
Yang, ternyata Hanum itu orangnya supel ya." ucap mas Adzam.
Deg! Jantungku seperti berhenti berdetak.
Secepat itu kah mas Adzam menilai Hanum?
" Sepanjang aku ngantar dia pulang, dia gak berhenti ngobrol. Wawasan tuh luas banget ya yang.." Ucap mas Adzam dengan mata berbinar-binar.
Aku tak semangat untuk menimpali ucapan mas Adzam. Ada amarah yang membuncah di dadaku. Dari ucapannya, matanya, sepertinya mas Adzam jatuh cinta pada Hanum sejak pandangan pertama.
Mas Adzam menyenggol bahuku, " Kok diam? Uda ngantuk?"
Aku menggeleng, memamerkan senyum palsu. " Belum mas, seharian aku tidur terus jadi jam segini belum ngantuk dong mas. Eh, lanjutin dong mas cerita hari ini nampaknya seru loh." Aku pura-pura bahagia, padahal aku terluka.
" Suasana jadi semarak kalau punya kawan yang rame loh yang."
" Sebentar lagi jadi kawan hidup mu loh mas." Bergetar sudah nada suara ku.
Mas Adzam menggenggam tanganku, mungkin sadar ucapannya melukai relung hatiku.
" Maaf..."
Aku menutup mulutnya, " Jangan minta maaf. Semua ini mutlak kesalahanku."
Aku tidak ingin mas Adzam selalu merasa bersalah.
Aku memalingkan badanku menghadap dinding. Ku seka sudut mata ku yang berair. Jangan sampai mas Adzam tahu kerisauan hatiku.
**********************
Hari pernikahan mas Adzam semakin dekat. Tiga hari lagi cintaku akan terbagi karena ulahku sendiri, memancing buaya dengan daging yang empuk, siapa yang mau menolak.
Mas Adzam dan Hanum semakin sering bertemu. Mas Adzam pun mulai sibuk dengan handphonenya. Tiada hari tanpa handphone di genggamannya. Terkadang ia sudah senyum-senyum sendiri dengan alasan mau menonton tv. Tapi yang aku lihat adalah tv yang menonton kelakuan mas Adzam. Miris! itulah yang kurasakan.
Pagi ini aku sudah selesai memasak. Aku mendekati mas Adzam di ruang tv. Sepertinya ia tidak sadar akan kedatanganku. Aku sengaja berdori di balik punggungnya. Dengan posisi ia menyender di punggung kursi, aku bisa tahu dengan siapa ia bermain handphone.
Mas Adzam sedang asyik berbalas pesan dengan seseorang. Aku menahan napas ku agar tak mengenai tubuh mas Adzam. ku tajamkan mata kearah handphone mas Adzam.
Badanku bergetar, rasa panas menjalar di badanku. Padahal aku sedang berada di ruangan ber AC.
Hanum! Hanum lah penyebabnya. Mas Adzam dan Hanum asyik berbalas pesan mesra. Aku mundur perlahan tidak sanggup rasanya mulutku menyerukan suara. Badan dan bibirku bergetar tak karuan. Sakitnya bagai tersayat belati.
__ADS_1
Prang! Pot di atas meja jatuh kelantai, pecah berserakan karena tersenggol badanku.
Mas Adzam bangkit dari kursi yang di duduki nya.
Ia menoleh kearah sumber suara. Matanya membulat menatapku.
Aku menatapnya dalam, ia membuang wajahnya. Tak berani menatap ku.
" A..apa yang terjadi?" tanya nya.
Aku rasa mas Adzam hanya berpura-pura tidak tahu.
Aku berlari ke kamar. Lutut ku masih bergetar. Aku tidak menyangka jika efek dari rencana ku adalah menimpa diriku sendiri.
Mas Adzam masuk kekamar menyusul ku.
Aku masih duduk di depan lemari dengan tangan dan kaki saling berkaitan.
Ia jongkok di hadapanku, " Maaf.. maaf..maaf.." Hanya kata-kata maaf yang keluar dari bibir mas Adzam.
Aku menggeleng, " Bukan salah mas! Mungkin hanya aku saja yang belum mempersiapkan diri dengan baik." Ucapku parau.
