
Ini pov Hanum ya teman-teman
Namaku Hanum, Aku seorang wanita yang menyandang gelar janda. Kehidupan percintaan ku tak selamanya bahagia.
Kehidupan rumah tangga ku yang pertama karam, suamiku ketahuan selingkuh dengan sekretarisnya. Pada saat itu aku sedang hamil empat bulan. Karena merasa stres dan depresi akhirnya aku mengalami keguguran. Dan mau tidak mau aku harus menjalani kuret. Bukan hanya tubuhku saja yang sakit, namun hatiku tak kalah perih. Demi bisa move on, aku memilih bercerai dengan suami pertamaku.
Tidak berselang lama, aku kembali menikah dengan seseorang yang usianya jauh lebih tua. Ia lebih cocok jika ku panggil kakek. Pria yang pernah menikah lima kali itu sudah mempunyai sembilan anak dan dua belas cucu. Aku yang pernah trauma menikah dengan pria yang sebaya dengan ku akhirnya tanpa pikir panjang menerima lamaran pria tua itu.
Ternyata penderitaan ku belum berakhir juga. Bahkan kali ini lebih parah. Aku harus berhadapan dengan kelima istrinya yang garang, aku juga harus berebut perhatian pada sembilan anak suamiku juga dua belas cucu suamiku. Miris sekali nasibku.
Tak jarang perkataan kasar di lontarkan oleh istri dan anak-anak suamiku. Aku bisa apa jika mereka main keroyok? Aku hanya bisa menangis di pojok kamarku yang gelap dan pengap. Dan kamarku lebih cocok jika di sebut gudang. Sedang suamiku yang tia itu tidak bisa membelaku di depan istri juga anak-anaknya.
Aku juga sering di paksa untuk meminum jamu buatan mereka, katanya agar aku bisa cepat hamil. Jika aku menolak untuk meminum, maka jangan harap aku akan mendapat jatah makanan dari mereka-mereka yang berkuasa.
Hingga suatu malam, ketika aku baru saja selesai meminum jamu ramuan dari istri suamiku. Perutku terasa mulas dan melilit. Aku merasakan badanku yang gemetar tak tertahankan. Yang paling mengerikan dalam hidupku adalah ketika darah segar keluar dari kemaluanku berbarengan rasa sakit di perutku yang tiada tara.
Dengan berjalan tertatih-tatih aku mencoba meminta pertolongan pada istri kedua suamiku. Cukup lama aku menggedor-gedor pintu kamarnya. Saat pintu terbuka ku dapati wajah masam darinya
" Ada apa?" Tanya istri kedua suamiku.
" Mbak.. t- tolong saya!" Aku sudah tak sanggup berbicara. Rasanya semua yang ku pandang sudah berubah warna menjadi gelap.
Detik berikutnya aku sudah terjatuh di depan pintu kamar istri kedua suamiku.
__ADS_1
Hanya terdengar samar-samar suara kepanikan dari mereka-mereka, entah siapa saja. Yang kurasa saat itu tubuhku terasa di gotong dan di bawa menggunakan mobil.
****
Mataku terbuka, Aku ada di ruangan serba putih tanpa siapa-siapa. Aku mencoba bangkit dari tidurku, namun rasa sakit di perutku mencegah aku untuk bangkit.
Rasa penasaran jauh lebih besar dari pada rasa sakit yang ada di perutku. Aku meraba perutku yang terasa sakit. " Ada apa dengan perutku?" Gumamku dalam hati. Aku kembali mencoba mengingat-ingat semua yabg terjadi malam itu, tapi nihil aku tidak ingat apa-apa.
Saat aku sedang sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba datang seorang perawat yang akan men cek keadaanku. Tanpa buang waktu aku pun bertanya pada perawat tersebut.
" Sus, apa yang terjadi dengan saya? Mengapa perut saya terasa sakit?" Aku mencoba bertanya pada suster yang ada fi kamarku.
