Boleh Ku Pinjam Rahimmu?

Boleh Ku Pinjam Rahimmu?
Boleh Ku Pinjam Rahimmu 9


__ADS_3

Postingan itu pasti untukku. Hanum.. semoga AKU BOLEH MEMINJAM RAHIM MU UNTUK ANAK-ANAK KAMI NANTI Harap ku dalam hati.


Malam mulai merambat, sunyi sepi menghias malam ku.


Jika suatu hari nanti mas Adzam menikah dengan Hanum maka aku harus terbiasa dengan hal ini.


Mungkin ia akan pulang tiga hari sekali,satu minggu sekali, satu bulan sekali,enam bulan sekali, satu tahun sekali atau malah tidak akan pulang kerumah ini lagi. Aku harus siap dengan segala sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari nanti.


Rasa kantuk datang menyerang, aku mematikan lampu kamar menggantinya dengan lampu yang lebih redup. Kutarik selimut menutup separuh badanku.


Akhirnya aku terlelap dalam tidur ku.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tidur.


Aku terbangun karena tenggorokanku terasa gatal dan aku mau mengambil minum.


Alangkah terkejutnya aku, tidak mendapati suamiku tidur di sampingku. Padahal jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Aku bangun dan melangkah keluar dari kamar. Pintu ruang kerja mas Adzam masih tertutup rapat. Aku berjalan mengendap-endap.


Kini hatiku di liputi oleh rasa curiga.


Apakah mas Adzam berselingkuh di belakang ku? Aku mengintip mas Adzam dari celah bolongan kunci. ku rapat kan telingaku ke pintu namun aku tak mendengar sesuatu yang mencurigakan.


Dengan perlahan aku membuka pintu yan tidak terkunci.


Mas Adzam sedang tertidur dengan kepala diletakkan di meja beralaskan tangannya.


Sementara laptop mas Adzam masih menyala.


Ya Allah... tidur kok disini sih mas... Aku menggerutu sendiri. Aku menggoyangkan badan mas Adzam, " Mas.. bangun!"


Mas Adzam mengucek matanya. laSepertinya nyawanya belum terkumpul seluruhnya.


" Gendong yang..!"


Ucapannya sontak membuatku tertawa kencang.


" Jangan becanda mas, badan segede kebo minta digendong sama istri yang besarnya hanya selidi yo ndak mampu aku dudu spek idaman mu." ucapku sambil bernyanyi.


Mas Adzam mematikan laptopnya.


Aku dan mas Adzam keluar menuju kamar pribadi kami. Tak lupa ia menutup pintu ruang kerjanya.


Aku membawa minum kekamar kami. Mas Adzam sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, aku pun menyusulnya. Mas Adzam belum tidur sama sepertiku.


Aku menarik selimut menutup separuh tubuhku, berharap rasa kantuk datang menyerang ku. Aku memiringkan badanku menghadap tembok kamar, hal yang sangat jarang kulakukan semenjak menjadi istri mas Adzam.


" Yang.." Mas Adzam menepuk punggungku.


" Hem..?"


" Uda tidur?" tanya nya.


" Bentar lagi." sahutku singkat.


" Ngobrol dululah, mas jadi gak ngantuk." ia mencolek pinggangku.


" Geli mas.." Aku memutar tubuhku kearah mas Adzam.


Kami saling menatap, hingga aku menaikan satu alisku., " Ngobrol apa mas?"


" Kalau aku menikah lagi, tentu aku tidak bisa menemani kamu setiap malam. Apa kamu siap? Apa kamu berani dirumah ini sendiri?" Ia menatapku dalam.


" Semua itu sudah aku fikir kan masak-masak mas. Kamu gak perlu khawatir, yang penting kamu bahagia." Aku berusaha mengusir semua kegalauan mas Adzam.


" Hanya aku yang bahagia?" tanyanya heran.

__ADS_1


" Hem ralat, kita berdua eh salah kita bertiga yang bahagia. Aku,kamu dan Hanum." ucapku penuh keyakinan.


Ia mengelus wajahku, " Maafin mas ya.. sudah membuat kamu berada di situasi seperti ini. Kalau kamu masih ingin berubah pikiran silahkan! Itu yang harapkan." bisiknya.


Aku hanya menggelengkan kepalaku.


Aku tidak boleh mundur, sekali maju haru maju. Ibarat mandi kalau sudah basah, ya basah sekalian. pikirku dalam hati.


" Tidur yuk!" ajakku.


Kami memejamkan mata berharap mimpi indah hadir diantara kami berdua.


***************


Pagi ini mentari bersinar begitu cerah. Mas Adzam sudah berangkat ke kantornya.


Aku mengirimkan pesan singkat pada Hanum.


( Assalamu'alaikum Hanum, jadi nanti ketemu?) send


Aku mengetuk-ngetuk meja kaca di ruang tamu. Tak sabar menunggu balasan dari Hanum.


