
Aku tidak pernah menyangka jika pak Rizky menaruh rasa padaku.
Pak Rizky adalah seorang duda tanpa anak.
Istrinya meninggal karena sakit kanker stadium akhir sejak lima tahun yang lalu.
Lalu apakah aku harus menerima lamaran pak Rizky?
Ah, aku berusaha membuang pikiran ku tentang pak Rizky atau pun mas Adzam. Lima tahun berdiri di kaki sendiri tanpa bantuan siapa-siapa, nyatanya aku mampu melewati masa-masa sulit itu.
Sekarang bagiku adalah bagaimana memberi pengertian kepada Tari agar tidak bertanya tentang ayahnya lagi.
Setelah selesai mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga, hari ini aku ingin menjelajah dunia maya. Ada kerinduan karena menghilang sejak lima tahun lalu.
Aku mulai menjelajah aplikasi berlogo biru,namun saat hendak memposting foto ku Tari,aku teringat sesuatu.
Ya Allah, aku lupa hari ini adalah hari lahir Tari yang kelima tahun, " Bodoh! kenapa aku bisa lupa? Biasanya setiap pagi aku sudah menyediakan kue dan tiup lilin, aku juga akan memasak nasi kuning dan merayakan berdua saja dengan Tari. Apa karena aku terlalu banyak pikiran?" Aku sibuk mengomel pada diriku sendiri.
Lalu dengan cepat aku menuliskan sebuah foto, Alhamdulillah.. kami baik-baik saja disini. Selamat ulang tahun untuk anak semata wayangku, Bintari Iswara yang ke lima tahun, semoga panjang umur, sehat selalu dan selalu lah jadi kebanggaan ibu.
Setelah selesai aku segera meletakkan handphone dan segera berkutat di dapur menyiapkan kejutan kecil untuk Bintari, putri kesayanganku.
****
Alhamdulillah.. akhirnya aku bisa menyelesaikan semuanya dengan tepat waktu. Ulang tahun yang kelima kali ini tidak pakai kue hanya ada nasi kuning yang ku hias semenarik mungkin.
Untuk sementara nasi kuning ini ku sembunyikan. Aku segera membangunkan Tari dan menyuruhnya mandi. Sementara aku menyiapkan baju cantik yang sudah lama tidak terpakai. Rencana ku sore ini aku akan mencoba live di aplikasi biru.
" Ibu, Tari cantik sekali hari ini."
Putri semata wayang ku tampak senang dengan penampilannya hari ini. Gaun warna pink ia gunakan. Walau bukan gaun baru, namun masih tampak bagus karena jarang di pake.
Aku mendudukkan Tari pada sebuah kursi, aku juga sudah menyiapkan meja untuk nanti digunakan sebagai sebagai tempat nasi kuning.
" Ibu,kita mau ngapain sih bu?" Ia tampak berceloteh sendiri.
Aku menyiapkan kamera depan kearah Tari. Aku ingin neneknya, tantenya, omnya juga ayahnya melihat anakku yang sekarang.
Setelah semua sudah beres, aku membawa nasi kuning ke hadapan Tari sambil bernyanyi, " Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday to you..." Sambil menyanyikan lagu ini, mataku sudah basah.
Aku dan Tari sudah berada dalam satu kamera, sudah tampak beberapa mata di layar handphone ku.
__ADS_1
" Selamat ulang tahun anak ibu, putri semata wayang ibu..." Aku memeluk Tari.
Seperti tahu yang sedang kurasakan, anakku ikut menangis.
" Terimakasih ibu.. karena sudah kasih kejutan." Ucapnya malu-malu.
" Anak ibu, jantung hati ibu, tera kasih sudah hadir di dalam kehidupan ibu, terima kasih sudah menemani ibu, terima kasih sudah berdiri disamping ibu, terima kasih sudah membuat ibu menjadi kuat."
Dan live pertama ku ini di lihat oleh puluhan mata, salah satunya ada mas Adzam dan juga Ririn.
" Ayo, kamu ucapin doa kamu." Perintahku pada Tari.
