
Rapat sudah selesai, Jam didinding menunjukkan pukul dua belas siang. Waktunya istirahat. Aku meminta izin untuk pulang lebih awal. Rencana ku siang ini adalah bertemu dengan Hanum, rindu dengan masakan nya.
Aku melaju kan mobil sport ku ke arah rumah Hanum, Aku sudah tiba di depan rumah nya.
Hanum sedang berada di teras rumah, rambut panjang hitam bergoyang di terbang kan angin. Senyum manis terpancar di wajahnya. Aku mendekatinya, ia menyambutku. Tanpa malu oleh tetangga ia memelukku erat-erat, " Rindu!" Ucapnya manja.
" Sama sayang." Aku membawanya masuk kedalam rumah.
Aku tak lagi berselera untuk menikmati makan siang yang sudah di siapkan oleh Hanum. Padahal ada ikan nila panggang yang terhidang di atas meja. Aku lebih penasaran pada moleknya tubuh Hanum, istri kedua ku yang sebentar lagi akan ku cerai. Aku berharap percintaan ku hari ini dengan Hanum membuahkan hasil, setidaknya Hanum bisa hamil dan aku todak bisa menceraikannya dengan alasan hamil.
Kami melakukan percintaan ini berkali-kali. Tak ku hiraukan dering nada panggilan yang berbunyi dari ponsel ku. Hari ini aku hanya ingin menikmati waktu bersua saia dengan Hanum. Walau hanya dua jam saja.
Setelah aku dan Hanum merasa puas, kami lalu kami membersihkan diri.
" Makan dulu yuk, mas." Hanum menarik tanganku ke meja makan.
Aku mengikutinya, terus terang kampung tengahku sudah mulai berdemo karena aku terlambat memberi jatah pada mereka. Aku lebih mementingkan kebutuhanku yang sudah beberapa hari terabaikan.
Aku dan Hanum menikmati makan siang kali ini dengan rasa nikmat yang luar biasa. Masakan Hanum sama enaknya dengan masakan Afi, tapi untuk urusan di bawah perut Hanum jauh lebih liar dari Afi. Aku tersenyum sendiri karena telah membandingkan antara Afi dan Hanum. Lelaki seperti apa aku? Nyatanya aku tak ubah seperti buaya.
" Enak mas?" Hanum bertanya padaku dengan suara khas manja, membuat bulu ku merinding
Aku hanya mengangkat jempolku sebagai tanda jika masakannya luar biasa enak.
Kami sudah selesai makan, Aku sempatkan untuk bersantai di ruang tamu. Hanum tak hentinya memelukku, seolah menginginkan aku tetap tinggal disini. Sungguh luar biasa pesonanya.
" Mas, kamu gak nginap malam ini dirumahku?" Tanya Hanum padaku.
" Gak bisa, sayang. Afi sedang dirawat di rumah sakit. Untuk beberapa hari ini ia harus bed rest. Kemarin ia pendarahan hebat. Untungnya janinnya masih bisa di selamatkan." Aku menjelaskan pada Hanum perihal Afi sakit.
Ia tampak terkejut, menutup mulutnya.
" Maafkan aku ya, mas. Aku paham ini berat untuk Afi. Andai dulu ia tidak memintaku untuk menjadi istrimu." Ada penyesalan pada nada ucapan Hanum.
" Bukan salah kamu, sayang. Takdir aja yang sedang bermain-main dengan kita. Mudah-mudahan hasil percintaan kita hari ini kamu bisa hamil, ya!" Aku memeluknya memberi kekuatan agar ia tak berkecil hati pada takdir hubungan kami.
__ADS_1
" Apa aku boleh menjenguk Afi, mas?"
Aku meragu, ini belum saatnya dan juga bukan waktu yang tepat untuk pertemuan antara Afi dan Hanum. Aku yakin, Afi juga belum siap untuk bertemu dengan Hanum. Meski Hanum adalah sahabatnya sendiri.
" Mas..?" Senggolan Hanum di tanganku membuyarkan lamunanku.
" Bagaimana mas?" Tanya Hanum lagi.
" Jangan sekarang ya. Takutnya nanti Afi tambah depresi." ucapku.
