
Akhirnya setelah mendapat persetujuan dariku, Hanum masuk kekamarku untuk membersihkan diriku.
Nasi dan lauk pauk sudah di bungkus, Ririn dan Raka bertugas untuk mengantar ke semua tetangga yang ada di kompleks perumahanku.
Raka dan Ririn telah siap dengan sepeda motornya.Aku dan mama mengantar mereka hingga didepan rumah.
Setelah Raka dan Ririn pergi, kami duduk santai di teras rumah.
Aku sempat kepikiran pada mas Adzam, kemana dia?
Aku meminta izin pada mama, ingin masuk kedalam rumah sebentar.
Aku penasaran pada mas Adzam dan Hanum. Kalau Hanum jelas sedang di kamarku. Apakah mas Adzam juga di kamarku. Pelan-pelan aku melangkah ke arah kamarku. Aku menempelkan telingaku di pintu kamar. Senyap, aku tidak mendengarkan ada orang yang bercakap-cakap di dalam sana.
Hatiku meragu untuk melihat isi kamarku. Tapi rasa penasaranku jauh lebih besar. Akhirnya dengan kekuatan yang ku kumpulkan, aku berhasil membuka pintu.
Ada rasa nyeri yang menjalar di hatiku melihat pemandangan di depanku. Mas Adzam sedang duduk dibibir ranjang, Ia sedang memperhatikan Hanum yang baru saja selesai mandi dengan rambut basah terurai dan hanya menggunakan handuk yang menampilkan bagian bahu terbuka dan bagian paha terbuka.
Tes! Air mataku menetes deras. Sakit yang kurasakan begitu hebat. Bibirku kelu, aku berdiri mematung. Haruskah di kamarku? Haruskah di rumahku?
Mas Adzam yang melihatku segera berdiri. Ia dan Hanum jadi serba salah. Aku menangis sesenggukan. Mas Adzam merangkul bahuku," Maaf!" Berkali-kali ia meminta maaf padaku.
Aku di ajak mas Adzam keluar dari kamar.
Aku masih sesenggukan, hingga mama yang sedang di teras rumah memilih masuk menghampiri kami.
" Ada apa?" Mama bertanya dengan rasa penasaran.
Aku hanya terdiam, hanya tangisanku yang masih terus menggema di rumah ini.
Mama memelukku, " Apa yang terjadi Adzam?" tanya mama menaikkan volume suaranya.
Mas Adzam masih terdiam, hingga pintu kamar ku terbuka. Tampak Hanum keluar menggunakan gamis milikku.
__ADS_1
Akhirnya kami duduk di ruang tamu, Aku, mama, Hanum juga mas Adzam.
Mas Adzam mulai menceritakan masalah tangisanku, " Adzam hanya ada di kamar bersama Hanum ma, tidak ngapa-ngapain." Mas Adzam berusaha membela dirinya.
Sebelum masalah ini selesai, Raka dan Ririn sudah selesai dengan tugasnya. Mereka tampak kebingungan melihat suasana yang masih tegang.
" Adzam, Hanum.. mama tahu kalian sudah sah menjadi suami istri, tapi alangkah baiknya kalian bisa saling menghargai. Apalagi kamu Adzam, tidak sepantasnya kamu berada di dalam kamar saat Hanum juga sedang di kamar. Seharusnya kamu berfikir sedang berada dimana. Lagian Afi sedang hamil, perasaanya sudah pasti sangat sensitif." Mama tampak menasihati mas Adzam dan Hanum.
Akhirnya setelah meminta maaf padaku, Hanum izin pamit pulang. Mas Adzam mengantarkan Hanum pulang.
Setelah selesai semua mama pun pulang bersama Raka dan Ririn.
kini tinggal aku sendiri di rumah ini. Perasaan sedih masih bergelayut di hatiku.Di rumahku, di kamarku, Apakah mereka sudah tidak bisa menahan lagi?
" sayangku.. maafin ibu ya.. kamu jangan sedih di dalam perut ibu, biar ibu saja yang sedih." Aku mengusap perutku lembut.
