Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 14


__ADS_3

Aku masuk kekamarku di ikuti oleh mas Adzam.


Aku mengambil sesuatu untuk mas Adzam.


" Apa ini?" tanya mas Adzam heran.


" Bukalah mas!" perintahku.


Mata mas Adzam membulat, kaget membuka amplop yang kuberikan padanya.


" Berlibur ke Bali?" gumamnya.


" Iya, buat kamu dan Hanum, mas..."


" Cuma mas dan Hanum?" Tanyanya heran.


" Iya mas.." jawabku singkat.


" Lalu kamu? Bagaimana bisa kamu memberikan liburan ke Bali pada orang lain, sementara kamu sendiri belum pernah kesana. Bukankah itu impian kamu? Impian kita berdua,Fi?" Wajah mas Adzam tampak memerah menahan amarah.


" Hei lihat aku, mas? Satu persatu impian kamu akan terwujud. Impian kamu berlibur ke Bali sudah aku wujudkan, sebentar lagi impian kamu untuk mempunyai anak juga akan terwujudkan? Lalu mengapa kamu marah padaku?"Aku menatap mas Adzam.


" Aku ingin pergi sama kamu.. Aku ingin melewati kebahagian ini sama kamu.. Kamu yang sudah menemani aku dari nol, dari aku yang gak punya apa-apa."


" Mas, jangan pernah memikirkan perasaanku, Aku tidak sempurna. Aku tidak layak bahagia." Ucapku menahan tangis.


" Pergilah berbulan madu dengan Hanum. Sekarang Hanum adalah istri kamu juga. Berbahagialah lah mas..." Ucapku sesenggukan.


Mas Adzam merengkuhku kedalam pelukannya. Kami menangis bersamaan. Bahkan baju kami sudah basah dengan air mata kami.


" Maafkan aku ya yang..." Ucap mas Adzam sesenggukan.


Setelah merasa agak tenang, aku mulai membereskan pakaian dan perlengkapan milik mas Adzam.


" Sudah siap..." Aku berteriak dengan riang.


Mas Adzam hanya diam menatapku.


" Selamat berbahagia ya mas.." ucapku lirih.


Ia berjalan mendekatiku. Memelukku dan mencium pelan bibirku.


aku membalas ciuman mas Adzam.


Sejenak kami terlibat dengan ciuman panas.


Ciuman mas Adzam semakin liar hingga ke batang leherku. Membuat nafsuku semakin menggebu.


Entah Siapa yang memulai hingga siang ini kami melakukan hubungan intim. Padahal di luar orang sedang menunggu kami, terutama Hanum.

__ADS_1


Kami hampir satu jam berada dikamar. Kini kami terkapar bak ikan yang tak terkena air. Jangan tanya baju dan kamar ini sudah berserakan bak kapal pecah. Aku dan mas Adzam bangun, kami membersihkan diri dari pertarungan suami istri yang baru kami lalui.


Mas Adzam sudah tampil rapi. Koper berisi pakaian sudah siap.


" Aku pasti akan rindu kamu." bisik mas Adzam ditelingaku.


" Berbahagialah mas, aku juga pasti akan merindukanmu." ucapku mengharu biru.


" Jaga diri baik-baik. Jangan lupa kunci pintu, kalau tidak berani dirumah tidur di rumah mama." pesan mas Adzam.


Aku mengangguk. Sekali lagi, mas Adzam ******* bibirku.


Aku membuka kamar. Kami keluar kamar berbarengan. Aku menghampiri Hanum, " Silahkan bersiap-siap, hari ini kalian akan pergi ke Bali." Ucapku sambil menyerahkan anplop pada Hanum.


" Maksudnya?"


Hanum seperti tak mengerti arti ucapanku.


" Bacalah!" perintahku.


Hanum membuka amplop itu dan membacanya, " Bulan madu ke Bali?" Ia menatapku penuh arti. Meminta penjelasan.


" Ini serius?" tanyanya lagi


Aku mengangguk kan kepalaku.


Tiba-tiba ia memelukku dengan erat.


" Tidak ada artinya untuk seorang istri mas Adzam dan calon ibu dari anak-anak kami nanti." jawabku lirih


" Segera berkemas, nanti tertinggal pesawat " ucapku.


Hanum pun segera masuk kedalam kamar memberesi semua perlengkapannya. Sementara kami menunggu di ruang tengah.


" Num, segeralah! pemberangkatan dua jam lagi. Takutnya ada kemacetan di jalan." ucapku setengah berteriak."