Ia tersenyum ramah, " Sabar ya bu, ibu baru saja melakukan pengangkatan rahim."
" Ibu, ibu yang tenang ya... Jangan terlalu banyak bergerak, nanti lukanya akan terasa sakit." Ucap suster itu mencoba menenangkan aku.
" Sus, siapa yang mengizinkan rahim saya untuk di angkat?" Aku mulai menangis sejadi-jadinya.
Namun belum sempat suster itu menjelaskan padaku, masuklah tiga istri tua suamiku keruangan tempat aku di rawat.
Seperti paham, tanpa perintah suster itu meninggalkan ku tanpa menjelaskan sesuatu padaku.
Aku masih menangis sesenggukan, menahan suara agar tidak keluar.
__ADS_1
Mereka menghampiriku, tersenyum penuh angkuh, " Dari awal aku dan istri-istri suamiku menolak kehadiranmu di dalam istana kami. Namun kau menantang kami dan tetap melanjutkan pernikahan mu dengan suami kami. Itu artinya, kau membangunkan singa yang sedang tidur. Kami tak langsung menghabisi mu, tapi pelan-pelan kamu akan mati. Kau berada disini, ini masih permulaan. Bukan hanya rahimmu yang hilang, kaki, tangan bahkan matamu pun saja bisa hilang." Istri pertama suamiku mencengkeram mulutku dan meludahinya. Sedangkan istri kedua, ketiga dan ke empat tertawa terbahak-bahak e
menertawakan ku.
Tugas istri kelima adalah mengeluarkan uang ratusan bekisar dua juta. Ia memukulkan uang itu ke wajahku berkali-kali, " Pergi dari hidup kami, tempatmu bukan disini! Jangan coba-coba lapor polisi, jika kau tak ingin berada didalam jeruji besi!" Ancamnya padaku.
Setelah puas memaki ku, mereka keluar meninggalkanku sendirian.
Pedih rasa hatiku bagai luka yang disayat dan di beri taburan garam. Aku menangis tersedu-sedu menghadapi takdir hidupku yang luar biasa mengerikan. Bahkan di detik seperti ini, Dia suami tuaku tak hadir walau hanya sekedar mendampingiku. Benar kata mereka, jika istana itu tidak pantas untukku, istana mereka bukan tempat yang nyaman untuk ku naungi. Istana mereka bukan tempat yang ku rindukan untuk pulang.
Kini tekad ku sudah bulat, setelah nanti kondisiku membaik, aku takkan kembali muncul di hadapan mereka jika masih ingin menghirup udara yang bebas.
***
Ini adalah hari ketiga aku du rawat di rumah sakit, Aku sudah mulai belajar berjalan. Dan kata suster, luka di bagian perutku sudah membaik. Semua biaya administrasi sudah di selesaikan oleh istri-istri suamiku.
Aku hanya menunggu keputusan dokter nanti sore. Namun ada kebingungan yang menjalar di hatiku, jika pulang nanti akan dimana aku tinggal? Aku sama sekali tidak paham dengan daerah disini. Aku kembali mengutuk nasib ku yang terombang-ambing bagai kapal di hantam ombak di lautan.
Sekitar pukul tiga sore, atas persetujuan dari dokter akhirnya aku sudah boleh pulang. dan kembali kontrol satu minggu kedepan. Aku memberesi barang-barang ku sendiri. Aku membuka isi tas yang di bawa oleh mereka kemarin, Ternyata mereka tetap membawakan ijazahku di dalam tas. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur, Kupikir mereka akan membakar barang berharga milik ku satu-satunya.
Aku menyeret tas yang berisi pakaian kumal milikku.
Aku masih berdiri di depan rumah sakit karena tak punya tujuan pasti. Jika mencari kontrakan, aku takut karena hari sudah terlalu sore. Akhirnya ku putuskan untuk bermalam di hotel kelas melati saja. Yang paling penting malam ini aku aman dan bisa tidur nyenyak sejenak..
__ADS_1