
Mall itu yang ada tangganya jalan sendiri ya, yah?"
" Iya, itu namanya Eskalator sayang." Mas Adzam dengan sabar memberi penjelasan pada Tari.
Kini mereka tertawa bersama-sama.
Mas Adzam memutar lagu kesukaan Tari, dan Tari sangat menikmati perjalanan pertamanya.
" Dia terlalu banyak ketinggalan." Ucap mas Adzam.
Aku tak menanggapi ucapan mas Adzam. Saat ini aku ingin memejamkan mata karena mengantuk akibat memikirkan mas Adzam yang hampir berbuat yang tidak senonoh padaku.
Bagaimana bisa aku hampir terlena di buat mas Adzam?
*****
Kami sudah menempuh perjalanan selama dua belas jam, dan saat ini kami sedang beristirahat di warung nasi uduk.
Kami mulai menikmati makanan masing-masing. Dan Tari seperti tak ingin pisah dengan mas Adzam.
Ia duduk disamping mas Adzam, ia juga memesan makanan dan minuman yang sama persis dengan mas Adzam.
Aku menyaksikan kebersamaan mereka dengan hati cemburu. Karena Tari tidak pagi membutuhkanku. Ia lebih senang meminta bantuan pada ayahnya. Ia juga lebih memilih makan disuapin ayahnya. Sesekali mereka cekikikan melihatku. Entah apa tang di tertawai.
Selesai makan kami memutuskan untuk menginap di sebuah hotel.
Mama memesan tiga tiga kamar hotel, satu untuk mas Adzam, satu untuk Raka dan satu lagi untuk mama dan Ririn.
Lagi-lagi aku tidak bisa menentang permintaan mama.
Mereka semua sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Tinggal aku yang masih di luar kebingungan harus bagaimana.
" Fi, gak masuk?" Suara mas Adzam mengagetkan ku.
" Em.. Anu mas.." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
" Kepalanya ada kutunya?" Tanya mas Adzam dengan ekspresi senyum-senyum gak jelas.
" Ayo masuk! Lihat Tari sudah tidur." Mas Adzam menarik tanganku masuk kedalam kamar hotel.
" Gak usah takut, aku tidak akan berbuat yang macam-macam tanpa lampu hijau dari kamu." Ucap mas Adzam. Ia seperti paham tentang kegelisahan ku malam ini.
Alhamdulillah.. Akhirnya aku bisa sedikit lebih tenang.
Mas Adzam duduk di pinggir ranjang, sepertinya ia sedang memberi kabar pada istrinya.
__ADS_1
Aku memutuskan untuk membersihkan badan kekamar mandi.
Selesai membersihkan badan aku duduk didekat Tari.
Mas Adzam meletakkan handphonenya. Aku melirik sekilas kearah handphone yang layarnya menyala dan berkedip-kedip. Aku paham sekali dengan handphone mas Adzam. Handphone itu masih yang dulu saat kami bersama. Dan itu menandakan ada panggilan masuk dan mas Adzam menonaktifkan nada dering handphonenya.
" Mas, itu ada yang nelpon, kok di biarin aja?"
" Enggak penting kok." Jawab mas Adzam seenaknya.
" Tenang aja mas, aku uda move on kok."
Mas Adzam hanya menanggapi ucapan ku dengan cengengesan, " Gak penting kok." terang mas Adzam.
Aku menarik selimut menutup tubuhku dan Tari. Tidak pernah ada dalam bayanganku jika aku harus kembali satu kamar dengan mas Adzam. Dibilang mantan suami tapi kami belum punya akta cerai. Dan mas Adzam tidak pernah menjatuhkan talak padaku.
Rumit sekali hubungan di antara kami.
" Fi, sudah tidur?"
" Belum."
" Bisa kita ngobrol?"
" Fi, maafkan mas, ya." Mas Adzam memiringkan tubuhnya kearah ku.
Ia menatapku dalam hingga membuat aku menjadi serba salah.
" Sejak aku bisa berdamai, Insya Allah aku sudah memaafkan semuanya mas. Oh ya mas, kamu sudah punya anak berapa sama Hanum?"
" Kami gak punya anak ,Fi."
" Serius?" Mataku terbelalak mendengar kejujuran mas Adzam.
Ia hanya diam, tangannya membelai pipi Tari.
" Fi, apa benar saat mas sakit Hanum selingkuh dengan berondong?"
