Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 44


__ADS_3

Kini kami sudah diperjalanan. Kalau sudah sore begini pasti jalanan ini akan macet karena bertepatan dengan orang pulang kerja.


Butuh waktu sekitar empat puluh menit untuk bisa sampai kerumah sakit.


Raka membantu ku membawa perlengkapan Tari. Ia juga menggandeng tanganku agar bisa berjalan dengan cepat.


" Mas Adzam di rawat dimana,Ka?"


" Dilantai empat mbak."


Dari kejauhan aku melihat sosok mama yang sedak di peluk oleh Ririn. Di sebelah Ririn ternyata ada Hanum.


Langkahku semakin dekat, " Apa yang terjadi dengan mas Adzam,ma?"


Mama memelukku erat, ia seperti terpukul dengan kejadian ini.


Aku paham bagaimana perasaan mama melihat anaknya terbaring lemah di ruang ICU.


Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi hingga menghantarkan mas Adzam kerumah sakit ini.


" Adzam koma, Fi.." Lagi-lagi mama terisak menceritakan kondisi mas Adzam.


" Berdoa y ma supaya mas Adzam sehat dan bisa sadar dari komanya. Jika Allah berkehendak maka sesuatu yang baik akan terjadi." Aku mencoba menguatkan mama padahal hatiku sendiri sangat ketakutan jika ia harus pergi meninggalkan kami semua. Bagaimana nasib Bintari nanti?


Semua kami di sini bersedih karena mas Adzam, namun aku tidak melihat raut kesedihan di wajah Hanum. Wanita seperti apa dia? Bukankah selama ini mas Adzam memenuhi semua keinginannya.


Aku menyesal, sungguh menyesal karena telah membuat mas Adzam terjerumus kedalam neraka dunia. Aku lah penyebabnya.


Kami semua menunggu di depan ruang perawatan mas Adzam. Berdoa dan berzikir tak pernah lepas dari lisanku.


Hingga seorang perawat datang menghampiri kami.


" Maaf, ibu Afi yang mana ya?"


Sejenak aku bangkit dari dudukku, " Saya suster."


"Maaf ibu, silahkan ibu masuk kedalam, karena pasien tidak berhenti menyebut nama ibu. Tolong anaknya jangan di bawa masuk ya bu."


Aku mengangguk senang, mama menggendong Bintari.


Suster itu sudah meninggalkan kami. Saat aku akan masuk kedalam, tanganku di tarik oleh Hanum,


" Aku juga istrinya, jadi aku berhak untuk masuk."

__ADS_1


Aku menghempaskan tangannya hingga terlepas, " Apa mas Adzam menyebut namamu?" Aku balik bertanya padanya.


Tanpa menunggu jawabannya aku segera meninggalkannya dan masuk menemui mas Adzam.


Bener saja, ia menyebut namaku dalam mata tertutup. Disudut matanya ada air mata yang menetes.


Hatiku nelangsa melihat mas Adzam. Aku mendekatinya, duduk di samping pembaringannya.


Ku genggam tangannya, " Mas Adzam, ini Afi. Kamu dengar suara ku kan?"


Aku berbicara tepat di telinganya, " Aku sudah datang disini bersama Bintari, anak kita." Aku menjeda setiap ucapanku. Bahkan kini air mataku sudah jatuh bagai rintik hujan.


" Kamu harus sembuh! Ada Bintari, ada mama dan ada a-aku yang sangat sayang sama kamu. Setelah kamu sembuh, kita akan memulai hidup baru seperti permintaan kamu, mas." Ucapku mulai terisak.


" Andai aku tahu kamu akan seperti ini, mungkin aku akan melarang kamu pergi hari itu. Mungkin juga aku akan langsung menyetujui permintaan kamu, mas."


Aku bagai orang yang kalah perang. Yang ku inginkan saat ini adalah mas Adzam bisa membuka matanya.


" Mas, kamu dengar janjiku, Jika kamu sembuh, maka aku akan menuruti permintaanmu, kita akan memulai hidup baru bertiga sama Bintari."


Setelah melihat mas Adzam terbaring lemah seperti ini, hilang sudah semua rasa sakit hatiku padanya. Bahkan perlakuan manisnya beberapa minggu ini berputar-putar di kepalaku. Andai aku bisa membaca pikiranmu, mas.


