
"Ya Allah,apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dari rumah ini?" Aku berbicara sendiri.
Bagaimana aku bisa tenang jika mas Adzam masih bertemu dengan Hanum? Apa maksud Hanum mengirim foto mesra mereka padaku? Bukankah aku dan Hanum sudah membuat perjanjian agar Hanum pergi dari kehidupan mas Adzam, Tapi nyatanya Hanum tidak bisa lelah menjerat mas Adzam untuk tetap kembali padanya.
Bukan kah rumah itu sudah kuberi pada Hanum, sebagai gantinya aku meminta Hanum untuk mengurus surat cerai. Lalu apa artinya semua ini?
Ya Allah, pantaskah aku untuk bahagia?Ku niatkan hatiku untuk pergi dari rumah ini. Sudah tidak ada artinya lagi aku tetap bertahan di rumah ini. Bukankah sejak dahulu harga diriku sudah turun. Demi apa? Demi siapa?
Hanya demi mama, hanya demi kebahagian mama, hanya demi aku berbalas budi pada mama. Tapi aku tidak bisa begini terus. Mas Adzam tetap mencintai Hanum. Lalu apa artinya Bintari diantara kami? Apa mas Adzam lupa, bahwa ia pernah ingin memulai hidup baru dengan ku dan Bintari?
Ku usap air mataku, cukup sudah permainan ini. Aku akan memulai hidup baruku hanya berdua dengan Bintari, ya hanya berdua. Aku yakin bisa menghidupi Bintari jauh lebih baik dari sekarang.
Ku letakkan Bintari di atas kasur. Aku menyusun perlengkapan Bintari, tidak ada satu pun punya Bintari yang tertinggal. Sedang punyaku, aku hanya membawa beberapa potong baju.
Kini tas dan koper sudah tersusun rapi. Aku memakaikan jaket, dan jilbab pada Bintari agar tidak kedinginan.
Kini saatnya aku membuka pintu kamar.
Bintari sedang terlelap dalam gendonganku. Sementara kedua tanganku menyeret koper dan tas.
Ada mama, Ririn dan juga mas Adzam yang terbelalak menatapku,
" Mau kemana?" Mas Adzam mencekal tanganku kuat.
" Lepas! Jangan pernah sentuh aku untuk detik ini dan selanjutnya!" Pintaku sinis.
" Kamu kenapa sih?"
Mas Adzam sedang memainkan perannya dengan baik.
" Ini.." Aku menunjukkan foto di ponselku.
Mas Adzam sangat terkejut, wajahnya berganti pucat.
" Ini bukan kamu?" Sindir ku tajam.
Mama merebut handphone di tanganku.
Tanpa ku halang-halangi mama bisa melihat penampilan mereka di handphone ku.
" Ya Allah Adzam!" Mama memekik dengan kencang, detik berikutnya mama sudah memukul kepala mas Adzam.
__ADS_1
" Dasar anak tidak berakhlak! Apa yang kamu cari dari wanita sundel seperti dia? Kurang apa istrimu, Adzam?" Mama sudah meraung seperti orang kesurupan.
" Maafkan Afi, ma." Aku merasa bersalah karena telah membuat mama merasa terpukul juga kecewa.
" Maafkan Adzam,ma..." Mas Adzam berusaha meminta ampunan pada mama.
" Mengapa hadirnya Tari tidak membuatmu berubah,Adzam?" Huuu......
Mama seperti anak kecil yang sedang tidak mendapatkan mainan masih meraung.
Aku menarik napas panjang, Aku menulikan telingaku dari suara tangisan mama. Aku berusaha membutakan mataku, agar tak kembali lagi untuk mundur.
Kutarik tas dan koperku melewati mereka.
Ririn sempat mengejarku, " Mbak, jangan pergi!"
Ia menghiba padaku.
Aku menghentikan langkah kakiku, " Rin, kamu tidak akan mengerti, nanti setelah kamu berumah tangga, kamu akan mengerti apa yang mbak rasakan selama ini."
Aku mengelus pundaknya. Ririn mencium Tari.
Taksi online pesanan ku sudah datang. Pak supir menyusun barang-barang yang kubawa.