Aku melihat jam yang ada di dinding, sudah pukul delapan. Mas Adzam belum pulang. Mungkin ia akan menginap di rumah Hanum.
Aku kembali terisak-isak, hidup ku seakan di permainkan oleh takdir.
Jarum jam terus berputar, malam semakin larut. Tring! Terdengar bunyi handphone ku.
Ada pesan dengan pemilik bernama mas Adzam.
( Yang, maaf malam ini aku tidak pulang.)
Aku menghela nafas panjang. Mencoba berulangkali untuk istigfar. Agar tidak ada rasa kecemburuan yang bersarang di hatiku.
Dengan berbesar hati aku membalas pesan mas Adzam, ( Iya mas, gak papa.)
Hanya itu tidak lebih dan tidak kurang. Ada yang perlu aku garis bawahi dan perlu aku ingat, bahwa Hanum juga istri mas Adzam. Sudah sepatutnya ia mendapatkan hak dan kewajiban yang sama sepertiku.
Aku merebahkan diriku diranjang, ku tutup tubuhku dengan selimut agar merasa hangat. Mencoba memejamkan mata meski sangat sulit. Bayangan mas Adzam dan Hanum sedang bercinta melintas di pikiranku. Ah, Aku kembali bangun dari tidurku. Mengapa aku harus kepikiran mereka sih? Aku menjambak rambut ku, agar pikiran kotor yang bersarang di kepalaku hilang.
__ADS_1
Akhirnya aku mengambil handphone, sasaran utamaku adalah mengecek pembaharuan status di aplikasi hijau. Ada status Hanum, lima menit yang lalu, Dengan rasa kepo yang besar, aku pun membuka status itu. Ada photo dua telapak tangan yang saling menggenggam dengan caption Malam ini malam terindah.
Ada rasa geram, ingin rasanya aku marah pada mas Adzam, Jariku sudah siap mengetik pesan buat mas Adzam, namun ada keraguan untuk mengirimnya.
Bodoh! Aku memukul Kepalaku sendiri.
Tangisanku mulai menjadi-jadi. Aku menggigit bibirku agar suara tangisanku tak keluar. Justru selain merasakan sakit, aku juga merasakan asin darah yang keluar dari bibirku.
Aku keluar dari kamar. Duduk di depan televisi. Memperhatikan sekeliling rumah ini.
Sepi! Foto pernikahanku dan mas Adzam masih tergantung rapi didinding dengan senyum kebahagiaan. Jam didinding mulai merangkak turun, pukul dua dini hari.
Suara deru mobil masuk ke halaman rumah kami. Aku mengintip dari celah horden jendela. Mas Adzam pulang, jam segini? Ada perasaan aneh. Apa kah mas Adzam sudah selesai dengan urusan di bawah perut? Urusan daging sejengkal yang terkadang membuat laki laki terlena atas kenikmatannya. Apakah mas Adzam menyukai gaya bercinta Hanum? semakin banyak pertanyaan-pertanyaan kotor yang menari-nari di kepalaku.
Tidak seperti hari-hari yang lalu, aku tak pernah menyambutnya ketika pulang. Hari ini sebelum mas Adzam membuka pintu rumah kami. Sudah lebih dulu aku membuka pintu ini dengan lebar-lebar.
Mas Adzam terkejut, saat melihatku? Apa yang membuatmu terkejut mas? Penampilanku kah?
Ia mendekatiku, menelisik setiap jengkal wajahku. Tatapannya jatuh pada dadaku? Ia mengendus?
" Darah?" tanya mas Adzam padaku.
Aku masih tersenyum menyambutnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
" Mas, kamu sudah pulang?" Aku menyambutnya dengan senyuman termanis ku.
" Baju mu kenapa berdarah Yang?" Mas Adzam masih membahas darah yang ada di bajuku.
Darah dari bibir yang ku gigit saat menahan tangisan ku.
" Fi..?" Mas Adzam mengguncang kedua bahuku.
Aku hanya tersenyum menatap mas Adzam.
__ADS_1