
Mas Adzam masuk kedalam kamar. Ia memergokiku yang sedang bersembunyi di balik pintu kamar.
" Yang... ngapain bersembunyi di balik pintu?" Mas Adzam kemudian menutup pintu kamar.
Kini ia keheranan menatapku yang tampil seperti ini di hadapannya.
Ia mendekatiku, Bahkan semakin dekat hingga tidak ada jarak lagi diantara kami berdua.
" Seksi." bisik mas Adzam di telingaku.
Aku menunduk malu. Seumur hidup dan seumur pernikahanku, baru kali ini aku memakai pakaian kurang bahan plus jaring-jaring seperti ini.
Aku merasa kurang nyaman dengan diriku hari ini.
" Maaf, em.. A..aku hanya ingin mencoba. Eh, minggir dulu mas, aku mau ganti baju. ucapku berusaha untuk mengendalikan diri agar tidak gugup nantinya.
" Tidak perlu ganti, sayang. Kamu cantik, menarik dan mempesona hari ini." Puji mas Adzam padaku.
" Serius?" Aku bertanya lagi karena kurang percaya dengan ucapan mas Adzam.
" Cantik... banget." Mas Adzam mengusap bahuku yang tidak tertutup. Suara mas Adzam pun mulai berubah serak, matanya mulai sayu. Sepertinya ia menahan sesuatu.
Ia memapahku keatas ranjang. Ranjang kami kembali hangat layaknya seperti pengantin baru. Selesai berhubungan intim dengan mas Adzam aku berdoa dalam hati agar kiranya kali ini hubungan kami membuahkan hasil. Dan secara diam-diam, selama mas Adzam sibuk dengan Hanum, aku selalu berusaha untuk berobat ke segala tempat. Mulai medis dan herbal.
Aku sendiri tidak tahu. Niatku begitu bulat berusaha agar rahimku kembali subur. Doa pun tak pernah ku hentikan. Aku harus punya anak!
Jam didinding sudah menunjukkan pukul sebelas. Tiba-tiba saja aku kepengen makan nasi goreng. Mas Adzam yang sudah terlelap pun ku bangunkan, " Mas.."
Berkali-kali aku menggoyangkan tubuh mas Adzam. Karena tidak juga terbangun akhirnya aku menangis sesenggukan di samping mas Adzam.
Seperti sadar mendengar suara tangisanku, akhirnya mas Adzam terbangun. Ia mengucek-ngucek matanya, " Kenapa?" Ia tampak heran melihat ku menangis.
Karena sudah terlanjur jengkel dengan mas Adzam, aku malah semakin mengeraskan suara tangisanku.
Mas Adzam tampak panik, ia mengguncang badanku, " Mana yang sakit Yang? Ngomong dong! Ini uda malam loh..!" Ucap mas Adzam lagi.
" Aku pengen makan nasi goreng mas? Tapi kamu gak mau bangun." ucapku sambil terus menangis.
Mas Adzam menepuk jidatnya detik selanjutnya ia tertawa sambil memegangi perutnya.
" Cuma pengen nasi goreng? Ya Allah Yang.. biasakan kamu buat sendiri." ucap mas Adzam lagi.
__ADS_1
Aku yang merasa di ejek melanjutkan tangisanku. Akhirnya dengan mata setengah ngantuk mas Adzam keluar untuk mencarikan aku nasi goreng.
Hatiku berubah menjadi riang, karena mas Adzam menuruti permintaanku.
Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya mas Adzam pulang membawa pesanan ku, nasi goreng!
Aku menuang nasi goreng kedalam piring. Aku dan mas Adzam menikmati nasi goreng yang masih hangat. Aku menatap telur mata sapi yang masih setengah matang. Seketika air liurku seperti ingin menetes.
Mas Adzam menatapku, ia seperti merasa sedang ku perhatikan. Tatapan ku masih kearah telur mata sapi setengah matang milik mas Adzam.
" Mau ini?" Mas Adzam menawarkan telurnya padaku.
Aku mengangguk kan kepala. Wajahku berubah menjadi riang.
" mas Adzam meletakkan telur miliknya kedalam piringku. Sebagai gantinya aku meletakkan telur milikku ke piring mas Adzam.
Aku begitu menikmati telur mata sapi setengah matang milik mas Adzam.
