Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 24


__ADS_3

Baju mu kenapa berdarah Yang?" Mas Adzam masih membahas darah yang ada di bajuku.


Darah dari bibir yang ku gigit saat menahan tangisan ku.


" Fi..?" Mas Adzam mengguncang kedua bahuku.


Aku hanya tersenyum menatap mas Adzam.


" Fi," Mas Adzam kembali memanggil namaku.


Kini aku bukan hanya tersenyum, bahkan kini aku sudah cekikikan sambil menatap mas Adzam.


Mas Adzam membawaku masuk kedalam rumah. Pintu di tutup dengan rapat.


Mas Adzam mendudukkan aku di atas karpet. Aku masih tertawa cekikikan untuk melepaskan semua beban di hatiku.


Mas Adzam mengambil daster yang baru di lemari, Ia menggantikan bajuku yang terasa bau amis. Detik berikutnya ia menelpon mama, meminta mama datang kerumah kami.


" Mas," Aku memanggilnya. " Apa aku menakutkan untukmu?" Tanyaku lagi pada mas Adzam.


" Fi, kamu istri terbaik. Lihat sebentar lagi kita akan punya anak." Ia mengingatkan tentang kandunganku.


" Apa sekarang kamu sudah cinta pada Hanum? Apakah Hanum pintar menggoda mu? Apa Hanum pintar menyenangkan mu? Apa Hanum..?" Aku tidak sanggup lagi melanjutkan perkataan ku. Detik berikutnya aku bukan tersenyum, bukan tertawa, tapi kini aku sudah menangis tersedu-sedu.


Sakit di dada yang ku simpan dalam diam selama ini , kini meledak. Aku seperti orang gila. Mas Adzam tampak ikut menangis.


Hingga terdengar bunyi bel.


Mas Adzam meninggalkanku, sepertinya ia membuka pintu.


Terdengar suara mama yang panik menanyakan keadaanku pada mas Adzam.


Mama menghampiri ku, memelukku, memberikan kekuatan pada ku.


Aku masih menangis. Rasanya air mataku tak ingin berhenti. Seperti ada sumber air di dalamnya.

__ADS_1


" Fi, ini mama. Lihat mama! Kamu tidak sendiri, Ada mama." Mama menepuk wajahku berkali kali.


Aku terdiam mendengar kalimat mama. Aku menatap mama, Ririn juga mas Adzam.


" Mbak.." Ririn seperti takut melihat keadaanku.


" Kalau kamu belum siap berbicara, enggak apa-apa. Sekarang kita istirahat ya. Kamu tampak ngantuk, nak!" Mama mengajakku kekamar.


Bagai anak kecil yang di bujuk oleh ibunya, aku tak menolak ajakan mama. Mama menutup tubuhku dengan selimut. Mama juga menemaniku tidur malam ini. Mama mengusap pucuk kepalaku dengan lembut.


Apakah ini belaian kasih sayang ibu sesungguhnya? Dari kecil aku tidak pernah merasakan. Lalu, kini ibu mertuaku begitu menyayangiku.


Pelan-pelan rasa ngantuk datang menyerangku. Mataku terpejam dalam pelukan kedamaian dari seorang ibu.


****


Pagi sudah datang, aku sudah terjaga dari tidur ku. Namun aku belum mau bangkit dari singgasana ternyaman ku ini.


Ririn masuk kekamar ku dengan tangan memegang sapu.


Aku hanya tersenyum menanggapi sapaan dan ciuman sayang dari adik ipar ini.


" Mas Adzam galau loh dari tadi." Tanpa ku minta, Ririn bercerita padaku.


" Mama memarahi mas Adzam habis-habisan." Ia kembali melanjutkan ceritanya.


Saat pintu kamarku di ketuk seseorang, ia mengecilkan suaranya dan di akhiri dengan kedipan matanya.


Mas Adzam masuk kedalam kamar tanpa ada perintah.


Seolah-olah mengerti, Ririn meninggalkan kami berdua. Mas Adzam mendekatiku, mengusap pucuk kepalaku, Ia berbaring di sampingku. Tanpa ku minta, ia memelukku erat.


Tak ada kata yang terucap. Tapi perlakuannya pagi ini membuat mood ku stabil dan membaik.


