Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 7


__ADS_3

Dari kejauhan, tampak mas Adzam berjalan.


Ada rasa ngilu di dadaku melihatnya seperti itu. Sebentar lagi ia akan membagi waktu untuk sarapan denganku.


" Assalamu'alaikum sayang.." Sapanya.


" Waalaikumsalam mas." Aku masih melanjutkan aktivitas menyiram tumbuhanku .


" Banyak yang layu ya yang.." Mas Adzam membantuku membuang dedaunan yang sudah kering.


" Iya mas, sama kayak yang punya ya.." candaku.


" Yang punya masih seger lah, mungkin ini akibat yang punya banyak pikiran ya yang."


Tebakan mas Adzam benar, akhir-akhir ini pikiranku memeng sedang kacau balau.


" Yang.. airnya tumpah tuh ketanah." Mas Adzam dengan sigap mengambil gembor ( wadah penyiram tanaman) yang ku pegang.


Ya Allah... sempat-sempatnya aku melamun. Aku duduk di kursi. memijat keningku, seraya menghirup napas panjang. Ada apa denganku?


Mas Adzam mendekati ku.


" Kenapa? Kamu sakit?" Ia memegang keningku.


" Aku gak papa mas, hanya kepikiran sama mama."


Dari tadi malam aku kepikiran mama.


" Ini pertama kali mama kecewa berat denganku. Dan ini adalah pertama kali mama marah padaku. Mas, aku minta pendapatmu, salahkah rencana ku ini?" Aku menatap matanya, meminta pendapatnya.


" Entahlah mas juga bingung." Mas adzam membuang wajahnya, tak mau menatapku.


" Sudahlah kita serahkan saja pada Allah. Jadi semalam apa keputusan Hanum?"


" Ia meminta waktu satu minggu untuk berpikir. " Jawabku.


Ting...ting... Ting...


terdengar suara khas dari penjual bubur ayam.


Aku memanggilnya dan menyerahkan dua mangkok kosong pada abang penjualnya.


Setelah membayar bubur, aku masuk kedalam dan meletakkannya di atas meja makan.


Mas Adzam sedang berpakaian mau berangkat kerja.


Sambil menunggu mas Adzam, aku membuat teh manis hangat


Setiap pagi ia wajib meminum satu gelas teh manis hangat yang tidak terlalu manis.


Aku mengutak-atik handphone ku sembari menunggu mas Adzam.


Pintu kamar terbuka, Mas Adzam keluar dengan pakaian yang sudah rapi.


" Ganteng banget mas..!"


" Iya dong.. kalau mas gak ganteng kamu gak bakalan mau sayang.." Ia menowel dagu ku setelahnya duduk disampingku.


Kami makan bersama, " Enak juga ya yang pagi-pagi sabu."


Aku tersedak batuk. " minum yang!" mas Adzam menyodorkan satu gelas air putih


" Sabu apaan sih mas?" Tanyaku sambil mengelap mulut.

__ADS_1


" Sarapan bubur yang.." Ia tersenyum menampilkan giginya yang putih.


" Oh, Kirain narkoba." Jawabku singkat.


Akhirnya kami selesai makan. Mas Adzam sedang bersiap-siap, aku mengambil tas kerja milik mas Adzam.


" Kerja dulu ya, baik-baik dirumah ya..!" Pesannya.


Aku mengangguk, memeluknya erat. Mas Adzam mencium keningku.


" Hati-hati ya mas!"


Ia pun berlalu meninggalkanku.


Aku melambaikan tanganku hingga ia hilang dari pandanganku.


Aku pun segera beberes rumah. Rencananya hari ini aku ingin mengunjungi mama.


Ku mulai dengan menyapu rumah, mencuci piring dan menyuci pakaian.


Huft..!


Akhirnya siap juga pekerjaan ini. Aku bergegas mandi dan berdandan ala kadarnya.


Celana kulot hitam ku padukan dengan kemeja bermotif bunga dan jilbab senada.


Tak lupa aku mengunci pintu.


Aku mengeluarkan motor matic dari garasi.


Motor jaman mas Adzam kuliah dulu masih bagus. Motor penuh kenangan kami berdua.


Motor yang sering membawa kami jalan-jalan, kadang-kadang sudah kehujanan dan kepanasan.


Dan aku seperti rindu masa-masa itu.


Rumah ku dan mama hanya berbeda kompleks. Mama di kompleks A sedang aku ada di kompleks C.


