Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 39


__ADS_3

Waktu terus berlalu, kehamilanku semakin membesar. Dan kini sudah memasuki bulan kesembilan. Kemarin juga aku dan mama baru saja pulang dari klinik untuk pemeriksaan rutin,. Memastikan aku dan calon bayiku dalam keadaan baik.


Ada perasaan sedih, karena setiap kontrol aku hanya bersama mama dan Raka.


Dan bahagianya calon bayiku berjenis kelamin perempuan.


Ada rasa tidak sabar ingin segera berjumpa dengan malaikat kecilku ini.


Hari ini aku, mama dan Ririn sudah membuat janji untuk berbelanja keperluan calon bayiku.


Dan Raka akan menjadi supir pribadi kami.


Kini kami sudah berada di toko khusus perlengkapan bayi.


Kami begitu terkagum-kagum melihat pernak pernik anak perempuan.


Ririn pun sampai khilaf ingin memborong semua perlengkapan bayi yang serba berwarna pink.


Disaat mama dan Ririn sedang asyik memilih, sebuah pesan tanpa nama masuk ke handphone ku.


( Anak yang kamu kandung itu pasti anak Raka)


Kalimat pesan ini menggores hatiku.


Bahkan nomor handphone ini tidak tersimpan di handphone ku.


Ada masalah apa dia denganku?


Apa ini nomor mas Adzam? Atau ini malah Hanum yang dengan sengaja merusak mood ku


Tanganku gatal untuk membalas pesan dari nomor yang tidak di kenal


( Siapa pun kamu, jangan sampai aku mencari mu dan menemukanmu, karena jika kamu menyangkut pautkan bayi yang ada dalam kandunganku maka bersiap-siaplah untuk mendekam di rumah tahanan). Ku tekan tombol send, dan kini pesanku terkirim.


Jangan main-main padaku. Rasa sakit di hatiku bisa saja membuat mataku buta.


Aku menatap kegembiraan mama dan Ririn. Mereka masih asyik memilih keperluan bayiku. Sementara aku memilih menunggu disini, karena kakiku terasa sakit jika haris terlalu lama berdiri.


Aku memberi kesempatan dan menyerahkan semuanya pada mama mertua dan adik ipar ku. Aku percaya, mereka akan memberi hal yang terbaik untuk kami berdua.


" Tara...." Ririn mengejutkanku. Tangannya sudah penuh dengan barang belanjaan.


Begitupun dengan Raka. Ia kulihat beberapa kali mondar-mandir membawa barang belanjaan dan menyusunnya di dalam mobil.


Kini kami sudah selesai berbelanja, dan sebelum pulang kami memutuskan untuk mengisi kampung tengah yang mulai berdemo meminta diisi.


Kami memilih rumah makan yang menyediakan tempat lesehan,


Aku meluruskan kaki ku yang mulai bengkak. Mengurutnya pelan-pelan.


Pesanan kami sudah datang, dan tempat ini dulunya adalah tempat favorit aku dan mas Adzam. Aku menonyor kepala ku sendiri karena memgingat mas Adzam. Dan tongkah konyolku ini mendapat tatapan aneh dari mama, Ririn juga Raka.


Aku yang tersadar jadi merasa malu, dan pura-pura sibuk sendiri.


Sesang asyik menikmati sepotong rendang dan sepiring nasi hangat, tiba-tiba mama memanggil seseorang,


" Adzam.."


Kami serempak melihat mama.


" Adzam!"


Kini mama mulai bangun dari duduknya, mama mengejar seorang lelaki berjas hitam.


Mama berhasil meraih tangan lelaki itu.


" Adzam, kenapa pura-pura tidak mengenal mama?" Tanya mama sedih.


Lelaki itu masih mematung, posisinya membelakangi kami. Aku memperhatikan postur tubuhnya, Apa benar itu mas Adzam? Mengapa badannya kurus?


Ririn yang takut mama salah orang segera mendekati mama. Ia berhadil berdiri di depan lelaki itu.


" Mas Adzam?" Ucap Ririn terkejut.


Mama menggandeng tangan mas Adzam menuju meja kami.


Ada raut bahagia juga sedih dan kerinduan yang terpancar dieajah keriputnya.


" Mau pesan apa?" Tanya mama kepada mas Adzam.


Pelayan yang datang sedang menunggu mulut mas Adzam terbuka.

__ADS_1


" Pakai rendang dan sambal hijau juga rebusan daun singkong. Jangan lupa jus jeruk hangat." Ucapku pada pelayan.


Mas Adzam menatapku dalam. Reflek aku menutup mulutku.