" Iya Fi sebentar.." teriak Hanum dari dalam kamar.


Tak berapa lama, akhirnya Hanum muncul.


Penampilannya begitu memukau, aku terpesona. Tak kalah untuk bersanding dengan mas Adzam batinku.


Kami semua mengantar pengantin baru di depan pintu.


Mas Adzam dan Hanum menyalami mama dan keluarga yang lain.


Kini mas Adzam tiba bersalaman denganku, " Baik-baik dirumah dan jangan lupa kunci pintu. Kalau ada apa-apa, langsung telepon mas ya..!" pesan mas Adzam padaku


Mas Adzam dan Hanum naik kedalam mobil diantar sama Raka ke bandara. Kami semua melambaikan tangan atas kepergian mereka berdua.

__ADS_1


Kini sosok pengantin bar itu sudah lenyap dan dari pandangan kami. Kami masuk kedalam rumah.


Mama dan keluarga mas Adzam kembali melanjutkan obrolan mereka yang terputus.


Kini aku merenungi kepergian mas Adzam dan Hanum.


Aku dan mas Adzam pernah berencana jika suatu saat kamu pasti bisa pergi ke Bali. Nyatanya aku yang memberangkatkan mereka berdua bulan madu.


Sebentar lagi mas Adzam akan merasakan surga dunia dengan wanita lain. Apakah mas Adzam bahagia?


***************


Keluarga mas Adzam sudah berpamitan pulang,termasuk mama dan adik-adik.


Mama sempat mengajakku untuk tinggal beberapa hari dirumahnya, namun aku menolak dengan dalih ingin di rumah saja.


Aku mulai memberesi rumah, dimulai dengan mencuci piring, menyapu rumah dan memberesi kamar ku yang berantakan, sisa cinta sekejap antara aku dan mas Adzam.


Ku pandangi foto pernikahan kami yang tergantung di dinding. Foto dengan sejuta kenangan terindah antara aku dan mas Adzam. Berair sudah sudut mataku.


Tring...


Satu pesan masuk. Nama mas Adzam terpampang di layar, ( Yang.. mas akan naik pesawat, hp akan mas matikan. Nanti kalau sudah sampai mas kabari ya..)


Aku menjerit sekuatnya berharap sesak tang menghadang di dada hilang.


Aku meratap sendirian. Rasanya aku sebentar lagi aku akan menjadi gila. Tangis yang selama ini ku tahan akhirnya ku keluarkan.


Sudah berjam-jam aku menangis, namun air mataku belum juga berhenti. Jangan tanya kamar ini sudah tidak berbentuk rupa. Aku tidak tahu melampiaskan rasa kesal ku kepada siapa. Karena yang paling bersalah adalah aku, aku yang menggali lubang dalam kehidupan rumah tangga ku hingga aku juga yang harus tercebur di dalam lubang itu. Aku yang menciptakan prahara dalam rumah tanggaku, aku tang menciptakan neraka di dalam rumah tanggaku. Jika aku merasa tersakiti itu pun atas ulahku sendiri.


tring...


Pesan dari mas Adzam masuk lagi,( Yang aku sudah sampai.)


Aku mematikan handphone, melemparnya keatas lemari. Aku hanya ingin tenang, tanpa kepikiran dengan mas Adzam dan Hanum.


Sebentar lagi...sebentar lagi mereka akan...


Ya Allah...aku tidak sanggup menerima kenyataan bahwa sebentar lagi mas Adzam akan menyentuh wanita lain, bahkan lebih dari itu.


Sebentar lagi mas Adzam akan bercinta dengan Hanum.


" Aa....." jeritku tertahan.


Ada luka yang tak berdarah tapi begitu menyakitkan.


Malam mulai datang, jam didinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan sejak siang tadi aku tidak beranjak dari kamar ini. Mataku sudah terasa berat. aku bangkit menghadap ke cermin. Penampilanku sudah tak karuan. Mataku bengkak karena terlalu lama menangisi mas Adzam dan Hanum.


Mungkin sekarang mas Adzam dan Hanum sedang menikmati malam pertama mereka.

__ADS_1


Ini adalah malam yang tidak pernah ku lupakan. Bahkan yang di pikiranku saat ini adalah wajah-wajah mereka berdua yang bahagia menikmati peluh penuh cinta.


Aku membiarkan rumah ini gelap tanpa menghidupkan satu lampu pun. hanya lampu kamar yang redup ku hidupkan.


__ADS_2