
Lagi-lagi Raka membuyarkan lamunan.
Bodoh! Mengapa aku menjadi wanita bodoh? Biar saja ia hidup dengan Hanum. Yang paling penting, aku harus membahagiakan diriku sendiri. Toh aku tidak sendiri. Masih ada orang-orang disekeliling ku yang sangat sayang padaku.
Ikhlaskan mas Adzam dan Hanum bahagia. Mungkin takdirku hidup bersama mas Adzam hanya sampai disini. Jika Allah sudah menuliskan takdir, aku sebagai manusia bisa apa?
setelah merasa puas menikmati indahnya taman ini, kami segera beranjak pulang.
Namun saat akan berjalan kearah mobil, mataku menatap sosok yang ku kenal.
Mereka sedang tertawa bahagia, tanpa beban sama sekali.
Entah mengapa kaki ku berat sekali untuk melangkah. Bahkan mataku sudah basah menatap kebahagiaan dan kemesraan mereka.
Raka yang sudah terlebih dahulu masuk ke mobil akhirnya kembali keluar menemui ku.
Ia sama seperti ku, tak kalah terkejut melihat sepasang sejoli sedang tertawa tanpa beban.
Entah karena memang sudah di takdir kan oleh Allah untuk bertemu, hingga mas Adzam menyadari ada aku yang berdiri dengan wajah sudah basah dengan air mata.
Kini ia sama sepertiku, mematung dan menatapku. Tak di hiraukan ajakan Hanum untuk pergi dari tempat ini.
Raka menyenggol tanganku, mengajak aku pergi dari tempat ini. Tapi aku masih bertahan di tempat ini. Aku ingin tahu, apa reaksi mas Adzam ketika melihatku? Ingatkah ia pernah menyayangiku? Ingatkah ia bahwa sebelum masalah ini ada kami pernah ada dalam suatu ikatan sah pernikahan? Ingatkah ia, bahwa sebelum ada Hanum, akulah wanita satu-satunya yang berbagi selimut, berbagi dalam segala hal. Ingatkah ia, sebelum sesukses sekarang, ada aku yang berdoa untuknya agar selalu sukses dalam meraih pekerjaaan?
Mas Adzam datang melangkah kearahku. Seketika jantung ku berdegup kencang. Ada rasa rindu yang menggebu.
Kini jarak kami hanya beberapa langkah saja. Hanum tidak mau ketinggalan berlari menyusul mas Adzam. Ia seperti takut jika mas Adzam akan kembali tertarik padaku.
Ups! Tanpa rasa malu, ia memegang tangan mas Adzam. Ia menatap sinis kearahku
Pandangan mas Adzam turun kearah perutku, pandangan itu berhenti tepat di bagian perutku yang tampak membesar.
Tatapannya sendu, Apakah ia rindu pada calon bayi kami ini.
Aku memperhatikan penampilan Hanum yang seperti penampilan wanita berkelas. Pakaian yang menempel di tubuhnya adalah pakaian bermerk terkenal. Bukan main baiknya mas Adzam. Apakah ia tak lagi ingat kata menabung?
Mataku seperti tak ingin lepas menatap Hanum, pandanganku jatuh pada perutnya yang masih datar. Kupikir mas Adzam sudah berhasil membuat Hanum, nyatanya perutnya masih langsing dan juga datar.
__ADS_1
Mas Adzam menatap sinis pada Raka, ia kembali melangkah kan kakinya mendekat kearah kami.
" Jadi, setelah lepas denganku, kau mau mendekati adikku."
Sumpah, ini adalah perkataan yang sangat menyakitkan bagiku. Setelah beberapa bulan tidak bertemu, ku pikir ia sudah waras. Nyatanya aku salah. Sekali gila tetap saja gila.
Raka mulai mengepalkan tangannya. Ia seperti sedang menahan amarahnya.
" Jadi ini alasanmu tidak ingin menikah dengan wanita lain, Raka? Bahkan aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita lain. Rupanya kau menyukai istriku?" Sindirnya pedas.
" Mas, kupikir kamu sudah waras, nyatanya kamu tetap saja gila. Seharusnya kamu bersyukur mempunyai adik yang sangat baik seperti Raka. Oh iya, kamu belum tahu jika sebentar lagi Raka akan menikah dengan wanita pilihannya? Tolong cuci otakmu sering-sering mas, agar tidak banyak sampahnya."
