Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 16


__ADS_3

aku mengetuk pintu, agak menunggu lama pintu baru terbuka.


Kriiiet....


Tampak wajah terkejut di balik pintu.


.************


kembali ke pov Afi ya....


Hari ini adalah hari ke sembilan pasca kepergian mas Adzam berbulan madu. Aku tidak mengerti mengapa mas Adzam belum juga kembali. Padahal paket bulan madu yang kuberikan kepada mereka hanya selama tujuh hari. Apakah mas Adzam menambah libur sendiri? Entahlah, aku tak mau terlalu berpikiran buruk kepada mas Adzam.


Hal yang membuatku heran, Apakah mas Adzam sudah merasa nyaman dengan Hanum. Bahkan mas Adzam tak sekalipun mengirimiku pesan sekedar bertanya kabarku. Hal yang sangat bertolak belakang dengan yang dilakukan mas Adzam padaku.


Hari ini aku sudah selesai beberes rumah. Semenjak mas Adzam pergi berbulan madu aku gak pernah memasak dengan alasan takut tidak ada yang makan. Sejak pernikahan dan kepergian mas Adzam berbulan madu aku tidak bernafsu untuk makan. Bahkan berat badanku ikut turun dengan drastis. Apakah ini yang dinamakan. ngenes?


Aku sedang menonton televisi ketika terdengar pintu di ketuk oleh seseorang. Agak lama aku membuka, karena sedang memastikan apakah pendengaran ku itu benar atau aku sedang berhalusinasi.


Setelah aku yakin itu benar, aku berjalan ke depan untuk membuka pintu. Ketika pintu ku buka, betapa terkejutnya aku. Ada sosok wajah yang ku rindukan setiap malam, ada sosok wajah yang ku tangisi setiap malam.


Mas Adzam sudah kembali!


Aku menghambur kepelukan mas Adzam. Rindu ku sudah tak tertahan. Aku seperti lupa bahwa mas Adzam yang sekarang berbeda dengan mas Adzam yang dulu.


Aku yang memeluknya erat tak berlaku sama dengan mas Adzam. Yang kurasa, tangannya pun tak ikut melingkar di pinggangku. Mungkin mas Adzam sedang menjaga perasaan istri barunya.


Aku yang sadar segera melepas pelukanku.


Aku menyapa Hanum, walau ada rasa canggung. " Hai, apa kabar?"


" Baik." Ia tersenyum dan memelukku erat.


Aku mempersilahkan mas Adzam dan Hanum masuk ke dalam rumah.


Mas Adzam duduk di ruang tamu bersama Hanum, sedang aku izin sebentar kebelakang untuk menyiapkan makan dan minum.


Aku mengusap sudut mataku yang berair. Perih itu kembali datang.


Waktu sembilan hari bisa merubah kebiasaan mas Adzam.


Ia yang biasanya pulang selalu masuk kekamar kami, kini hanya duduk di ruang tamu bagai tamu bahkan seperti orang lain.


Aku memastikan wajahku baik-baik saja kemudian aku membawa nampan berisi makan dan minuman kedepan.


" Mas, Num ayo minum dulu!" Ucapku.


" Iya Fi, gak perlu repot-repot." ujar Hanum seperti basa basi.

__ADS_1


" Mas, kamu gak mandi dulu,ganti baju sekalian biar aku siapin." Aku mencoba mengingatkan kebiasaannya saat bersamaku.


" Eh iya Fi, mas mau mandi dulu. Num, mas mandi dulu ya."


Mas Adzam meninggalkan kami berdua.


" Num, untuk sementara kamu bisa menempati kamar tamu. Sampai nanti mas Adzam bisa mencarikan rumah untuk kamu." Aku membuka percakapan diantara kami berdua.


" Santai saja Fi.."


" Aku tinggal sebentar ya, mau nyiapin baju buat mas Adzam."


" Oke, aku juga mau istirahat dulu." ucapnya sembari beranjak untuk masuk kekamar tamu.


Aku masuk ke kamar. Mas Adzam sudah siap mandi. Ia hanya memakai handuk setengah pinggang. Sementara bagian tubuh Keatas tidak ada yang menutupi.