Ups! Kini bukan hanya mas Adzam yang menatapku, Ririn dan Raka menatapku penuh arti.


Ririn tampak cengengesan ke arahku.


Bodoh! Mengapa aku masih mengingat makanan kesukaan mas Adzam? Bisa gede rasa dia.


Kini kami sudah selesai makan. Mama masih menatap putranya penuh cinta.


Aku paham bagaimana perasan mama, mama adalah orang yang melahirkan mas Adzam. Baik buruknya tingkah mas Adzam, ia adalah darah daging mama.


" Zam, apa kabar?" Tanya mama sendu.


Mama memegang lengan putranya. Setelah selesai makan, mas Adzam memeluk mama. Sepertinya mereka saling merindukan.


" Baik ma,"


Singkat sekali jawaban mas Adzam.


" Zam, sebentar lagi Afi akan melahirkan, lihat perutnya sudah swmakin membesar." Mama mebunjuk kearahku sambil tersenyum.


Aku yang di tatap mas Adzam pura-pura membuang pandanganku.


" Apa kamu tidak ingin menemani Afi melahirkan anakmu?" Tanya mama lagi.


Mama sungguh lembut menghadapi putranya ini. Mungkin ia ingin putranya menjadi seperti dulu lagi.


" Kata Dokter, hanya tinggal menunggu beberapa hari. Pulang ya! Apa kamu ndak kangen sama mama? sama Afi? Seberapa kuat Hanum mengikatmu sampai kamu tidak ingat mama dan Afi lagi?" Mama mengusap sudut matanya yang berair.


Kasihan sekali mama, seharusnya mama menikmati mas tuanya dengan bahagia bukan dengan penderitaan seperti ini.


" Apa kamu bahagia tinggal bersama Hanum?"


Mas Adzam hanya diam, ia tak menjawab pertanyaan mama, Justru ia memeluk mama. Mas Adzam membayar semua makan kami hari ini. Lantas ia meninggalkan kami begitu saja.


Mas, ternyata mata dan hati kamu sudah tertutup oleh pesona Hanum.


Terima kasih untuk perlakuan manis mu hari ini.


*****


Aku berusaha untuk bersikap tenang Walau ini pengalaman pertamaku. Namun setidaknya aku tidak boleh panik.


Aku mulai menyusun perlengkapan ku yang nanti akan ku bawa ke klinik bersalin. Mulai dari baju bayi, sarung tangan dan kaki, kain panjang, bedong bayi, juga pampers bayi tak ketinggalan. Oh iya, hampir lupa aku juga menyelipkan susu dan juga DOT bayi sebelum nantinya aku bisa memberi ASI eksklusif pada bayiku.


Setelah semua kebutuhan bayi selesai, aku mulai mempersiapkan untuk kebutuhan ku sendiri. Aku sedikit mengingat-ingat, takut ada yang tertinggal. Jangan sampai aku harus merepotkan orang lain. Cukup sudah selama ini aku merepotkan mama, Ririn dan juga Raka. Bukankah selama beberapa bulan ini mas Adzam sudah menempah diriku untuk bermental baja.


" Mas, kamu berhasil! Kini aku bisa kuat tanpamu melewati detik-detik hal yang menegangkan untukku." Gumamku pelan bahkan seperti berbisik.


Tok..tik..tok..


" Mbak?"


" Masuk!"


Ia terkejut melihat dua tas yang sudah penuh terisi baju.


" Mbak mau pergi dari sini?" Tanya Ririn penasaran.


Aku tertawa melihat reaksi adik ipar ku.


" Kok malah tertawa sih?"


Ia mulai ngambek padaku.


Aku membuka tas berisi baju bayi, " Mbak cuma mempersiapkan andai nanti tiba-tiba mulai terasa." jelasku pada Ririn.


" Mbak uda mau melahirkan?"


Aku menggeleng, " Masih lama." Jawabku singkat.


" Kalau sudah mulai terasa segera kabari Ririn ya mbak."


Aku kini mengangguk, ia melenggang santai keluar kamarku.


Kini aku berdiri di depan jendela kamar. Kulihat Raka tengah bersiap-siap, sepertinya ia ingin berangkat kerja.


Ririn menemui Raka, mereka terlibat pembicaraan yang serius. Dan kini kulihat Raka mengangkat jempolnya ke arah Ririn dan diakhiri tawa mereka berbarengan.

__ADS_1


Sungguh ini adalah pemandangan paling indah melihat kakak adik akur dan kompak. Andai dulu aku punya adik, atau setidaknya kakak, pasti sangat menyenangkan punya kawan berbagi.