Setelah merasa puas bercengkrama dengan mas Adzam, aku memilih keluar dan membiarkan mas Adzam beristirahat. Ku usap matanya yang basah. dan ku kecup keningnya sebagai tanda berpisah untuk sesaat.


Aku menutup pintu kamar mas Adzam.


" Bagaimana, apa Adzam bisa melihat kamu?" Tanya mama penasaran.


" Ma, Kita doain saja ya.."


****


Sejak keluar dari rumah sakit, aku tidak melihat Hanum, kemana dia? Disaat mas Adzam sakit begini, ia malah pergi.


Malam mulai datang, " Rin, kamu pulang ya! Bawa Bintari." Ucapku.


" Bintari mau di kasih susu formula?"


" Iya, Rin. Semua ini mbak lakukan buat mas Adzam. Mas Adzam suami mbak, sudah selayaknya mbak berbakti untuk mengurus mas Adzam."


Akhirnya setelah di pertimbangkan dan di diskusikan, mama, Raka, Ririn dan Bintari akhir pulang sedang aku sendiri tetap tinggal di sini untuk menemani mas Adzam.


" Sayang, baik-baik sama tante dan nenek ya. Ibu di sini jaga ayah, doain biar ayah cepat sehat." Aku mencium bayi cantikku.

__ADS_1


" Kasihan sekali kamu Bintari." Aku kembali berdiri menatap mas Adzam dari pintu berkaca.


Malam ini aku tidak bisa tidur, aku memikirkan Bintari. Sedang apa anakku?


Aku mengusir pikiran buruk yang bersarang di kepalaku. Aku percaya jika Ririn dan mama adalah orang baik. Mereka pasti akan memperlakukan Bintari dengan baik juga. Apalagi Bintari adalah anak yang sudah lama kami nanti-nanti kehadirannya. Bintari juga adalah cucu yang sudah di harapkan kedatangannya oleh mama.


Aku memutuskan untuk turun kebawah, Malam ini aku ingin mencari makanan untuk mengisi kampung tengahku yang meronta-ronta. Dari tadi siang aku lupa makan karena memikirkan mas Adzam.


Aku sudah sampai di lantai dasar, Di ujung jalan kulihat hanum sedang bermesraan dengan seorang pria yang usianya jauh lebih muda. Diam-diam aku bersembunyi di balik tembok. Mereka berpegangan erat masuk ke dalam lift.


Dengan siapa Hanum? Aku tidak mengenali siapa pria itu. Apakah itu adiknya? Atau malah saudaranya. Tapi tidak mungkin mereka berlebihan seperti yang kulihat.


Bodoh! Aku menepuk keningku sendiri.


Mengapa aku tidak berfikir untuk mengambil video sebagai bukti yang akan ditunjukkan pada mas Adzam kalau sudah sadar nanti.


Sekarang aku mengerti mengapa mas Adzam ingin kembali padaku. Mungkin saja mas Adzam sudah mencium bau-bau perselingkuhan Hanum dengan pria itu.


" Kasihan kamu, mas!"


Batinku nelangsa memikirkan mas Adzam.


Seharusnya masa-masa terpuruk seperti ini mas Adzam membutuhkan dukungan dari aku dan Hanum.


Aku segera memesan sebungkus nasi goreng dan segelas teh manis panas. Setelah semua ku dapatkan aku segera kembali ke tempat mas Adzam dirawat.


Saat akan masuk kedalam lift, aku bertemu dengan pria muda yang bersama Hanum tadi. Ia melangkah keluar, meninggalkan rumah sakit ini.


Aku bergegas masuk ke lift. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada mas Adzam.


Aku sudah sampai di depan kamar mas Adzam, namun aku tidak menemukan Hanum disini. Kemana dia?


Aku spontan membuka ruang rawat mas Adzam.


" Hanum?"


Aku memandang Hanum penuh selidik.


Apa yang akan di lakukan Hanum pada mas Adzam?


Tanpa banyak kata Hanum pergi keluar menghindar dariku.


Ada sesuatu yang tidak beres, sebelum hal buruk terjadi,aku harus minta bantuan Raka.

__ADS_1


Dengan cepat aku menelpon Raka agar segera datang kerumah sakit.


Kini aku bisa sedikit bernapas lega karena Raka sudah dalam perjalanan menuju kesini.


__ADS_2