
Fi, kembalilah dengan mas Adzam!" Pintanya.
Sontak mataku membulat. Bahkan aku yang sedang menyeruput jus jeruk hampir saja tersembur keluar dari mulutku.
" Aku akan mundur dari kehidupan mas Adzam." Ucapnya lagi.
Aku menatap wajah Hanum. Mencari kebenaran dan kesungguhan dari perkataannya.
" Aku mandul."
Hah!
" Aku mandul, Afi." Ucapnya lagi.
" Ada kisah yang belum kamu tahu tentangku."
Hanum memulai cerita hidupnya.
Tanpa menyela aku mendengarkan semua penuturan Hanum.
Sesekali ia mengusap wajahnya yang basah menggunakan tisu.
Ternyata kisah hidup Hanum lebih tragis. Bahkan ia harus kehilangan rahim. Tak bisa kubayangkan jika aku harus menjadi Hanum. Mungkin aku sudah memilih mengakhiri hidup lebih dulu.
" Aku kini sadar, kebahagian mas Adzam ada pada Tari. Sejak kepergian kalian kupikir aku bisa memiliki mas Adzam seutuhnya, ternyata hati mas Adzam ikut terbawa oleh kepergian kamu dan Tari. Lima tahun aku hidup bersama dengan mas Adzam. Bukan hanya tubuhnya ku miliki, bahkan hartanya mas Adzam saja bebas untuk ku nikmati tapi tidak unyuk hatinya. Kamu tahu rasanya tidak pernah di terima oleh mama? Kamu tahu rasanya disalahkan terus oleh mama atas kepergian kalian? Aku menyerah untuk memiliki mas Adzam. Aku bahkan tak bisa menggantikan posisi kamu di hati mama. Afi, kita sahabat kan? Kembalilah pada mas Adzam, mas Adzam bisa punya anak denganmu. Setelah pertemuan kita, aku akan mengurus surat perceraian dengan mas Adzam. Dan sebelum bertemu dengan kamu, aku dan mas Adzam sudah sepakat akan hal ini."
Hanum sekarang jauh lebih tegar dan dewasa. Meski masih ada cinta dimata Hanum untuk mas Adzam.
Aku masih diam, tidak tahu mau menanggapi apa perihal cerita Hanum hari ini. Yang jelas, aku masih ragu-ragu akan ceritanya. Hingga dari kejauhan aku melihat Tari dan mas Adzam berjalan kearah kami. Ia sudah membawa satu boneka beruang coklat besar impiannya. Dan sekarang mas Adzam berhasil mengabulkan keinginan putri kecilnya.
Mas Adzam dan tari semakin dekat, Hanum mengusap wajahnya dengan tisu, berharap riasannya masih tetap baik walau ia habis menangis. Setidaknya Tari tidak bisa membaca aura wajahnya.
" Ibu...." Tari memanggil ku, ia berlari kearahku dengan susah payah.
Aku menyambutnya, merentangkan tanganku kearahnya. Ia berlari dan memeluk ku.
" Ibu.. lihat ini!" Ia menunjuk kearah boneka beruang coklat.
" Wah anak ibu.. senang gak?"
__ADS_1
" Tari senang banget bu. Ayah.. terima kasih ya sudah beliin Tari boneka besar." Ia kegirangan dan memeluk boneka itu berkali-kali.
Aku tersenyum melihat wajah kegembiraan pada putri semata wayang kami.
" Ayah, tari mau makan pizza." Rengek Tari pada mas Adzam.
Dengan cekatan mas Adzam membelikan sekotak pizza untuk Tari. Lagi-lagi putri semata wayang ku melonjak kegirangan.
" Terima kasih ayah. Cup!" Ia mencium pipi mas Adzam.
Kami pun berjalan beriringan keluar dari Mall.
Sampai di tempat parkir mobil, " Mas Adzam, Afi, maaf aku tidak ikut pulang bersama kalian."
Aku yang mendengar ucapan Hanum segera mengurungkan niat ku untuk masuk kedalam mobil.
" Kenapa?" Ucap mas Adzam.
" Sesuai kesepakatan kita mas, setelah Afi dan Tari berhasil di temukan, maka aku akan mundur dari kehidupanmu." Ucapnya sedih.
