Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 49


__ADS_3

Mas Adzam dan Hanum hidup dengan gaya glamor, terlihat dari sandal dan tas yang di kenakan Hanum. Berbanding terbalik dengan kehidupan aku dan Tari disini yang harus serba hemat agar kami tetap bisa makan tiga kali sehari.


Aku kembali melanjutkan melihat beranda Ririn. Ada fotoku yang sedang menggendong Tari dengan caption ( Bagi siapa yang melihat perempuan ini tolong kabari kami secepatnya. Mbak Afi, kami semua rindu dengan mbak dan Tari. Sudah beberapa purnama kita tak pernah bersua. Beberapa lagi Ririn akan menempuh kehidupan baru. Ririn hanya ingin mbak dan Tari hadir di hari bahagia Ririn. Kalau mbak Afi lihat ini tolong kabari Ririn, karena nomor handphone Ririn masih yang dulu.)


Aku terisak-isak membaca caption di foto itu.


Ternyata mereka masih ingat padaku. sesak rasanya dadaku mengenang mereka. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar.


Untuk memberi kabar pada Ririn bahwasannya aku di sini baik-baik saja, aku pun meninggalkan jejak like di postingan foto tersebut.


Selanjutnya aku mematikan handphone, dan tidur memeluk Tari yang sudah sejak tadi tertidur dengan lelap, mungkin Karena terlalu banyak bermain.


Aku mulai memejamkan mata untuk menyambut esok pagi yang lebih ceria.


****


Cahaya matahari mulai mengintip dari celah dinding kamarku.


Aku bangun dari tidur panjang ku hari ini. Ku bangunkan putri semata wayang ku dari mimpi indahnya.


" Tari, bangun! Nanti terlambat sekolahnya."


Gadis kecilku bangun dan sejenak duduk di ranjang keras milik ku.


" Bu, Tari boleh ketemu ayah gak? Tari rindu." Ucapnya pelan.


Semenjak ia melihat gambar mas Adzam di ponselku, sekarang ia lebih berani menyampaikan keinginannya itu.


" Sabar ya, suatu saat nanti kita ketemu ayah."


Aku mulai membuka jendela kamar agar udara segar pagi hari bisa masuk kedalam rumahku.


" Ayah, Tari rindu...sekali sama ayah. Semua teman-teman Tari punya ayah. Hanya Tari saja disini yang tidak punya ayah. Ayah kapan datang kerumah Tari? Tari doain semoga ayah punya rezeki buat jumpa sama Tari dan ibu disini. Amin.."


Mata ku basah karena melihat putri semata wayang ku mulai merindukan ayahnya. Doa yang baik pun ia panjatkan untuk ayahnya.


" Mas, andai kamu tahu suara hati anakmu." Ucapku dalam hati.


Kulihat ia mencium ponsel yang masih menyala.


" Dadaa.. ayah. Doain Tari hari ini ya biar dapat nilai A. Biar tari gak di omeli sama ibu." Bisiknya pelan sambil menatap gambar ayahnya di ponsel yang layarnya menyala.


" Tari.. ayo lekas mandi." Teriakku memanggilnya dari dapur.


" Iya ibu..."


Ia sudah masuk kekamar mandi dengan handuk di lehernya.

__ADS_1


Sejak kecil Tari sudah terbiasa mandiri. Hal yang selalu kukatakan padanya. Agar ia menjadi anak perempuan yang pintar, mandiri dan tegar. Dan ia selalu bilang ingin seperti ibu, wanita cantik yang masakannya enak... banget, itu katanya.


Tari sudah selesai mandi. Aku membantunya memakaikan seragam sekolah agar lebih rapi. Aku juga sudah menyiapkan bekal kesukaannya, nasi goreng dengan telur mata sapi diatasnya.


Dan bagiku, itu adalah makanan yang sangat sederhana bagiku. Bahkan diusia Tari yang sudah Lima tahun, ia sama sekali belum pernah makan pizza. Miris sekali nasibmu nak.


Aku mengantar Tari kesekolah dengan berjalan kaki. Sekolah TK tari tidak terlalu jauh dari rumahku, tapi tetap saja ia minta diantar, katanya biar seperti teman-temannya.