Ada raut yang kecewa atas jawabanku ini
" Nanti kalau Afi sudah merasa baikan, dia pasti mau bertemu dengan mu." Aku memeluknya erat.
Aku meraih handphone diatas meja, ada beberapa panggilan telepon dari Afi berkali-kali.
Aku menelpon balik, sambungan telepon tersambung. Terdengar suara Afi yang sedang ngambek. Aku bisa membayangkan raut wajahnya kali ini yang sangat bete bercampur kesal.
" Ada apa sayang?" Aku mencoba melebur kekesalannya.
Aku masih terdiam mendengar semua amarahnya yang meledak, tanpa membantah satu kata pun.
Setelah Afi sudah selesai berbicara, " Aku pulang sekarang ya, kamu mau titip apa?" Aku mencoba menawarkan sesuatu pada Afi.
" Aku pengen makan bakso mercon besar." Terdengar suaranya di seberang.
" Siap sayang, nanti aku bawakan ya."
Sambungan telepon terputus.
Aku menghela napas berat. Memijit keningku berkali-kali. Ya Allah, kenapa seberat ini cobaan mu?
" Mas," Hanum mengusap bahuku. Ia seperti tahu kegundahan hatiku.
" Mas pulang dulu ya?" Aku bersiap-siap.
__ADS_1
" Hati-hati ya mas."
Berkali-kali kami berpelukan erat seperti enggan berpisah.
Setelah Hanum merasa cukup, akhirnya aku meninggalkannya sendiri di iringi lambaian tangannya.
Aku memutuskan untuk kembali kerumah terlebih dahulum Berganti pakaian dan juga mandi. Aku tidak ingin Afi mencium aroma tubuh Hanum yang tertinggal di badanku. Bisa gawat kalau sampai ketahuan.
Aku sudah selesai mandi, dan bersiap berangkat kerumah sakit. Tak lupa aku membeli pesanan Afi, bakso mercon besar.
Sudah bed rest tapi kepinginnya aneh-aneh.
Pukul enam sore aku sudah tiba di rumah sakit. Aku menuju ruangan Afi di rawat. Aku membuka pintu, hanya ada Afi yang tertidur pulas.
" Kemana mama?" batinku sibuk bertanya-tanya.
Aku mendekati Afi. Diwajahnya ada jejak air mata. Sepertinya ia baru saja menangis. Mungkin sudah lelah hingga tertidur.
Aku mengecup keningnya lembut. Mengusap kepalanya berkali-kali.
" Maafin mas ya, sayang..." Gumamku dalam hati.
Sambil menunggu Afi bangun, aku duduk santai di sofa yang ada di ruang kamar Afi. Bermain ponsel adalah tujuan utamaku. Aku membuka aplikasi berlogo biru, ada 1 notifikasi dari Hanum. Gambar apa? Ada rasa penasaran melihat Hanum mengirim sebuah foto padaku.
Dan ternyata...?
Ia mengirimkan foto panasnya yang hanya menggunakan pakaian dinas padaku. Kapan ia berfoto? Seniat inikah ia menjeratku? Siapa sebenarnya Hanum ini? sudah beberapa bulan menjadi istriku, namun aku tidak bisa menemukan jati diri Hanum yang sebenarnya. Bahkan penjelasan dari Afi pun tak mampu menjawab rasa penasaranku
Jiwa lelaki seperti berontak melihat kenakalan Hanum. Aku membalas foto panas itu ( cantik, jadi pengen datang lagi) lalu ku tekan tombol send. pesan ku terkirim pada istri kedua ku.
Balasan pesan datang lagi dari Hanum, masih sama sebuah foto. Aku kembali membuka foto tersebut. Kedua bola mataku hampir melompat dari tempatnya saat menyaksikan foto kiriman Hanum yang kedua. Pose kedua jauh lebih menantang. Jiwa lelakiku kembali berontak.
Hanum begitu liar untukku. Lebih tepatnya, Binal. Aku masih memperhatikan foto nakal Hanum sampai aku di kejutkan oleh suara, " Mas sudah lama?"
Aku tidak sadar jika Afi sudah bangun. Sejak kapan ia memperhatikanku? Aku menjadi serba salah.
__ADS_1