Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 46


__ADS_3

Sesampai di rumah, Suasana rumahku uang dulu bersih kini tal ubahnya seperti kandang kambing. Kotoran cicak berserakan dimana-mana.


" Hanum.. sudah berapa lama rumah ini tak tersentuh sapu?" Batinku dalam hati.


Aku melihat ada sandal orang dua pasang di depan rumah. Satu sandal perempuan dan satu lagi sandal laki-laki. Aku yakin jika Hanum sedang bersama selingkuhannya didalam rumah.


Aku menyuruh Raka untuk menjemput pak RT. Kami harus menggerebek Hanum dan selingkuhannya.


Setelah pak RT datang, aku membuka pintu rumah ini dengan kunci duplikat yang ku punya.


Sepi sekali suasana rumah ini. Lantai ini penuh dengan debu. Sasaran utamaku adalah kamar pribadiku. Aku membuka pintu kamar ini pelan-pelan dan berusaha tidak menimbulkan suara.


Saat pintu terbuka, betapa terkejutnya kami karena.. Ada sepasang manusia tanpa sehelai benang sedang tertidur pulas.


Oh Tuhan inikah jalanmu agar kami bisa terlepas dari Hanum?


Untuk kedua kalinya aku melihat Hanum seperti toples bening,dan transparan meski kali ini tidak bersama dengan mas Adzam.


Aku memilih menunggu di ruang tamu, Ada rasa malu yang berkecamuk di dalam hatiku.


Hanum, mengapa harus terjadi seperti ini?


Maafkan aku Hanum, karena ini semua terjadi atas andil aku juga.


Aku mengurut kepalaku yang mendadak pusing. Begitu banyak hati yang harus tersakiti.


Hanum dan selingkuhnya sudah bangun. Kami semua sudah menunggu di ruang tamu. Ia sudah tampil rapi.


Mata kami saling bertemu, ada rasa iba menatapnya. Ia membuang pandangannya.


Kini ia sudah bergabung bersama kami di ruang tamu.


" Siapa lelaki itu, Hanum?" Aku bertanya langsung tanpa basa-basi lagi.


Ia masih diam mengunci mulutnya. Dan pak RT memberi solusi pada kami agar Hanum meninggalkan lingkungan rumah ini.


Tanpa persetujuan mas Adzam aku memberikan hak rumah yang kami berikan dulu pada Hanum. Rumah itu kurasa setara untuk Hanum karena dulu mau menikah dengan mas Adzam.


Akhirnya satu masalah telah selesai. Istanaku kini telah kosong, hanum dan selingkuhannya juga telah pergi. Aku bisa sedikit bernapas lega.


Tapi apa mas Adzam akan percaya padaku jika tahu Hanum telah kami usir dengan alasan ia sudah kumpul kebo dengan pria berondong.


****

__ADS_1


Aku dan Raka sudah kembali kerumah.


Mas Adzam masih tidur, kata mama habis minum obat makanya mengantuk.


Tari juga sedang tidur di samping ayahnya.


Aku tersenyum bahagia menatap wajah mereka yang bagai pinang di belah dua.


****


Ini adalah hari ke tiga puluh mas Adzam tinggal di rumah mama. Kini mas Adzam sudah pulih sedia kala. Mobil mas Adzam pun sudah di perbaiki oleh Raka.


Mas Adzam hari ini tampak lebih tampan. Ia sudah wangi, menimbulkan rasa curiga. Mau kemana mas Adzam? Apakah ia rindu dengan Hanum?


Aku masih menyuapi Tari kala ia meminta izin pergi padaku. Aku hanya mengiyakan saja. Ku pikir selama ini mas Adzam hanya dirumah, mungkin ia perlu jalan-jalan untuk menghirup udara segar.


Hari mulai beranjak siang, namun belum tampak mas Adzam pulang. Hatiku mulai gelisah, kemana dia? Takut sesuatu yang buruk menimpa mas Adzam lagi.


Tring! Satu bunyi pesan masuk ke handphone ku. Karena masih memberi ASI pada Tari akhirnya aku membiarkan handphone ku berbunyi.


