Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 21


__ADS_3

Aku seperti orang gila, sebentar sudah menangis, sebentar lagi aku sudah tertawa. Tanganku masih memegang testpack bergaris merah dua.


Tiba-tiba suara mobil terdengar masuki halaman rumahku. Aku berjalan ke depan mengintip sari balik jendela. Siapa yang datang? mobil mas Adzam? Aku melihat mas Adzam berlari ke arah pintu rumah.


Aku membuka pintu.


Tanpa kuduga ia menggendong ku, Kami menangis berbarengan.


Mas Adzam berkali-kali mengusap dan mencium perutku.


Setelah kami berdua cukup tenang, mas Adzam mengajakku periksa ke dokter.


" Bersiaplah hari ini kita periksa ke dokter. "


Tanpa membantah aku segera pergi mandi. Lagi-lagi aku gagal fokus melihat perutku yang sudah membuncit.


Aku juga mengingat-ingat kapan terakhir kali aku datang bulan.


Sampai aku selesai mandi tak juga aku mengingatnya.


Kami segera pergi ke dokter kandungan. Butuh waktu tiga puluh menit untuk sampai ke klinik.


Sepanjang perjalanan aku bercerita banyak hal. Salah satunya, aku lebih sering membeli rujak, dan setiap ada penjual makanan lewat aku juga tak pernah absen untuk membelinya.


Dan kini kami sudah sampai di klinik. Aku di minta untuk melakukan USG agar lebih jelas.


Jantung ku berdetak kencang. Aku takut kecewa untuk yang kedua kalinya.


" Alhamdulillah ya bu, ibu positif hamil. sudah berusia tiga bulan." Bu dokter menjelaskan.


Aku dan mas Adzam saling memandang. Aku mengusap wajahku yang sudah basah.


" Anak ke berapa bu?" Bu dokter bertanya lagi pada kami.


" Anak pertama buk. Penantian selama hampir enam tahun." jelasku lagi.


" Masya Allah.. Mudahan-mudahan selamat, sehat bayi dan ibunya ya bu." ucap bu dokter mendoakan kami.


Setelah membayar administrasi dan membawa pulang vitamin akhirnya kami pulang kerumah.


Sebelum pulang, kami mampir sebentar ke swalayan untuk membeli susu ibu hamil.


Sepanjang perjalanan pernikahan, ini adalah momen terindah dalam hidupku.


Mas Adzam menggandeng tanganku, kami memasuki swalayan dan bingung untuk memilih susu ibu hamil.


" Yang mana yang?" Tanya mas Adzam.


" Yang rasa cokelat saja lah mas." Jawab ku lagi.


Aku juga membeli beberapa cemilan untuk dirumah nanti. Entahlah, selera makanku begitu meningkat akhir-akhir ini.


*****


Kami sudah tiba di rumah, aku langsung membersihkan diri agar lebih bersih dan segar.


Aku melihat mas Adzam sedang menelpon seseorang. Aku tidak berani mendekat, takutnya hanya menyakiti jika nanti mendengar pembicaraan mas Adzam dan Hanum.


Ya Allah, mengapa takdir seolah-olah bermain-main denganku?

__ADS_1


" Yang?" Terdengar suara mas Adzam memanggilku.


Aku masih terdiam di balik pintu. Kuusap sudut mataku yang berair.


Pelan-pelan aku mendekati mas Adzam, sepertinya ia sudah selesai menelpon.


" Yang, Bentar lagi mama dan adik-adik mau datang." Terdengar riang suara mas Adzam.


" Mas Adzam sudah mengabari mama?"


" Belum, mas hanya bilang suruh kerumah saja sekarang ada yang penting." jawab mas Adzam.


Tidak menunggu waktu lama untuk kedatangan mama dan adik-adik.


Saat bel berbunyi, aku dan mas Adzam segera bangkit untuk membuka pintu.


" Assalamu'alaikum..." Mama mengucap salam.


" Waalaikumsalam, mamaku.."


Kami berpelukan erat, seperti sudah lama tidak pernah berjumpa.


" Kamu gendutan sayang?" Tanya mama heran sambil memperhatikan postur tubuhku.


Aku juga berpelukan dengan adikku yang paling baik, Ririn.


" Masya Allah.. mbak Afi.. tampak tentram sekali."


Aku hanya tersenyum, akhirnya sekian lama, mereka bisa berkumpul lagi dirumahku.