Setelah aku menyampaikan isi hatiku, lekas aku menarik tangan Raka agar segera meninggalkan tempat ini.
Aku takut jika abang beradik ini saling baku hantam.
Kami sudah berhasil pergi dari hadapan mas Adzam dan Hanum.
*****
Mobil Raka memasuki area halaman rumah mama, terlihat mama sedang santai duduk di teras.
Aku berpesan pada Raka. Bagaimana pun kami harus menjaga perasaan mama. Mas Adzam adalah anak lelaki kebanggaan mama, aku yakin mama pasti merasa kehilangan anaknya.
Aku masuk kerumah terlebih dahulu, sementara Raka memasukkan mobilnya ke garasi.
" Assalamu'alaikum, ma."
Aku mencium pipi keriput mama.
" Dari mana Fi?"
" Mau tahu banget apa mau tahu aja?" Aku tertawa sendiri karena sudah berani bercanda dengan mama.
Mama hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala," Terserah kamu saja." Jawab mama.
Aku pun duduk di samping mama, " Afi tadi jalan-jalan sama Raka, ma "
__ADS_1
" Wah, tumben sekali anak cuek itu mau mengajak mbaknya jalan-jalan." Mama menyindir Raka yang sudah datang.
Raka hanya cengengesan dan berlalu meninggalkan kami.
" Alhamdulillah ya Fi, kamu sekarang jauh lebih baik, lebih tegar. Maafin anak mama ya! Mama yakin saat ini anak mama hanya sedang tersesat dan lupa pulang. Mama juga yakin jika di hatinya masih ada nama kamu. Percaya sama mama. Dan satu pinta mama jangan pernah bercerai dengan anak mama." Ada raut sedih dan juga ketulusan terpancar di wajah mama.
" Doain Afi terus ya,ma." Kami berpelukan erat.
*****
Aku menatap langit-langit kamar ini. Sepi! Setiap malam aku hanya mengurung di kamar ini. Dan pertemuan kami tadi kembali menghadirkan wajah mas Adzam. Aku mengambil ponsel di atas meja. Sudah lama aku tidak membuka aplikasi berlogo biru. Aku mengetik nama mas Adzam,namun aku sama sekali tidak menemukan akun itu. Mungkinkah mas Adzam memblokir semua yang berhubungan denganku? Bahkan nomorku di aplikasi berlogo hijau saja sudah di blokir. Tidak ada akses untukku dan mas Adzam untuk saling berkirim kabar.
" Mas, apa kamu yakin ingin berpisah denganku? Sementara mama meminta agar kita selalu bersama. Beri aku kepastian mas?" Gumamku nelangsa.
Sebagai pengobat rinduku pada mas Adzam, aku mengambil kaos oblong yang sempat tergantung di belakang pintu. Kaos itu masih wangi parfum mas Adzam. Bahkan dengan sengaja beberapa bulan ini aku tidak mencuci kaos itu. Biarlah kaos itu menjadi teman tidurku setiap malam.
****
Waktu terus berlalu, kehamilanku semakin membesar. Dan kini sudah memasuki bulan kesembilan. Kemarin juga aku dan mama baru saja pulang dari klinik untuk pemeriksaan rutin,. Memastikan aku dan calon bayiku dalam keadaan baik.
Ada perasaan sedih, karena setiap kontrol aku hanya bersama mama dan Raka.
Dan bahagianya calon bayiku berjenis kelamin perempuan.
Ada rasa tidak sabar ingin segera berjumpa dengan malaikat kecilku ini.
Hari ini aku, mama dan Ririn sudah membuat janji untuk berbelanja keperluan calon bayiku.
Dan Raka akan menjadi supir pribadi kami.
Kini kami sudah berada di toko khusus perlengkapan bayi.
Kami begitu terkagum-kagum melihat pernak pernik anak perempuan.
Ririn pun sampai khilaf ingin memborong semua perlengkapan bayi yang serba berwarna pink.
Disaat mama dan Ririn sedang asyik memilih, sebuah pesan tanpa nama masuk ke handphone ku.
__ADS_1
" Anak yang kamu kandung itu pasti anak Raka"