" Ya Allah.. Tari rindu sama ayah, Tari ingin ketemu sama ayah, tolong bilangin ke ayah ya Allah..."
Setelah Tari siap berbicara aku mematikan siaran live tersebut. Cukup sudah memberi kabar pada mereka jika kami baik-baik saja disini.
" Tari kenapa sedih?"
" Tari ikut-ikutan biar kaya ibu."
Ucapan polosnya sontak membuat aku tertawa.
Ternyata dia masih polos. Kini tari sedang menikmati nasi kuning buatan ku Sesekali ia terlihat kepedasan.
Apa kamu sedang berpura-pura mas? Entah mengapa aku tidak lagi bisa percaya padamu.
Komentar yang kedua masuk dari Ririn, ( Tari, tante kangen. Dimana kalian tinggal? Tante mau jemput sekarang biar kita kumpul lagi.)
Puluhan pesan masuk dari Ririn, Raka, juga mas Adzam.
Intinya mereka semua rindu pada kami disini.
Tiba -tiba handphone ku berbunyi, ada nomor tanpa nama.
Aku menekan tombol hijau. Handphone ku tempelkan di telinga.
" Halo Afi.."
Terdengar suara dari sebrang.
" Afi, mas tahu kamu dengar suara mas. Afi tolong jangan matikan telepon ini. Kita perlu bicara Afi." Suara di sana terdengar panik. Mungkin takut aku mematikan telepon sepihak.
__ADS_1
Aku masih diam, tak mampu untuk sekedar say hello pada mas Adzam.
" Fi, kamu boleh marah pada mas, kamu boleh benci mas seumur hidupmu. tapi please, beri waktu sama mas supaya bisa ketemu sama Tari. Lima tahun lamanya mas memendam rindu pada darah daging mas sendiri."
Aku masih diam menahan tangis mendengar semua ucapan mas Adzam.
" Please, izinkan mas berbicara dengan Tari, izinkan mas mengucapkan selamat ulang tahun padanya." Dari seberang terdengar suara mas Adzam yang memohon.
Aku mendekatkan menghidupkan loud speaker handphone agar Tari bisa mendengar ayahnya berbicara.
" Siapa bu?" Tari berbisik padaku.
" Ayah." Ucapku pelan.
Sontak Tari merebut handphone dari tanganku.
" Assalamu'alaikum ayah..." Tari menyapa ayahnya dengan suara riang dan gembira.
" Ayah, Tari rindu! " Ucap Tari lagi.
" T- tari ini ayah, nak. ini ayah." Ucap mas Adzam. Dari suaranya mas Adzam sama sepertiku, sedang menahan tangisan.
Apakah ia terharu dengan takdir hari ini?
" Tari, ayah rindu!" Ucap mas Adzam lagi.
"Ayah, jemput tari, yah! Tari pengin jumpa ayah!" Sekarang Justru Tari yang menangis.
Apakah ini waktu yang tepat untuk pertemuan Tari dan mas Adzam?
" Iya sayang, ayah pasti jemput Tari. Tapi ayah harus minta izin sama ibu, ya."
" Oke ayah... Tari tunggu ayah besok ya..."
Tari memberi handphone itu pada ku, selanjutnya ia sudah bermain dengan teman-temannya.
Ah, anak sekecil Tari memang susah di tebak. Sebentar sudah sedih, sebentar sudah nangis, sebentar sudah senang, sebentar lagi uda tertawa. Dia belum tahu apa artinya sedih itu. Nyatanya kini ia sudah tertawa bermain bersama teman-temannya..
" Afi, mau kah kamu memberi alamat tempat tinggal mu? Bukan aku saja yang rindu, mama pun sangat merindukan kalian. Ririn, Raka mereka rindu pada kalian. Ayolah Afi, tolong bicara, jangan diam. Jika kamu tidak bisa memaafkan mas, setidaknya kamu todak ikut menghukum mama agar tidak berti dengan cucu kandungnya sendiri.
Klik!
__ADS_1
Aku memutuskan sambungan telepon.
Aku belum siap untuk bertemu dengan kamu,mas.