Aku terkejut mendengar perkataan mas Adzam.
" Raka marah besar ketika tahu kalau kalian pergi. Apalagi penyebabnya adalah mas yang habis ketemu Hanum. Kamu tahu mas ribut besar sama mama dan Raka. Hampir tiga tahun mama tak pernah mau berbicara dan bertemu sama mas." Mata mas Adzam mulai berkaca-kaca.
" Sejak kepergian kamu dan Tari hidup mas terasa hampa. Mas memutuskan untuk hidup sendiri sembari mencari keberadaan kamu dan Tari. Tapi..." Mas Adzam seperti ragu untuk melanjutkan ceritanya.
" Tapi apa mas? Percaya deh, aku sudah move on dan tidak cemburu lagi dengan apa yang terjadi pada kamu mas." Ucapku meyakinkan.
__ADS_1
Mas Adzam menghela napas berat, " Karena ada pak Rizky,makanya kamu move on?"
" Mas?" Aku membulatkan mataku sebagai tanda bahwa aku tidak suka membahas orang lain yang tidak ada sangkut pautnya denganku.
" Oh iya, bagaimana kabarnya Hanum?"Tanyaku lagi. Aku ingin mas Adzam menceritakan apa yang terjadi selama aku pergi, walaupun resikonya aku akan sedikit sakit hati. Ingat ya, hanya sedikit. hehehe...
" Baik. Kami tinggal dirumah yang pernah kita beli untuknya. Ia tidak cekatan sepertimu." Imbuh mas Adzam.
" Mas, setiap wanita itu tidak sama."
" Terkadang aku memegang setrika sendiri agar baju kerjaku rapi. Terkadang aku pergi kedapur agar perutku tidak kelaparan. Terkadang aku sudah menyapu rumah agar rumah itu bersih. Hal yang tidak pernah kulakukan saat bersama mu dulu."
Mas Adzam berhenti sebentar, ia seperti mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan ceritanya.
" Aku hidup dibawah tekanan mama dan Hanum." Ucapnya lagi.
" Mama tidak pernah bisa menerima Hanum. Ternyata memang benar, mama begitu nyaman saat bersama mu, tapi malah aku yang bodoh malah tetap mendatanginya. Padahal aku sudah punya darah daging. Bodoh ya!" Ia tersenyum sumbang menyesali perbuatannya.
" Mas, maaf... ini semua salahku karena aku yang meminta mu untuk berbagi rasa dengan wanita lain." Aku merasa bersalah atas semua yang terjadi.
" Jika mas terlalu gigih menuruti permintaan konyol mu, mungkin kita masih bersama seperti ini. Atau mungkin sekarang sudah ada adiknya Tari." Ia memainkan matanya sebelah sambil tertawa.
Aku pun ikut tertawa dengan ceritanya yang di campur lelucon.
Ia bangkit dari tempat tidur berjalan kearah tas di pojok kamar. Ia seperti mencari sesuatu.
Setelah menemukannya, ia kembali lagi dan duduk menghadap kearah ku.
Tangannya memberi sebuah buku rekening, " Ini buatmu, simpanlah dengan baik."
" Buku rekening?"
Mas Adzam hanya mengangguk. Aku mengambil dari tangannya dan membuka buku itu. Ada nama mas Adzam tertera di sana.
Aku membuka lagi isi selanjutnya, mataku membulat melihat angka yang tercetak di kertas ini.
Aku mengucek-ngucek mataku, " Ini benar angkanya mas? Mencapai tujuh ratus juta."
" Buat kamu dan Tari untuk menebus masa lima tahun yang terlewat tanpa mas. Untuk menebus rasa bersalah mas pada kalian. Rekening itu sengaja mas buat. Dalam hati mas yakin akan menemukan kalian suatu hari nanti,dan ternyata itu benar. Kini kalian sudah ada di depan mata mas."
Hatiku terenyuh melihat perlakuan mas Adzam. Ternyata diam-diam ia memperhatikan kami hingga menyiapkan dana sebanyak ini untuk masa depan Tari.
" Mas, terima kasih banyak sudah memikirkan masa depan Tari. Ucapku penuh haru.
" Tari adalah darah daging ku, dia haris jadi orang yang membanggakan kita kelak. Percaya sama Tari." Ucap mas Adzam hangat.
__ADS_1