" Jika kamu merasa tidak kuat, tidak sanggup untuk melanjutkan rencana mu, lebih baik batalkan saja dari sekarang. Toh ini bukan keinginan aku yang sesungguhnya." Ucapan mas Adzam menyentil diriku.
Ia tak menggubris ucapanku dan berlalu dari kamar ini. Yang kudengar adalah suara mobilnya menjauh meninggalkan aku sendiri di rumah ini.
**************
Keadaan ku sudah cukup baik dari hari kemarin. Pagi ini mas Adzam cuti bekerja, karena akan mengurus administrasi pernikahan ke dua di kantor KUA.
Aku ikut serta menemaninya.
Banyak orang yang menyayangkan pernikahan kami harus di usik oleh orang ke tiga. Padahal aku sudah menjelaskan pada mereka jika Hanum bukan pelakor yang seperti mereka duga.
Dan hari ini sudah selesai semua dokumen pernikahan suamiku dan sahabatku. Di dalam mobil kami bertiga. Aku duduk disamping mas Adzam sementara hanum duduk di belakang mas Adzam. Sesekali aku memperhatikan gerak gerik mencurigakan dari mas Adzam. Ia seperti memperhatikan Hanum diam-diam. Nelangsa sekali hatiku!
Karena hari sudah siang, kami pun mampir di sebuah warung makan. Aku memilih ikan nila bakar semetara mas Adzam dan Hanum bersamaan memilih ayam bakar.
Aku terpelongo melihat makanan kesukaan mereka yang sama. Sedangkan mereka hanya senyum-senyum tidak jelas.
Ada rasa muak menyaksikan kemesraan mas Adzam dan Hanum.
__ADS_1
Saat makanan di hidangkan mas Adzam dan Hanum makan dengan lahapnya. Sesekali mereka bersenda gurau tanpa mempunyai rasa segan lagi padaku. Apa Mas Adzam sedang merasakan puber kedua?
Aku mengaduk makanan ku dengan tanganku. Ada amarah terpendam, namun hanya mampu melampiaskan pada nasi yang tidak bersalah.
" Fi, kok nasinya hanya diremas-remas saja? memangnya gak lapar?" Tegur Hanum padaku.
Aku hanya diam, diam seribu bahasa. Sementara air mataku sudah habis untuk menangisi kisah hidupku.
Sampai kami siap makan, aku tak jua mengeluarkan satu kata apa pun. Membuat mas Adzam dan Hanum menjadi salah tingkah.
Kami mengantarkan hanum pulang ke kontrakannya, Aku masih diam.
Sampai dirumah pun aku masih diam. Membiarkan mas Adzam bingung sendiri melihatku begini. Aku mengganti pakaianku, Tidur adalah solusi paling menyenangkan jika aku merasa suntuk. Dengan tidur aku bisa melupakan semua masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga ku.
Aku tidak pernah menyangka jika Allah mengujiku hingga titik nadi paling rendah.
Jika tidak mengingat dosa, ingin rasanya aku menggantung leherku pada seutas tali.
Atau terkadang ingin rasanya aku meminum racun tikus yang tergeletak di bawah kolong dapur. Intinya aku terkadang lelah menjalani takdir dalam hidupku.
************
Malam kian merangkak, rumah ini semakin dingin. Senyap, hanya jeritan jangkrik dan siulan burung hantu yang menggema di gelapnya malam. Rasa lapar membuatku bangun. Aku berjalan kedapur. Namun saat melewati ruang keluarga, ada mas Adzam yang sedang tertidur di karpet depan tv. Mas Adzam meringkuk kedinginan.
Mas, maafin aku!
Ada rasa bersalah di relung hati ku yang paling dalam.
" Mas... bangun!" Aku menggoyang tubuhnya beberapa kali.
Ia hanya mengucek-ngucek matanya.
" Bangun mas! Pindah kekamar!" ucapku.
" Iya."
Setelah memastikan ia bangkit, aku berlalu menuju dapur. Untung aja masih ada stok mie instan dan telur, kalau tidak bisa kelaparan malam ini batinku.
Aku merebus air panas setelah mendidih langsung mencelupkan mie dan telur.
Saat sedang asyik menikmati mie, aku di kejutkan dengan kedatangan mas Adzam.
__ADS_1
" Fi..."
Ada yang tau malam- malam mas Adzam datang kedapur mau ngapain? Tinggalin jejak ya....