
Mas Adzam menatapku tajam, detik berikutnya ia keluar dan membanting pintu sekeras-kerasnya.
Aku menutup telingaku. Ya Allah.. begitu berubah perangai suamiku.
Ku usap sudut mataku yang basah. Nyatanya aku tidak sekuat dan setegar yang ku mau.
Sekarang aku tidak tahu mas Adzam kemana, namun dari jendela kamar ini aku bisa melihat mobil sportnya pergi meninggalkan rumah mama.
" Mau kemana kamu, mas?" Gumamku dalam hati.
Dulu ia tidak pernah pergi dalam keadaan marah. Ia akan mencoba merenung jika ada perselisihan di antara kami berdua.
Aku kembali mengusap tetesan demi tetesan yang mengalir bak hujan turun.
Kutarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya pelan-pelan. Berharap rasa lega bisa menghampiri diriku.
Aku berjalan kearah jendela. sudah hampir tiga puluh hari, namun hubunganku dengan mas Adzam tidak juga membaik, justru malah semakin memburuk. Aku memandang bunga mawar mama yang sedang merekah. Rasanya aku ingin seperti buka mawar itu, meski indah namun berduri, jika tidak berhati-hati maka kita akan terluka saat akan memetiknya.
" Mbak,"
Sentuhan di bahu membuat aku menoleh,ada Ririn yang memelukku dari belakang. Ia seperti ikut merasakan luka hati yang menganga ini.
" Sabar ya mbak, jangan jadikan masalah ini sebagai beban pikiran. Mbak harus kuat. Ini adalah cobaan, ujian untuk menyambut kedatangan si kecil." Nasihat Ririn padaku.
Aku hanya mengangguk, mencoba mengikuti semua saran yang di berikan Ririn padaku.
*****
Sejak kepergian mas Adzam siang itu kini mas Adzam tidak pernah pulang kerumah mama. mas Adzam juga tidak pernah berkirim kabar atau sekedar menanyakan kabarku. Kini usia kandunganku sudah tujuh bulan. Sungguh miris nasib anakku, belum lahir ke dunia saja ia sudah kehilangan kasih sayang dari ayahnya. Bagaimana jika ia sudah lahir nanti? Bisakah ia merasakan pelukan, kecupan hangat dari sosok ayahnya? Haruskah anakku mengalami nasib yang sama sepertiku?
Tendangan sayang dari dalam perutku membuyarkan lamunanku.
" Hai sayang, sedang apa kamu? Sehat-sehat ya, ibu sudah tidak sabar ingin berjumpa denganmu. Jangan khawatir kamu akan kekurangan kasih sayang. Disini akan banyak yang akan sayang sama kamu. Ada nenek, Om Raka, Tante Ririn dan Tante Rina."
Aku mengusap perutku. Ada tendangan kecil dari dalam perut.
Aku tersenyum bangga merasakan gerakan nya di dalam perut.
Hari ini aku merasakan suntuk yang sangat luar biasa. Aku berjalan ke teras depan rumah mama, Ada sepeda motor milik Ririn terparkir didepan. kebetulan ada kunci yang masih tergantung di sepeda motor.
Aku berinisiatif untuk sekedar berjalan-jalan memutari komplek perumahan mama.
Mumpung tidak ada yang tahu, aku bergegas menaiki sepeda motor dan segera menghidupkannya.
Saat motor sudah hidup dan aku berniat untuk melaju tiba-tiba Raka keluar dari dalam rumah.
__ADS_1
" Mbak, mau kemana?" tanya Raka.
" Mau jalan-jalan, suntuk." jawabku singkat.
Raka mematikan sepeda motor yang akan ku kendarai, selanjutnya ia mengambil kunci dan memasukkan kedalam saku celananya.
" Ayo aku antar, mbak!"
Ia menarik tangan ku. Aku terkejut buka main, Aku menatap tangan ku yang di pegang oleh Raka.
Ia tersadar dengan tatapan ku yang mengarah ke tangan kami yang bersentuhan.
" Maaf.." Ia melepas tanganku.
Kemudian ia membuka pintu mobil.
" Ayo masuk mbak!" Pintanya.
Tanpa banyak kata dan bantahan aku sudah duduk di samping adik ipar ku.
