
Sesekali ia melirik mas Adzam. Ah, entahlah. Mungkin aku yang terlalu cemburu.
Akhirnya atas saran mama hari ini kami mau buat sedekahan yang akan di bagi-bagi kan ke tetangga kami.
Hanum ditunjuk mama untu berbelanja kepasar diantar Raka.
Dan kalau sudah mama yang menyuruh Raka, maka ia tidak bisa menolak.
Begitu pun Hanum, ia sepertinya ingin diantar kepasar oleh mas Adzam. Tapi sepertinya untuk saat ini mas Adzam sedang tidak ingin berjauhan denganku.
Mau tidak mau akhirnya Hanum dan Raka pergi juga berbelanja. Sedang Ririn tampak senyum-senyum sendiri melihat wajah Raka dan Hanum cemberut.
" Fi, mama saranin kamu jangan terlalu capek ya! Ibu hamil itu rentan sama yang namanya kepeleset. Ingat, ini adalah anak yang kamu, Adzam dan keluarga tunggu.
" Iya, ma. Insya Allah Afi akan lebih ekstra lagi menjaga kandungan Afi." Jawabku lagi.
Hampir satu jam kami menunggu kepulangan Raka dan Hanum pulang berbelanja.
" Assalamu'alaikum..." Terdengar suara seseorang mengucapkan salam.
" Waalaikumsalam.." Serentak kami menjawab salam tersebut.
Ternyata Hanum dan Raka yang sudah pulang. Tampak Raka dan Hanum seperti keberatan.
" Maaf ya Hanum, aku jadi merepotkan kamu." Ucapku sambil mengambil sebagian belanjaan dari tangan Hanum.
" Eh,mbak! Jangan angkat yamg berat-berat." Ririn mengambil plastik besar dari tanganku.
" Mbak Hanum gimana sih? Ibu hamil kok di suruh angkat yang berat-berat." Ririn tampak sewot pada Hanum.
" Mbak kuat kok, lagian mbak yang mau bantu Hanum." Aku membela Hanum yang di pojokkan oleh Ririn.
Ririn tidak menanggapi ucapanku, ia segera berlalu dari hadapan kami.
__ADS_1
" Sabar ya? Ririn memang gitu anaknya. Tapi percaya deh, kalau nanti kamu uda kenal dekat sama dia, anaknya baik banget." Aku berusaha membesarkan hati Hanum.
Hanum hanya tersenyum masam padaku. Aku menggandeng tangan Hanum menuju dapur. Ririn sedang mengeluarkan belanjaan bersama mama. Aku dan Hanum ikut bergabung.
" Rencananya masak apa hari ini ma?" Hanum bertanya pada mama.
" Ini Ayam tolong di cuci ya, Num!" Mama memberikan sebungkus plastik berisi ayam.
Tanpa membantah ia pergi membawa ayam itu dan mencucinya.
" Rin, kupasi perbumbuan ini ya." perintah mama pada Ririn.
Sedangkan aku mendapat bagian membersihkan sayuran yang akan direbus.
Mama sendiri sedang sibuk membuat peyek.
" Yang, butuh bantuan mas gak?" Tanya mas Adzam padaku.
" Butuh ..." Tiba-tiba Hanum menyahuti ucapan mas Adzam.
Hanum yang sadar mas Adzam berada didekatku menjadi serba salah, " Maaf, gak sengaja." Ucap Hanum pada kami.
" Ada yang kepedean nih?" Ririn berceloteh nyinyir.
Mas Adzam jadi serba salah. " Bantuin Hanum, mas!" Bisik ku pelan.
Mas Adzam merasa belum yakin dengan yang ku ucapkan. Hingga aku mengedipkan mataku sebelah, tanganku pun menunjuk pada Hanum yang sedang menunduk membersihkan ikan. Tak lupa aku mengangkat jempol ku sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja.
Akhirnya mas Adzam mendatangi Hanum untuk membantunya.
Bagaimana pun juga Hanum ada di posisi ini karena aku. Jadi aku harus berbesar hati untuk melihat kebersamaan mas Adzam dan Hanum.
Aku memperhatikan kebersamaan mereka. Mas Adzam, suamiku yang paling kusayang kini ada disana bersama sahabatku.
__ADS_1
Aku mengusap perutku yang sedikit agak membesar, " Sayang, jika kehadiranmu harus melalu proses seperti ini, Ibu rela nak! Jika kehadiran Hanum di dalam rumah tangga ibu menghadirkan kamu, Insya Allah ibu ridho dan ikhlas. Karena bagi ibu, kamu adalah jantung ibu." Gumamku dalam hati.
" Mbak dedeknya gerak ya?" Tiba-tiba Ririn sudah mengejutkan ku. Suaranya yang kuat sukses membuat Hanum dan mas Adzam menoleh padaku.
Aku yang menjadi pusat perhatian menjadi serba salah. Mas Adzam mendekatiku, " kenapa?" Tanya mas Adzam penasaran.
Aku hanya menggeleng, tidak ada yang perlu kuberitahu pada mas Adzam tentang perasaanku saat ini.
Hanum sudah selesai membersihkan ayam, kini ia sudah membantu ibu membuat urap.
Sedangkan Ririn sudah santai meluruskan kakinya sambil tangannya memainkan ponsel.
Mas Adzam masih setia mendampingiku, Dan akhirnya setelah hampir dua jam berkutat di dapur, kami pun selesai memasak.
Aku segera mandi, rasanya badanku gerah sekali. Selesai mandi tak lupa aku menghias wajahku dengan riasan ringan saja. Mas Adzam masuk kedalam kamar,nIa merangkulkan tangannya di pinggangku, " Gak sabar pengen cepet-cepet lahir Yang!" Bisik mas Adzam di telingaku.
" Sabar ya!" Ucap ku lembut pada mas Adzam.
Kami pun segera keluar kamar, Hanum sedang santai duduk sambil memainkan ponselnya. Wajahnya sangat terlihat lelah. Aku mendekati Hanum, " Capek ya?" tanyaku padanya.
" Ah, enggak lah, biasa saja." Ia mengusap keringat yang ada di wajahnya.
" Kalau mau mandi, masuk saja ke kamarku. Ambil sendiri pakaian yang kamu mau." Ucapku pada Hanum.
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dariku, Hanum masuk kekamarku untuk membersihkan diriku.
Nasi dan lauk pauk sudah di bungkus, Ririn dan Raka bertugas untuk mengantar ke semua tetangga yang ada di kompleks perumahanku.
Raka dan Ririn telah siap dengan sepeda motornya.Aku dan mama mengantar mereka hingga didepan rumah.
Setelah Raka dan Ririn pergi, kami duduk santai di teras rumah.
Aku sempat kepikiran pada mas Adzam, kemana dia?
__ADS_1
.