Mas Adzam hanya manggut-manggut seperti ikan cucut.
" Aku akan pulang naik taksi." Ucap Hanum singkat.
Tanpa basa-basi aku masuk kedalam mobil. Sementara mas Adzam sedang berbicara dengan Hanum. Tak berapa lama mas Adzam masuk kedalam mobil dan meninggalkan Hanum yang masih berdiri mematung.
Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih. Aku juga tidak tahu harus kembali pada mas Adzam atau harus tetap sendiri.
Tapi melihat kebersamaan mas Adzam dan Tari membuat ku tidak tega untuk memisahkan mereka.
****
Aku dan Tari sudah hampir satu minggu berada di kota. Aku juga sudah berkali-kali meminta izin pada mama agar kami bisa kembali ke desa, tapi jawaban mama selalu tidak. Katanya mama ingin selalu berdekatan dengan kami di sisa umurnya.
Setelah pertemuanku dengan Hanum, ia tal pernah lagi menghubungiku. Mas Adzam juga selalu tidur dirumah mama. Bahkan. ia pulang kerja tepat waktu seperti waktu dulu saat aku belum mengenalkan mas Adzam pada Hanum. Apakah itu artinya Hanum serius bercerai dengan mas Adzam?
Sore ini mama,tari dan Ririn sedang keluar jalan-jalan. Hanya ada aku dirumah ini.
Saat sudah sore,mas Adzam sudah pulang kerja. Ia langsung mandi. Sore ini ia kelihatan tampan dengan celana pendek jeans dipadukan kaos putih. Ah, sejak dulu mas Adzam memang sudah tampan. Pantas saja ia menyandang biaya darat.
__ADS_1
Aku memilih duduk di depan televisi sambil memainkan handphone ku.
Ia menghampiriku, sungguh! wanginya membuat aku melayang.
" Fi, mama kemana sama Tari?" tanya mas Adzam.
" Sedang jalan-jalan sama Ririn, mas." Jawabku singkat tanpa mengalihkan wajahku dati handphone.
Karena merasa aku cuekin,mas Adzam menarik handphone dari tanganku.
" Jangan main handphone terus." Ia mematikan handphone ku dan meletakkannya disampingnya.
" Lagi lihat video mas." Ucapku membela diri.
Diluar dugaanku, ia memegang tangan ku, bahkan kini duduknya pun semakin rapat.
" Ada apa mas?" Aku pura-pura bertanya padanya.
Ia diam, dan sebagai wanita dewasa aku tahu apa arti diamnya seorang laki-laki. ia menatapku buas seperti memendam hasrat.
Kini tangannya mas Adzam beralih ke pinggang ku.
" Mas." Aku berusaha mengajaknya mengobrol.
Ia mendekatkan wajahnya kearah wajahku, kini kami semakin rapat. Denyut jantung ku tak beraturan. Jujur, sebagai wanita dewasa yang sudah lama tak merasakan belaian seorang pria, tubuhku rindu akan hal itu.
Mas Adzam mengecup bibirku, bukannya marah atau menolak. Aku justru menikmati sentuhan lembut mas Adzam. Bahkan kini aku mulai membalas ciuman hangat mas Adzam.
Melihatku yang hanya pasrah, mas Adzam memapahku kekamar yang biasa aku tempati dan Tari.
" Mas?" Aku mencoba sadar, namun sepertinya kami sudah sama-sama lupa diri.
Aku tak menolak saat tangan mas Adzam mulai masuk kedalam bajuku. Aku juga tidak marah saat tangan mas Adzam merabai dadaku. Justru aku menikmati hal ini. Separuh jiwaku melayang bersama kecupan mas Adzam.
Mas Adzam mulai melucuti pakaian ku, namun disaat kami akan memulai hal yang lebih dalam lagi, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mama.
Sontak aku mendorong mas Adzam hingga terjatuh.
Secepat mungkin aku memakai pakaianku kembali. Jangan sampai mama dan Ririn memergoki aku dan mas Adzam melakukan hubungan suami istri. Mau di taruh dimana wajahku nanti. Aku menarik mas Adzam keluar dari kamar. Mas Adzam tampak cemberut karena hasratnya belum tersalurkan. Maaf ya mas!
__ADS_1