Mas Adzam keluar dari rumah, " Kalau kamu mau pergi, silahkan pergi! Tapi jangan bawa Tari. Dia anakku."
Entah mengapa emosiku kembali tersulut mendengar ucapan mas Adzam. Aku melangkah maju mendekati mas Adzam,
" Anakmu? Waktu aku hamil, kamu kemana? Waktu aku butuh kamu, kamu kemana? Jangan pernah menjadi pahlawan kesiangan antara aku dan Tari."
Aku meninggalkan mas Adzam yang berdiri mematung.
Pintu mobil sudah dibuka. Aku masuk kedalam, saat akan menutup pintu, mama berlari dari dalam rumah.
" Afi... jangan pergi! Mama tidak bisa pisah dari Tari."
" Ma, mama tetap nenek yang baik untuk Tari. Tapi Afi tidak bisa tinggal di rymah ini lagi. Pernikahan Afi pun tidak bisa di lanjutkan lagi. "
Aku menutup pintu dan kaca mobil.
" Jalan pak!" Ucapku.
__ADS_1
Kini mobil ini meninggalkan area rumah mama. Air mata yang kutahan seketika tumpah ruah. Dadaku terasa naik turun mengingat semua masalah yang terjadi.
Ya Allah.. Mungkin hanya sebatas ini jodoh yang engkau gariskan untukku dan mas Adzam. Biarkan aku menikmati kesendirian ini.
Aku memesan sebuah kamar hotel. Untuk sementara waktu aku dan Tari akan beristirahat di hotel ini. Dan malam ini aku memikirkan, akan kemana kami pergi.
*****
Pagi sudah datang, Setelah bersiap hari ini aku akan pergi ke terminal.
Aku berencana untuk menetap kesebuah desa. Dan kali ini hatiku sudah mantap. Aku berusaha melupakan bayang-bayang mas Adzam, Hanum, mama dan juga Ririn.
Terminal masih sepi, Aku sudah masuk kedalam sebuah bus. Selamat tinggal luka, selamat tinggal kenangan, selamat tinggal orang-orang baik. Hari ini aku akan memulai hidup baru. Semoga Ada pelangi setelah badai menerpa kehidupanku.
Aku memilih pergi ke Riau, di sebuah desa kecil yang di penuhi oleh kebun sawit. Hanya bermodal KKN dulu, aku bisa tahu desa ini. Dan kini aku kembali dalam waktu tang berbeda.
Penduduk yang ramah membuat aku merasa tidak kesulitan untuk mencari sebuah rumah kontrakan.
Akhirnya aku dan Bintari sudah bisa beristirahat dengan tenang. Rumah kontrakan sederhana, berdekatan dengan sekolah dasar, hingga aku bertekad untuk berjualan kecil-kecilan agar tabunganku tidak semakin menipis.
Huft! Ada rasa lega karena dulu aku tidak berfoya-foya, Aku selalu menyisihkan uang belanja yang diberi oleh mas Adzam tanpa sepengetahuannya menyimpan di ATM. Dan di keadaan mendesak seperti ini aku masih punya anggaran yang bisa ku gunakan.
Tinggal di desa ini begitu damai, tanpa sinyal, dan listrik saja masih mati pada tengah malam.
" Mas Adzam, terima kasih karena sudah membuat aku menjadi bermental baja seperti ini. Semoga kamu bahagia dengan Hanum." gumamku pelan.
*****
( Singkat cerita ya...)
Tak terasa aku sudah lima tahun tinggal di desa ini. Air mataku tidak pernah menetes selama berada disini. Handphone ku masih tersimpan rapi tak pernah terpakai karena disini tidak ada sinyal.
Tari juga selalu sehat, bahkan tahun ini dia sudah masuk ke sekolah taman kanak-kanak.
Tari, si penyemangat hidupku, yang selalu menjadi temanku di kalah senang mau pun duka.
Setiap hari rutinitas ku berjualan nasi kuning di depan rumah. berat badanku pun mulai bertambah dan itu artinya aku bahagia.
Hanya sesekali saja aku memikirkan mama. Apakah mama baik-baik saja?
Ma, jika kita di takdir kan untuk bertemu, aku yakin kita pasti bertemu suatu hari nanti
__ADS_1