Cukup lama ia memelukku erat hingga, " Maaf..." Hanya kata maaf yang terucap dari bibir mas Adzam.

__ADS_1


Air matanya tumpah mengenai wajahku. Aku merasa bersalah. Dan semua yang terjadi sepanjang perjalanan pernikahan kami adalah salahku. Menempatkan mas Adzam dalam posisi yang serba salah.


" Izinkan mas menceraikan Hanum!" Suara mas Adzam bergetar kala menyebutkan nama sahabatku itu, nama istri kedua mas Adzam.


" Mas tidak mau selalu berada di posisi ini. Kita sudah dapatkan apa yang kita mau, pernikahan mas dengan Hanum menghadirkan jabang bayi di dalam perut kamu. Dan mas rasa sudah cukup kita meminjam rahim Hanum untuk melahirkan anak-anak kita. Nyatanya rahim kamu bisa menjadi tempat tumbuhnya calon bayi kita. Andai dulu..." Mas Adzam tak melanjutkan ucapannya. Ia mengusap air matanya yang terus jatuh.


" Andai dulu Afi lebih bersabar?" Aku yang melanjutkan kata-kata mas Adzam yang terpotong. Mungkin ia takut menyakiti perasaanku.


" Mas sudah membicarakan ini pada Hanum tadi malam. Menimbang dan mengingat ia tidak di perlukan lagi di dalam rumah tangga kita. Mas juga tidak mau membebani pikiran mu, saat mas harus beberapa hari berada di rumah Hanum nantinya. Jika mas bercerai dengan Hanum, Hanum masih bisa melanjutkan hidupnya, masih bisa menemukan pria singgel bukan suami orang seperti mas ini." Ucap mas Adzam lagi.


Sungguh, kata-kata mas Adzam begitu menampar diriku. Aku sendiri yang menciptakan drama di rumah ini, aku sendiri yang menciptakan api dirumah ini, nyatanya aku juga yang terbakar sendiri oleh api yang ku buat sendiri. Kini Hanum dan mas Adzam lah yang akan mematikan api drama yang ku buat.


Memalukan! Kata-kata apa yang cocok untuk wanita seperti aku? Mengorbankan perasaan sahabatku, mengorbankan perasaan suamiku. Kini setelah mereka nyaman, justru aku yang menjadi depresi dan hampir gila karena tidak siap melihat suamiku berbagi hal dengan istri keduanya.


Ya Allah apa maksud semua ini? Engkau memberiku seorang anak, namun engkau memberikan jodohku pada sahabatku juga. Terlalu mahal kah permintaanku ini, Allah?Sehingga aku harus merelakan suamiku berbagi selimut dengan sahabatku?


Beberapa menit kami masih terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Mas Adzam mengusap perutku, " Dek, sehat-sehat di dalam perut ibu ya. Ayah akan selalu ada buat adek dan ibu. Maafin ayah sudah buat ibu sedih. Ayah janji, tidak akan meninggalkan ibu lagi, Ayah janji tidak akan membebani pikiran ibu lagi." Mas Adzam kemudian mencium perutku yang sedikit membuncit.


Tiba-tiba saja ada goncangan kecil di dalam perutku.


" Yang, adek merespon ucapan, mas!" mas Adzam tampak gembira.


Aku pun tak kalah gembira. Ini adalah gerakan pertamanya. Itu artinya bayi tang di dalam kandungan ku sudah mulai tumbuh. Ada tangis bahagia antara aku dan mas Adzam.


Tok.. tok..tok..


Ada ketukan di pintu kamar kami.


" Mal, Fi, ayo makan! makanan sudah siap." teriak mama dari luar kamar kami.


Aku dan mas Adzam sama-sama bangun. Mas Adzam keluar duluan sedangkan aku mau membersihkan badan terlebih dahulu agar lebih fresh.


Tidak butuh waktu lama untuk tampil cantik namun sederhana, kini aku sudah ikut bergabung menyantap makan pagi ala masakan mama mertua.


Ayam bumbu kalasan dan sambal terasi di tambah lalapan timun, daun singkong rebus, di tambah kacang panjang begitu menggugah selera makanku pagi ini.

__ADS_1


Namun ada sesuatu yang sedang mengganjal pikiranku.


__ADS_2