baju rapi, lemari rapi, sulit mas katakan semuanya."


" Lalu mengapa mas tak pulang saja kerumah mama?"


" Mas selalu ingat kemarahan kamu." Jawabnya singkat.


Ia menatap langit-langit kamar ini, " Bisakan kita kembali lagi?" Pinta mas Adzam memohon.


" Aku tidak bisa kembali kerumah itu mas." Ucapku lagi.


" Kita tidak perlu tinggal dirumah itu lagi, jual saja rumah itu. Bila perlu kita pindah dari kota ini. Memulai hidup baru, lingkungan baru. Bertiga bersama Bintari. Jika kamu mau, mas akan secepatnya resign dari pekerjaan dan segera menceraikan Hanum."


Mataku terbelalak mendengar semua rencana mas Adzam. Apakah semudah itu bisa lepas dari Hanum?


" Tidak bisa semudah itu mas?"


" Jika ada kemauan dan niat, Insya Allah batu rintangan akan bisa kita lewati bersama."


Entah mengapa rasa percaya ku terhadap mas Adzam runtuh sudah. Ia bulan lagi tipe suami idolaku. Apalagi semenjak aku memergoki mereka berdua bercinta di kamar pribadi kami. Bisa saja ia akan kembali mengulangi momen menyakitkan itu.


" Tidurlah mas, aku butuh waktu untuk memikirkan semua ini. Aku juga butuh waktu untuk menyembuhkan luka ku yang terlanjur menganga." Aku meninggalkan mas Adzam, memilih berbaring di samping Bintari. Aku masih lelah untuk membahas rumah tangga kami.


Mas Adzam memindahkan Bintari ke sampingku, Selanjutnya ia merebahkan dirinya disampingku. Ia tak perduli pada dorongan ku agar menjauh. Justru tangannya malah melingkar di pinggangku.


Ucap mas Adzam.


Dan malam ini kami seperti mengulang waktu beberapa bulan yang lalu saat kami menjadi suami istri yang harmonis. Sekarang rumah tangga kami sedang di landa badai angin ****** beliung.


****


Kini usia bintari sudah dua minggu, ini waktunya mas Adzam pulang. Mungkin sebentar lagi aku akan merasa kehilangan mas Adzam. Selama ini aku menikmati peran mas Adzam sebagai suami juga ayah yang baik untuk Bintari.


Aku melepas kepergian mas Adzam dari balik jendela kamar. Sebentar lagi ia pasti akan lupa dengan kami.


Sepi, itu yang kurasa. Padahal rumah ini ramai oleh celoteh Tante Ririn dan Om Raka.


Bintari sedang di jaga oleh mama, aku memulai aktivitas ku sebagai ibu rumah tangga, aku mencuci pakaian Bintari agar nanti bisa kering. Dan ini adalah aktivitas pertamaku setelah melahirkan.


Saat sedang menjemur pakaian Bintari, aku di kejutkan oleh teriakan mama memanggil namaku.


" Afi... Afi..."


Aku yang merasa terkejut, hingga berlari menjumpai mama.


" Ada apa ma?"


" Adzam, Fi.."


Aku mulai panik, seperti terjadi sesuatu pada mas Adzam.

__ADS_1


" Adzam kecelakaan." Ucap mama lagi.


Kaki terasa lemas mendengar berita itu.


Raka dan Ririn sudah bersiap-siap hendak menyusul mas Adzam.


" Mbak ikut." Pintaku pada mereka.


" Mbak dirumah saja, tunggu kabar dari kami." Ucap Raka melarang ku.


" Tapi..."


" Fi, kamu jaga Bintari saja dirumah. Kasihan dia nanti kecapekan nanti malah sakit.


" Tapi ma.. ayahnya kecelakaan!"


" Doain saja supaya Adzam sehat selamat." Ucap mama.


Aku mengangguk saja melepas kepergian keluarga mas Adzam.


" Ya Allah lindungi mas Adzam, lindungi ayah Bintari ya Allah..." Aku berdoa dalam hati.


*****


Hari sudah hampir sore, namun aku belum mendapat kabar dari mama.


Bintari juga satu hari ini terlihat sangat rewel sekali. Apakah ia merasakan apa yang ayahnya rasakan saat ini?


Aku berusaha membuat Bintari nyaman. Namun ia tak juga bisa tidur nyenyak.


Saat sedang menggendong Bintari di teras rumah, ada sebuah mobil masuk dipekarangan rumah mama.


" Itukan mobil Raka, apa mas Adzam sudah sehat?"


Aku tidak sabar menunggu Raka keluar dari mobil. Ternyata Raka hanya pulang sendiri saja.


Ia berjalan kearah ku, " Bagaimana kabar mas Adzam,Ka?"


" Mbak sekarang siap-siap ya. Kita kerumah sakit sekarang!" Titah Raka terburu buru padaku.


Tanpa banyak kata aku segera mempersiapkan semua kebutuhan Bintari.


" Ayo Ka!" Ajak ku tak sabaran.


Kini kami sudah diperjalanan. Kalau sudah sore begini pasti jalanan ini akan macet karena bertepatan dengan orang pulang kerja.


Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk bisa sampai kerumah sakit.


Raka membantu ku membawa perlengkapan Tari. Ia juga menggandeng tanganku agar bisa berjalan dengan cepat.


" Mas Adzam di rawat dimana,Ka?"


" Dilantai empat mbak."


Dari kejauhan aku melihat sosok mama yang sedak di peluk oleh Ririn. Di sebelah Ririn ternyata ada Hanum.

__ADS_1


Langkahku semakin dekat, " Apa yang terjadi dengan mas Adzam,ma?"


__ADS_2