Mataku terbelalak menatap dada dan lehernya begitu banyak tanda merah. Haruskah seperti itu?


Aku membuang pandanganku , berjalan kearah jendela.


Aku membisu, bibirku terasa kelu.


Mas Adzam segera memakai bajunya.


" Yang..." ia memegang bahuku.


" Kenapa? Kamu marah sama mas? Bukannya mas sudah bilang dari awal jangan paksa mas menikah lagi. Tapi kamu tetap kukuh menjodohkan mas dengan Hanum."


aku tak menanggapi ucapan mas Adzam. Rasanya kepala ku terasa panas. hatiku terasa mendidih.


" Aku butuh sendiri mas! Silahkan tinggalkan aku sendiri! " pintaku dengan suara nyaris tidak keluar lagi.


Mas Adzam berlalu pergi keluar dari kamar kami.


Tidak ada tawa renyahnya yang dulu membujukku saat aku marah dan ngambek.


Pintu ditutup oleh mas Adzam. Aku memukul dinding sekuat-kuatnya dan berulang-ulang. Rasa sakit di tanganku tak sebanding dengan hancurnya hatiku.


Badanku lemas, aku merosot terduduk menyender di dinding. tangisku tak bersuara, namun bajuku banjir oleh air mata.


********


Malam sudah menjelang. Hanum berkali-kali membangunkan ku untuk makan malam. Namun aku sama sekali tak menggubris. Pintu kamar ku kunci dari dalam, sengaja lampu kamar tak ku hidupkan. Malam ini kamarku gelap gulita. Aku hanya ingin tenang di temani gelap.


Tok..tok..tok...


" Fi, bukalah pintunya! ini sudah malam waktunya makan malam. Hanum sudah masak." terdengar panggilan dari mas Adzam.

__ADS_1


Aku masih diam tak menyahut. Bahkan malam ini tak ada rasa lapar yang menghampiriku.


Jika ini salahku, biarlah aku menanggung sendiri.


Dari ruang makan terdengar gelak tawa mas Adzam dan Hanum. Sebahagia itu kah mereka?


*********


Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. suasana mulai senyap. Dikamar sebelah aku seperti mendengar suara merintih. Bercinta kah mereka? Atau dengan sengaja mendengar kan suara bahagiaereka kepadaku? Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku.


Sakit ya Allah......


Setelah sembilan malam tak bersamaku, mas Adzam tetap tak rindu padaku. Apakah cintanya telah hilang padaku?


Sesekali suara rintihan dan suara gelak tawa terdengar di kamar sebelah. Aku semakin jijilk dengan mas Adzam dan Hanum.


Entah selesai jam berapa mereka hingga rasa kantuk datang menyerang aku tak tahu apa yang terjadi lagi.


************


Pagi menjelang, Aku segera mengambil air wudhu untuk mengadu pada sang Rabbi.


shalat subuh sudah selesai. Aku keluar kamar.


Dan kembali pagiku begitu menyakitkan.


Mataku menangkap Hanum baru saja selesai mandi dengan rambut basah terurai.


keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk.


Aku mencoba tidak perduli. Dan berpura-pura tidak melihat. Aku bergegas membuka jendela ruang tamu. membuka pintu dan duduk santai di depan rumah.


Berkali-kali aku mengucapkan istighfar agar hatiku di beri kekuatan. Cukup sudah aku menangis selama hampir dua minggu.


Saat sedang menikmati udara pagi, beberapa tetangga ku lewat menyapa, " Afi.. olahraga yuk biar sehat!"


Aku hanya tersenyum, " iya deh mbak lain kali ya.." jawabku sopan.


Tiba-tiba Hanum keluar mendatangiku dengan rambut terurai basah.


Sontak membuat tetanggaku saling berbisik.


" Hanum, mengapa tak pakai jilbab?" ucapku stengah berteriak karena mulai kesal dengan sikap Hanum.


" Masih basah Fi rambutnya." ucapnya santai.


Aku hanya menggeleng kan kepala.

__ADS_1


Aku memilih Hanum menjadi istri kedua ku karena aku yakin keimanan Hanum sangat kuat. Tetapi mengapa jadi begini?


__ADS_2