Setelah Tari tertidur pulas, barulah aku memulai aktivitas ku untuk mandi. Jujur, selama punya Tari,aku terlalu sibuk dengan putri kecilku. Walaupun ada mama yang membantuku mengurus Tari, namun aku tidak mau kehilangan momen bersama Tari.


Setelah punya Anak penampilanku jauh lebih buruk. Mandi kadang cepat, kadang lama. Intinya aku tidak punya banyak waktu untuk mengurus diriku sendiri. Waktuku habis hanya untuk mengurus tari dan keperluan Tari.


Hubunganku dengan mas Adzam mulai membaik, namun kami belum pernah melewatkan waktu bersama.


Saat sore sudah tiba, aku baru teringat dengan ponselku yang berbunyi tadi. Saat akan mengambil ponsel, aku mendengar suara mobil mas Adzam memasuki pekarangan rumah mama.


Seketika aku melongok dari balik jendela.


Benar saja mas Adzam sudah pulang. Dari mana dia? Aku memperhatikan dengan seksama, tiada yang berbeda.


Aku berusaha mengusir pikiran negatif yang mulai bersarang di otakku.


Aku kembali fokus pada ponselku, ku buka aplikasi berwarna hijau.


Ada pesan dari nomor yang tidak ku kenal.


Ternyata sebuah foto, karena sinyal kurang bagus, jadi prosesnya agak sedikit lama.


Mas Adzam masuk kekamar, aku bersalaman dengan mas Adzam. Ia mencium keningku. Ada sedikit rasa aneh, karena aku mencium wangi parfum seseorang yang menempel di baju mas Adzam.


Aku mengingat-ingat bau parfum itu, namun tak juga bisa ingat.

__ADS_1


" Kenapa Fi?"


Mas Adzam merasa aneh melihat aku termenung menatapnya.


Aku hanya menggeleng, dan melanjutkan membuka pesan gambar yang belum terbuka tadi.


" Allahuakbar!" Dadaku terasa lemas. Aku jatuh kelantai. Kaki ku terasa tidak mampu untuk menopang berat badanku.


Gambar itu...


Mas Adzam berusaha untuk membantu ku Namun aku melarangnya, " Jangan sentuh aku!" Pintaku marah.


Tari terbangun menangis karena mendengar suara gaduh antara aku dan mas Adzam.


Saat mas Adzam mau menyentuh tari aku kembali melarang mas Adzam, " Jangan sentuh anakku!" Teriakku berang.


" Pergi dari sini!" Usir ku pada suamiku sendiri.


Aku mendorongnya hingga ia keluar dari kamar ini.


Aku menutup pintu dengan keras dan menguncinya.


Ku raih Tari dari atas pembaringan. Kini aku fokus untuk mendiamkan Tari agar lebih tenang.


" Sayang.. maafin ibu ya uda buat tidur kamu terganggu." Berkali-kali aku meminta maaf pada Tari. Kini aku memberi ASI pada tari dan dia sudah mulai tenang.


Kini luka di hatiku menganga lagi. Belum lama luka itu sembuh namun harus kembali disayat-sayat.


Mengapa takdir kehidupan seperti bermain-main dengan ku.


" Ya Allah.. boleh tidak aku bahagia sebentar saja. Boleh tidak sebentar saja aku menikmati hidup dengan tenang?"


Aku seperti putus asa dan seperti protes pada sang pencipta.


" Fi, buka pintunya!"


Terdengar suara mama memanggil-manggil namaku.


Namun aku tidak perduli. Batinku begitu lelah harus menghadapi mas Adzam yang seperti ini.


Ririn pun ikut mengetuk pintu kamarku.


" Ya Allah,apa yang harus kulakukan? Haruskah aku pergi dari rumah ini?" Aku berbicara sendiri.

__ADS_1


Bagaimana aku bisa tenang jika mas Adzam masih bertemu dengan Hanum? Apa maksud Hanum mengirim foto mesra mereka padaku? Bukankah aku dan Hanum sudah membuat perjanjian agar Hanum pergi dari kehidupan mas Adzam, Tapi nyatanya Hanum tidak bisa lelah menjerat mas Adzam untuk tetap kembali padanya.


Bukan kah rumah itu sudah kuberi pada Hanum, sebagai gantinya aku meminta Hanum untuk mengurus surat cerai. Lalu apa artinya semua ini?


__ADS_2