Namun, sampai sekarang saja aku tidak tahu dimana keberadaan ayah dan ibuku.


Rasa mulas di perutku mulai terasa, Terkadang aku harus menarik napas panjang agar rasa sakitnya bisa sedikit ringan.


Dan siang ini aku mencoba tidur siang berharap nanti tenagaku bisa pulih dan aku bisa melahirkan normal.


Beruntungnya rasa kantuk begitu cepat menyerangku, Hingga sebentar saja mataku sudah terlelap.


****


Aku terbangun ketika rasa mulas mulai sering terjadi. Segera aku membersihkan diri , bersiap untuk berangkat ke klinik.


Ririn,mama dan Raka sudah bersiap-siap.


Kini Raka sedang menyusun semua tas ke bagasi mobil.


Aku memegang tangan Ririn sebelum melangkah keluar dari kamar, " Rin, jika sesuatu terjadi pada mbak," Aku kembali menarik napas panjang, rasa mulas itu kembali datang, sejenak aku berhenti berbicara untuk meresapi sakitnya.


" Huft... Tolong rawat anak mbak, ya! Jangan biarkan ia di asuh oleh mas Adzam juga Hanum." Pintaku memelas.


" Mbak, berfikir positif ya. Mbak kuat, mbak hebat, mbak pasti sehat. Ada Ririn, mama juga Raka yang bakal berdiri di samping mbak."


Ririn menguatkan ku. Dukungan Ririn membuat ku semangat.


Aku di bantu Ririn berjalan tertatih-tatih, ada raut khawatir di wajah mama.


" Sudah siap? Kita berangkat sekarang?" Tanya Raka.


Kini kami sedang berada di perjalanan. Ririn berkali-kali mengusap keringat yang membasahi wajahku.


Kulihat mama sibuk menelpon, Kudengar suara tuanya sedang mengomel karena telponnya tidak di angkat.


" Mama nelpon siapa? kok sampai ngedumel?" Tanya Raka penasaran sama sepertiku.


" Mas mu, tapi kok gak diangkat. Gak tau orang lagi genting. Sesibuk apa dia sampai gak bisa ngangkat telpon dari mama."


" Ma..."


" Bagaimana pun Adzam adalah ayah bayimu, dia harus tahu bahwa hari ini kamu akan berjuang, jangan mau enaknya saja dengan Hanum. Sudah yang penting kamu fokus lahiran ya. Raka, tolong nanti mas mu di telpon sampai diangkat!" Titah mama


Ucapanku di potong mama, mama seperti tahu jika aku tidak menginginkan kehadiran mas Adzam. Sudah terlalu sakit luka ini.


Akhir kami sudah sampai. Karena sudah membuat janji di klinik bersalin langganan ku akhirnya aku didorong keruangan bersalin.


" Ada suaminya buk?" Tanya dokter.


Aku menggeleng, mulutku sudah tak sanggup berbicara. Lututku mulai menggeletar.


Suster mencek bukaan jalan lahirku.


" Alhamdulillah, prosesnya Insya Allah yidak lama lagi, sudah pembukaan lengkap."


Tanganku di pasang infus, sebagai penambah tenaga. Dokter dan sudster tengah bersiap-siap.


Aku sudah membuka kakiku.


Ririn dan mama sudah ada di atas kepalaku.


Ririn begitu cekatan mengusap keringat di wajahku.


" Ibu, jika ibu merasa ingin BAB silahkan ibu mengejan ya.." Terdengar suara dokter begitu ramah memberi tutorial pada ku.


Aku mengangguk sebagai tanda mengerti.


Ya Allah... Berkali-kali aku mengucap Asma Allah, Meminta di beri kekuatan.


Rasanya kematian begitu dekat denganku.


" Ayo bu ngejan yang lebih kuat, jangan lupa tarik napas ya.." Semua dokter dan suster memberi semangat padaku.


Pandanganku mulai buram. Tenagaku pun sudah terasa habis. Bahkan kini aku merasa ngantuk hingga mama dan Ririn berkali-kali menggoyang wajahku agar aku tersadar.


" Ayo bu, sedikit lagi!" perintah dokter.


Disaat aku mulai putus asa, Ada wajah mas Adzam dan Hanum tersenyum menghinaku terbayang di pelupuk mataku.


Dengan sekuat tenaga aku kembali mengejan, dan...


Oek....oekk...oek...

__ADS_1


Terdengar suara tangisan bayi yang begitu kencang memenuhi ruangan ini...


__ADS_2