" Kita mau kemana mbak? Aku siap antar mbak hari ini."
Aku melihat perubahan sikap Raka dari hari ke hari. Sudah hampir beberapa bulan aku tinggal di rumah mama, ia tak lagi cuek padaku. Ia juga lebih sering menolongku. Dan kini ia menawarkan diri untuk mengantarku keliling kompleks.
" Mbak, kok malah melamun sih?" Tanyanya lagi.
" Kita keliling kompleks aja, ya. Mbak bosan dirumah saja."
" Apa kita harus melewati rumah mas Adzam?"
Anak ini terlalu banyak bicara, karena malas menjawab aku hanya mengangkat kedua bahuku sebagai tanda bahwa aku setuju setuju saja.
Ada perasaan senang karena kini aku bisa berjalan-jalan walau hanya keliling kompleks.
Dan kini hatiku sedikit berdebar karena sebentar lagi kami akan melewati rumah ku dulu, istana kecilku yang dulu penuh kebahagiaan, dan sekarang rumah itu hanya tinggal kenangan.
Raka melajukan mobilnya pelan- pelan. Ia seperti memberi kesempatan padaku untuk memandang rumah penuh kenangan.
Rumah itu kini gersang, tumbuhan dan bunga yang ku pelihara kini mulai layu kekeringan. Kondisi tanaman di rumah itu hampir persis denganku layu dan kering hingga akhirnya akan mati.
Aku menyembunyikan air mataku dari pandangan Raka.
" Nangis aja mbak kalau itu bisa buat lega dan tenang." Ujar Raka mengejutkan.
" Siapa yang nangis?" Elakku.
__ADS_1
" Ya mbak lah, masak Raka yang nangis." Guyonannya membuat aku bisa sedikit menarik bibirku untuk tersenyum.
Kini Raka membawa mobil ini keluar dari gang kompleks menuju jalan besar.
" Kita mau kemana?" Tanyaku heran.
Bahkan aku sama sekali tidak membawa uang dan handphone.
Jujur sejak berpisah beberapa bulan dengan mas Adzam, ia sama sekali tidak pernah mengirimiku uang. Inilah konsekuensi yang harus kuterima ketika memilih berpisah dengan mas Adzam.
Semua keperluan ku mamanya mas Adzam yang menanggung.
Setiap aku ingin membeli keperluan dapur, selalu di larang mama dengan alasan uang itu untuk pegangan ku nanti dalam membesarkan anakku nanti.
" Raka, kita mau kemana? Mbak gak bawa dompet." Ucapku lagi.
Kini ia memberhentikan mobilnya di sebuah taman.
" Turun yuk, mbak! " Ajaknya.
Aku pun turun dari mobil dan, dan lebih memilih untuk duduk di sekitar taman. Karena masih pagi jadi taman ini masih ramai di kunjungi orang-orang yang ingin berolahraga atau pun sekedar bersantai.
Raka datang dengan membawa dua es krim di tangannya.
Ia memberikan satu padaku.
" Pagi-pagi kok uda traktir es krim sih?"
" Biar lebih fresh dan lebih awet muda mbak." Ia tertawa memamerkan deretan giginya yang putih.
Aku menikmati es krim pemberian Raka. Andai saat ini mas Adzam di sampingku, pasti ini menjadi momen termanis dalam hidupku.
Mas, sedang apa kamu? Semudah itu kah bagimu melupakan aku dan calon buah hati kita?
" Jangan melamun mbak!"
Lagi-lagi Raka membuyarkan lamunan.
Bodoh! Mengapa aku menjadi wanita bodoh? Biar saja ia hidup dengan Hanum. Yang paling penting, aku harus membahagiakan diriku sendiri. Toh aku tidak sendiri. Masih ada orang-orang disekeliling ku yang sangat sayang padaku.
Ikhlaskan mas Adzam dan Hanum bahagia. Mungkin takdirku hidup bersama mas Adzam hanya sampai disini. Jika Allah sudah menuliskan takdir, aku sebagai manusia bisa apa?
setelah merasa puas menikmati indahnya taman ini, kami segera beranjak pulang.
Namun saat akan berjalan kearah mobil, mataku menatap sosok yang ku kenal.
__ADS_1
Mereka sedang tertawa bahagia, tanpa beban sama sekali.