
Sekitar pukul tiga sore, atas persetujuan dari dokter akhirnya aku sudah boleh pulang. dan kembali kontrol satu minggu kedepan. Aku memberesi barang-barang ku sendiri. Aku membuka isi tas yang di bawa oleh mereka kemarin, Ternyata mereka tetap membawakan ijazahku di dalam tas. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur, Kupikir mereka akan membakar barang berharga milik ku satu-satunya.
Aku menyeret tas yang berisi pakaian kumal milikku.
Aku masih berdiri di depan rumah sakit karena tak punya tujuan pasti. Jika mencari kontrakan, aku takut karena hari sudah terlalu sore. Akhirnya ku putuskan untuk bermalam di hotel kelas melati saja. Yang paling penting malam ini aku aman dan bisa tidur nyenyak sejenak.
Ku ayun langkah ku pelan-pelan. Sesekali aku meringis merasakan perihnya perutku.
Dengan menaiki becak, aku meminta diantar ke hotel kelas melati saja. Dan sepertinya tukang becak ini sudah paham.
Kini aku sudah memesan satu kamar kecil, namun bisa memberi aku rasa nyaman. Dibandingkan dirumah mantan suamiku.
Aku bergidik membayangkannya.
Mengapa tidak dari dulu saja aku kabur dari istana mereka? Mengapa tunggu aku harus kehilangan rahim ku? Padahal bagi setiap perempuan, itu adalah aset terpenting dalam setiap membangun rumah tangga.
Kini aku tak ubahnya sampah yang tidak berguna. Dan kini aku mencoba pasrah dalam mengarungi perjalanan kehidupan di dunia ini.
****
Pelan-pelan aku kembali menata hidupku yang sempat semerawut.
Aku meninggalkan kampung yang penuh penderitaan ini. Hanya berbekal uang lima ratus ribu rupiah, aku mencoba mencari kontrakan kecil. Aku juga melamar pekerjaan di sebuah bidang pendidikan.
Yang terpikir saat ini, Aku ingin hijrah.
Disaat kehidupan ku mulai membaik, disitulah Allah mempertemukan aku dengan Afi.
__ADS_1
Ada rasa iri yang tertanam di sudut hatiku karena melihat kemujuran hidupnya. Mertua yang baik, ipar yang baik suami yang tampan, bahkan hidupnya bergelimang harta. Hanya satu yang ia tidak punya yaitu ANAK.
Agar tidak terkesan hidupku terlihat lebih melarat, akhirnya aku berusaha mengarang cerita mellow. Dan Afi adalah masih sama seperti Afi yang dulu pernah ku kenal, Polos. Ia percaya saja dengan cerita karangan ku.
Tak lupa kami bertukar nomor handphone, dan berjanji untuk saling menghubungi.
Hari berganti hari, siang ini aku bagai mendengar suara guntur di siang hari. Tak pernah ku sangka jika Afi memintaku untuk menjadi adik madunya. Ia ingin aku menikah dengan suaminya. Siapa yang bisa menolak jika suaminya begitu tampan juga kaya raya.
Aku sempat untuk jual mahal, pura-pura minta waktu untuk berfikir, padahal sejujurnya aku ingin langsung menerima permintaan Afi.
Aku kembali di desak Afi untuk menerima lamaran suaminya, akhirnya dengan malu-malu aku menerima lamaran Afi untuk menjadi istri kedua.
Tak sabar rasanya untuk menantikan hari bahagia itu datang. Sebentar lagi aku tidak perlu kerja keras untuk menghidupi diriku sendiri.
Aku tidak akan pernah membayangkan jika penderitaan ku akan berakhir dengan kebahagian. Benar jika ada pepatah mengatakan, Akan ada pelangi setelah hujan
Hari pernikahan yang kutunggu-tunggu akhirnya tiba, hatiku terasa berbunga-bunga. Sebagai wanita aku rindu belaian seorang pria.
Aku sudah tampil cantik dengan menggunakan kebaya putih senada dengan mas Adzam.