Sekitar sepuluh menit aku sudah sampai di rumah mama.


Aku mengetuk pintu rumah mama, namun tidak ada yang membuka. Aku mengeluarkan kunci cadangan rumah mama.


Pintu terbuka, tapi suasana rumah ini sepi.


" Ma..." Panggil ku setengah berteriak.


Aku berjalan menuju dapur tapi nihil, aku tidak menemukan mama.


Kemudian aku menuju kamar mama, ku ketuk pintu.


Seperti ada suara, " Ma.." panggilku.


" Masuk!" Ada sahutan dari dalam kamar mama.


Aku mendorong pintu, ku lihat mama ada dalam gulungan selimut.


" Mama sakit?" Aku mendekati mama dan memegang keningnya agak terasa hangat.


" Mama cuma gak enak badan aja. Kepalanya teras pusing." Ucap mama lemah.


" Mama uda makan?" Tanyaku.


" Uda tadi pakai bubur ayam di beliin Ririn."

__ADS_1


" Ma, maafin Afi ya... gara-gara Afi mama sakit. Mama pasti kepikiran sama rencana Afi ya..." Ada perasaan menyesal karena sudah membebani pikiran mama dimasa tuanya.


" Maafkan mama juga yang tidak mengerti perasaan mama. Sekarang semuanya mama pasrahin sama kamu, mudah-mudahan pilihan kamu dan rencana kamu baik untuk kita semua dan tidakbuat kamu menjauh dari keluarga ini. Ucap mama mengusap tangan ku lembut.


Kebaikan ibu mertuaku memang tidak ada tandingannya.


" Jadi kapan kamu akan bertemu Hanum?"


" Mungkin satu minggu lagi ma, karena Hanum perlu waktu untuk memikirkan ini semua." jawabku.


Aku keluar dari kamar mama dan mulai berbenah, Kalau mama sakit rumah ini pasti kelihatan kotor. Karena semua pekerjaan dirumah ini mama yang mgerjain. sementara Ririn masih sibuk kuliah.


Aku pun membersihkan rumah mama, dan mencuci pakaian kotor yang menumpuk di kamar mandi.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk mengerjakan pekerjaan ini, karena dari kecil aku sudah terbiasa mengerjakan ini semua.


Tak lupa aku memasak untuk menu makan siang. Kulihat didalam kulkas ada daging ayam dan beberapa sayuran.


Aku memasak sayur sop kesukaan seluruh keluarga ini dan menyambal ayam.


Huft akhirnya siap juga. Waktunya aku santai-santai.


Tak lupa aku memberi kabar pada kekasih hatiku bahwa aku sedang berada dirumah mamanya.


Aku melirik jam dinding, sudah pukul dua belas. Waktunya makan siang, Aku mengambil nasi dan membawakan kekamar mama.


" Afi suapin ya ma." tawarku.


Mama bangun dan duduk bersenderan didinding ranjang.


" Makan yang lahap ya ma, biar cepat sembuh."


" Terima kasih ya... sudah memperhatikan mama."


" Iya mama ku sayang.."


Aku memberikan obat untuk mama. Mama kembali istirahat.


Selanjutnya aku mau makan, kampung tengahku sudah memberontak.


Aku duduk di meja makan sambil menikmati makan siangku hingga aku terkejut ada seseorang masuk kedapur.


" Jangan melamun kalau sedang makan mbak."


Tiba-tiba saja Raka sudah duduk di hadapanku membawa piring yang berisi nasi dan lauk pauk.


" Siapa yang melamun?" Tanyaku balik.


" Mbak lah, Aku datang mbak terkejut." Jawabnya singkat.


" Sok tahu kamu." Aku memonyongkon bibirku.


" Jelek kalau kayak gitu mbak."


Dia meledek sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.


" Biarin, uda laku." Aku mengejek menjulurkan lidahku.


Ia tak menggubris ucapanku, sepertinya ia asyik menikmati makan siangnya.


Aku sudah selesai makan, tak lupa mencuci piring bekas makanan ku tadi.


Aku hendak melangkah kedepan tapi terhenti karena panggilan Raka

__ADS_1


" Mbak, boleh ngobrol sebentar? " pintanya.


Aku membalikkan badan ku, heran. Apa yang mau di bicarakan. Bukankah selama ini kami jarang bicara.


__ADS_2