Nasi goreng milikku akhirnya habis tanpa tersisa, Mas Adzam tampak keheranan menatapku.
" Segitu laparnya Yang?" Tanya mas Adzam keheranan.
Aku hanya tersenyum sambil memegang perutku yang telah kenyang.
Rasa ngantuk begitu hebat menyerangku hingga sebentar saja aku sudah terlelap tidur.
*****
Pagi sudah datang, namun aku masih bergulung di dalam selimut. Berkali-kali mas Adzam membangunkan ku, namun mataku sama sekali tidak bisa di buka.
" Yang, bangun! "
Aku membuka sedikit mataku, Mas Adzam sudah tapi dengan pakaian kerjanya. Aku pun memaksa tubuhku untuk duduk.
" Kamu sakit Yang? kok tumben gini gak bisa bangun?" Mas Adzam heran menatapku. tangannya meraba keningku.
" Gak tahu nih mas, mataku terasa lengket. Selera makanku pun meningkat. Bawaannya pengen makan yang enak-enak dan seger-seger." ucapku lagi.
Mas Adzam menatapku, kini tatapannya pindah ke arah perutku. Ia semakin dekat denganku. Tangannya meraba perutku yang sedikit lebih buncit. Mas Adzam mengangkat lingerie milikku.
" Apaan sih mas?" tanyaku malu dan risih.
__ADS_1
" Yang, lihat deh perubahan perutmu?" tatapan mas Adzam masih fokus kearah perutku.
" Memangnya kenapa mas?" aku ikut memperhatikan perutku sendiri.
" Ini sejak kapan jadi lebih buncit? Coba deh berdiri!" Ucap mas Adzam lagi.
Aku menuruti ucapan mas Adzam,
" Nanti sore kita periksa ke bidan, Mas berangkat kerja dulu." Ucap mas Adzam berlalu meninggalkanku.
Selepas kepergian mas Adzam, aku berdiri mematung didepan cermin. Memperhatikan perutku yang lebih gendut.
Apa yang terjadi denganku?
Apa jangan-jangan aku hamil?
Aku segera mandi dan memakai baju seadanya. Tak lupa jilbab instan mengiasi kepalaku.
Aku buru-buru pergi ke apotek, tujuan utamaku adalah membeli testpack.
Aku membeli lima sekaligus. Tak sabar ingin cepat-cepat sampai rumah.
Begitu tiba di rumah, aku langsung menampung air kencingku dan mencelupkan Testpack kedalam air tersebut.
satu menit aku menunggu hasilnya. Pelan-pelan aku membuka mataku intuk mengetahui. dan ternyata... ada dua garis merah dan itu artinya aku... aku hamil!
Spontan aku melakukan sujud syukur. Aku tak kuasa menahan tangis. Hampir enam tahun pernikahan, dengan diagnosis dokter bahwa aku mandul. delapan puluh lima persen aku tidak akan bisa hamil.Nyatanya tiada yang mampu melawan takdir dari Allah. Jika Allah sudah berkehendak, Kun fayakun! Maka terjadilah.
Aku mengirim foto testpack positif hamil kepada mas Adzam. Tak sabar rasanya menanti reaksi mas Adzam.
Hanya menunggu sepuluh detik, handphone ku berbunyi. Nama mas Adzam tertera di layar handphone.
" Halo mas?" Bergetar sudah nada suaraku.
" Ini maksudnya apa Yang?" mas Adzam masih tak mengerti maksud dari foto tang ku ku kirim.
" Mas, Aku.. Aku hamil." Detik berikutnya hanya suara tangisku yang keluar. Aku sudah tidak perduli apa yang di ucapkan mas Adzam di telepon hingga mas Adzam menutup teleponnya aku masih saja menangis.
Aku seperti orang gila, sebentar sudah menangis, sebentar lagi aku sudah tertawa. Tanganku masih memegang testpack bergaris merah dua.
Tiba-tiba suara mobil terdengar masuki halaman rumahku. Aku berjalan ke depan mengintip sari balik jendela. Siapa yang datang? mobil mas Adzam? Aku melihat mas Adzam berlari ke arah pintu rumah.
__ADS_1
Aku membuka pintu.
Tanpa kuduga ia menggendong ku, Kami menangis berbarengan.