Seperti biasa kami berkumpul di ruang keluarga,


Mas Adzam menepuk jidatnya." Lupa Yang." jawabnya lagi.


Mas Adzam memberikan handphone nya padaku, " nih telpon sendiri "


Aku pun menelpon Hanum, terdengar suara manja Hanum di seberang.


" Num, bisa datang kerumah?"


Aku mendengar perubahan suara pada Hanum. Ia gugup setelah tahu aku yang menelponnya.


Setelah mengiyakan akhirnya aku memutuskan sambungan di telepon.


" Nelpon siapa?" tanya mama heran.


" Hanum, ma." jawab ku singkat,


" Jadi rencana kita apa nih? Masa ngumpul gak makan-makan?" tanya Ririn lagi. sedangkan Raka masih dengan gaya dinginnya bagai beruang kutub.


" Tanya Afi deh hari ini ma makan apa." ucap mas Adzam.


Mama menatapku penuh selidik. Aku hanya senyum-senyum tak jelas.


Mama berjalan kedapur, ingin melihat bumbu dapur.katanya nanti baru tahu masak apa.


Ya Allah aku lupa menyimpan susu hamil yang masih tergeletak di atas meja.


" Afi.. Adzam! " mama memanggil kami dari dapur.

__ADS_1


Ririn dan Raka yang panik segera berlari kedapur. Mas Adzam pun begitu juga mengambil langkah seribu. Aku mengikuti mereka.


Tampak mama sedang memegang susu ibu hamil. Aku dan mas Adzam saling berpandangan.


" Ada apa sih ma?" Ririn tang panik langsung bertanya sama mama.


" Mama kenapa? jerit - jerit gak jelas." Ucap Raka sambil masang wajah bete.


" Ini apa?" tanya mama.


" Serentak dan kompak kami menjawab, " Susu!"


" Iya tahu! Siapa yang minum susu hamil?" jawab mama lagi.


Semua mata memandangku, termasuk mas Adzam.


Serta merta mama menubruk ku," Kamu hamil?" tanya mama lagi.


Aku hanya mengangguk, Rasanya aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari mama. Lidahku terasa kelu. Dadaku pun menjadi sesak.


" Huuuhuuu..." Tiba-tiba saja mama sudah menangis memelukku.


Akhirnya kami nangis berbarengan di dapur. hanya Raka yang tidak terharu dengan kehamilanku. Kami berempat berpelukan.


" Ya Allah... terima kasih sudah memberikan kepercayaan kepada anakku..huhuu." sambil menangis mama masih sempat mengucap syukur.


" Kamu mual? kepalanya pusing?" tanya mama serius menatapku.


" Alhamdulillah enggak ma, adek bayi gak mau nyusahin ibunya." ucapku lagi.


" Sudah berapa bulan sayang?"


" Sudah tiga bulan ma." Jawab mas Adzam.


Kami mulai tenang, tidak ada suara tangisan lagi. Tiba-tiba Hanum sudah datang.


" Ada acara apa Fi?" tanya Hanum penasaran.


" Mbak Afi hamil mbak, makanya kami mau masak-masak buat acara syukuran." jawab Ririn sinis.


Entah mengapa Ririn tidak begitu menyukai Hanum sejak pertama aku mengenalkan pada keluarga mas Adzam.


" Kamu hamil Fi?" Tanya Hanum sepertintak percaya menatapku.


Aku hanya mengangguk, karena bingung harus bagaimana.


" Wah, selamat ya sayang..!" Hanum memberiku selamat dan memeluk ku erat.


Sesekali ia melirik mas Adzam. Ah, entahlah. Mungkin aku yang terlalu cemburu.


Akhirnya atas saran mama hari ini kamiau buat sedekahan yang akan di bagi-bagi kan ke tetangga kami.


Hanum ditunjuk mama untu berbelanja kepasar diantar Raka.


Dan kalau sudah mama yang menyuruh Raka, maka ia tidak bisa menolak.


Begitu pun Hanum, ia sepertinya ingin diantar kepasar oleh mas Adzam. Tapi sepertinya untuk saat ini mas Adzam sedang tidak ingin berjauhan denganku.


Mau tidak mau akhirnya Hanum san Raka pergi juga berbelanja. Sedang Ririn tampak senyum-senyum sendiri melihat wajah Raka dan Hanum cemberut.

__ADS_1


.


__ADS_2