Calon suamiku begitu tampan dan gagah di tambah bonusnya mapan. Aku cekikikan sendiri dalam hati.
Tak lupa melirik kearah Afi, sepertinya hari ini ia tampak kacau. Matanya tampak sembab, mungkin terlalu lama menangis. Penampilannya pun jauh lebih sederhana.
" Afi.. ini baru permulaan." Gumamku dalam hati sambil tersenyum sinis.
Hatiku terasa dag dig dug kala melihat mas Adzam mulai menjabat tangan pak penghulu. Dan rasa lega seketika menjalar di dadaku, Kini aku sudah sah menjadi istri kedua mas Adzam secara agama dan negara.
__ADS_1
Tamu undangan dan tetangga sudah mulai pulang. Aku mulai sibuk memikirkan malam pertama kami nanti. Apa iya kami akan malam pertama di rumah ini? Apa Afi tidak akan semakin depresi? Aku menggelengkan kepala ku. Membayangkannya saja sudah sakit.
Acara sudah selesai, kini aku masuk kekamar tamu yang di sediakan khusus untukku. Sementara Afi dan mas Adzam masuk kekamar. Ada rasa cemburu melihat mereka. Apa yang akan mereka lakukan? Karena mereka tak juga keluar akhirnya aku memutuskan untuk mengganti pakaianku agar lebih nyaman. Kemudian aku kembali bergabung pada keluarga mas Adzam.
Tak berapa lama akhirnya mas Adzam dan Afi sudah keluar kamar, ada wajah-wajah segar. Apakah mereka melakukan hubungan siang bolong seperti ini?
" Ayo berkemas!" ucap mas Adzam.
Aku kebingungan, akan kemana kami pergi? Apa Afi akan mengusir mas Adzam? Aku trauma untuk hidup miskin kembali.
" Kita mau kemana mas?" Aku bertanya bak orang paling lugu sedunia.
" Ke Bali." Jawab Afi singkat.
Jika tak berfikir malu, mungkin aku sudah loncat-loncat kegirangan. Tidak pernah ada di daftar impianku.
Kini aku dan mas Adzam sudah terbang untuk bulan madu ke Bali hanya berdua. Hotel mewah sudah disiapkan untuk kami sebagai kado pernikahan dari Afi.
Masih ada kecanggungan di antara kami berdua saat sudah tiba di hotel. Aku masih malu-malu kucing. Bagaimana pun harga diri seorang perempuan harus dijaga. Aku harus berhasil menaklukkan hati sang pangeran tampan nan kaya raya ini. Sebelum menikah dengan mas Adzam, aku sempat menerima sejumlah transferan uang dari mas Adzam. Uang itu sebagian aku sisihkan untuk membeli satu lusin lingerie dengan bermacam-macam warna dan model. Aku ingin malam pertamaku dengan mas Adzam berkesan dan aku ingin ia tak bisa melupakan ku.
Satu hal yang perlu ku catat, lelaki akan berada di samping mu jika urusan perut dan di bawah perut terpenuhi. Bukan begitu?
Entah siapa yang memulai, yang jelas malam pertama kami bergulir bak air mengalir. Mungkin karena kami sudah sama-sama dewasa, jadi sudah tahu apa kewajiban juga kebutuhan pasangan kami.
Waktu bulan madu yang hanya tujuh hari aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Setiap hari kami lalui dengan bercinta. Dan tak lupa aku memakai lingerie, pakaian terbaikku selama bersama mas Adzam.
Aku tidak pernah menyangka jika mas Adzam bisa lebih buas dari harimau. Ia seperti harimau yang kelaparan. Apa mungkin selama ini hubungannya dengan Afi datar-datar saja?
__ADS_1
" Tenang mas Adzam, aku akan membuatmu terbang bersamaku." Ucapku pasti dalam hati. Ya aku hanya berani mengucapkannya di dalam hati. Aku perlu waktu untuk menjaga agar image ku tetap baik di hadapan mas Adzam. Karena bagiku mas Adzam adalah aset yang sangat berharga.