" Dada... ibu" Dia melambaikan tangannya dan berlari menjauh dariku.


Dan aku hanya bisa membalas lambaian Tari dengan mata mulai berkaca-kaca.


Karena dia, aku bisa menjadi wanita kuat.


****


Aku mulai membereskan rumah kecilku. Ruang tamu sudah ku sapu, kini aku akan mencuci piring agar pekerjaan ku selesai dan aku bisa segera menjemput Tari, sebentar lagi waktu pulang akan tiba.


Tok..tok..tok..


Aku menghentikan aktivitas mencuci ku.


Seperti ada yang mengetuk pintu. Apa Tari sudah pulang.


Aku mengintip dari balik jendela, ternyata ada pak Rt dan istrinya juga ada pak kepala desa di kampung ini.


Bergegas aku memakai jilbab dan segera membuka pintu.


Mereka mengucap salam dengan ramah.


" Waalaikumsalam.."


Silahkan masuk pak, buk. Dengan cepat aku menggelar tikar agar mereka tidak duduk di lantai. Rumahku memang tidak ada kursi jadi untuk menerima tamu kami cukup menggelar tikar. Sungguh kontras dengan kehidupanku yang dulu.


Mereka sudah duduk dirumahku.


Aku meninggalkan mereka sejenak untuk menyuguhkan teh.


" Silahkan diminum pak, buk." Aku mempersilahkan mereka dengan sopan.


Buk RT dan pak RT begitu ramah padaku, namun pak kepala desa hanya memilih untuk diam.


Ada apa sebenarnya ini?


" mbak Afi, maksud kedatangan kami kesini adalah atas permintaan pak Rizky untuk menanyakan status mbak."


Perkataan pak RT bagai petir yang menggelegar di siang hari.

__ADS_1


" Status saya?" Aku mengulang pertanyaan yang membingungkan untukku.


" Ehm...Maksud kedatangan saya ingin melamar mbak Afi jika berkenan."


" Hah melamar?"


saking terkejutnya aku sampai tidak sadar dengan ucapan yang keluar dari mulutku.


" Maaf kalau kedatangan kami begitu membuat mbak Afi terkejut. Jujur saya sudah lama tertarik pada mbak Afi."


Apa yang harus ku katakan? Aku saja belum bisa move on dari masa lalu ku. Terkadang aku masih suka menangis karena memendam kerinduan pada mas Adzam dan juga keluarga mas Adzam yang lain.


" Ibu...."


Dari jauh terdengar suara nyaring putriku.


Ia pasti marah karena aku tidak menjemputnya hari ini.


" Assalamu'alaikum, ibu kenapa gak jemput Tari?" Ia mencium kedua pipiku.


" Sayang, salim dulu sama bukde dan pakde."


Ia pun menuruti perintahku. Kemudian ia masuk kekamar," Assalamu'alaikum ayah, hari ini Tari dapat nilai A, pasti karena doa ayah. Besok doain Tari lagi ya, yah."


Dari dalam kamar terdengar nyaring suara Tari membuat pak RT dan buk RT serta pak Rizky saling berpandangan.


" Maaf ya pak, buk, saya butuh waktu untuk memikirkan semuanya." Tolakku dengan sopan.


" Tidak masalah, saya akan sabar menunggu kepastian mbak Afi." Ucap pak Rizky.


Tidak berlama-lama, tamuku hari ini sudah pulang.


Aku menutup pintu dan masuk kekamar.


Tari sudah memejamkan mata sambil memeluk ponselku di dadanya.


"Nak, sedih hati ibu melihat kamu menahan rindu seperti ini. Kuambil ponsel itu dari tangannya.


Dan benar saja, ada foto mas Adzam yang terpampang di layar.


" Mas, pernahkah kamu tahu sakitnya menahan rindu?" Aku mengusap air mataku.


****


Aku tidak pernah menyangka jika pak Rizky menaruh rasa padaku.


Pak Rizky adalah seorang duda tanpa anak.

__ADS_1


Istrinya meninggal karena sakit kanker stadium akhir sejak lima tahun yang lalu.


Lalu apakah aku harus menerima lamaran pak Rizky?


__ADS_2