Satu menit, lima menit, hingga lima belas menit pesanku belum juga di balas.


Aku mengambil handuk, mandi mungkin membuatku menjadi segar dan bisa berfikir jernih.


Kali ini aku begitu menikmati mandi, hampir lima belas menit berada dikamar mandi.


Selesainya aku merias diri dengan riasan wajah yang ringan.


Alhamdulillah sudah selesai.


Aku kembali mengambil handphone ku dan ternyata belum juga ada balasan dari Hanum. Apa mungkin hanum masih sibuk ya? Aku mencoba berfikir positif, karena Hanum adalah seorang pendidik di bangku sekolah dasar.


Beginilah aku yang hidup tanpa anak. Saat suami kerja aku bingung mau ngapain.


Rumah sudah beres, kain sudah rapi, mau izin kerja suami gak ngebolehin.


Sesekali aku ikut pengajian. Lima tahun sudah aktivitas seperti itu rutin kulakukan.


Bosan! itu yang kurasa.


Coba aja dulu setelah menikah aku langsung hamil, mungkin sekarang usia anakku sudah berjalan 3- 4 tahun.


Mungkin saat ini aku sedang merayunya untuk minum susu, mungkin saat ini aku sedang memberesi mainan yang sudah berserakan di lantai,mungkin juga aku sedang berusaha untuk menidurkannya.


Huft! aku menghela nafas.


Ku raba perut ku yang rata.


Dulu tanpa sepengetahuan mas Adzam, aku sering marah melihat perut datar ini. Tak jarang aku memukul dan memaki perut datar ini.


Aku ingin seperti teman-teman ku yang sudah menikah dengan perut membesar sebagai pertanda hamil.


Bahkan diawal pernikahan puluhan testpack ku beli untuk memeriksa kehamilanku.


Dan kini aku sudah berada diambang kelelahan, kekecewaan, bahkan aku sudah krisis kepercayaan diri.


Bagaimana bisa setiap kami datang di acara kantor mas Adzam, begitu banyak orang yang memberondong pertanyaan, ' Sudah berapa anaknya?' kok belum punya anak, di KB ya? atau yang lebih miris mereka sering mengasihani aku dan mas Adzam. Kasihan ya padahal mereka pasangan sempurna yang perempuan cantik yang lelaki ganteng tapi gak punya anak.MANDUL.


Itulah yang membuat aku tak mau 8kut lagi di acara kantor mas Adzam. Telingaku seperti akan meledak mendengarkan ocehan nyinyir karyawan mas Adzam tentang kami berdua.


Dan kini mas Adzam tidak pernah membicarakan dan mengajakku bila ada acara kantor.


Ia akan menghubungiku pulang terlambat jika ada acara di kantornya.


Tring....

__ADS_1


Suara pesan dari handphone membuyarkan lamunanku.


Nama Hanum terpampang di layar handphone.


Ku buka pesannya di aplikasi hijau.


(Nanti selepas anak pulang sekolah aku mampir kerumahmu. kamu dirumahkan?)


Aku langsung membalas pesab Hanum.


(Oke, aku tunggu kedatangan mu ya ..sekalian kita makan siang bersama dirumahku)


Aku menekan tombol send.


Tak lama muncul tanda jempol balasan dari Hanum.


Aku bergegas mengambil dompet, keluar rumah menunggu kang penjual sayur lewat.


Dan sepertinya aku bernasib munjur. Tak lama di tunggu kang sayur akhirnya lewat.


" Kang." panggilku melambaikan tangan.


Kang sayur pun berhenti, " Beli apa neng? Kebetulan sayur dan ikannya madih segar-segar." ucap penjual sayur.


Aku melihat gerobak sayur , penuh dengan ikan dan sayur segar.


Ingin masak Rendang daging sapi tapi takutnya tidak terkejar waktunya. Akhirnya pilihanku jatu pada kepiting, cumi, kerang,udang dan jagung. Masak seafood jauh lebih mudah dan praktis.


Aku membeli agak banyakan supaya nanti bisa di antar kerumah mama mertua.


Kini aku sudah berkutat dengan masakanku.


Masakan ini ku olah dengan tulus. Berharap Hanum membawa kabar bahagia untuk keluarga kecil kami.


yes! Akhirnya aku sudah selesai masak.


Jam didinding sudah menunjukkan pukul dua belas pas.


Tak lupa aku menelpon mas Adzam untuk pulang dan makan bersama dengan aku dan Hanum. Tadi nya mas Adzam menolak dengan alasan canggung, tapi aku memohon dan merayunya hingga ia akhirnya luluh. Aku juga menelpon Ririn agar menjemput seafood yang sudah kumasak, mumpung masih hangat.


Tak lama kemudian aku mendengar suara deru motor milik Ririn, aku membuka pintu. Tak lupa cipika cipiki.


Ia tak lama-lama berada dirumahku karena mau ada acara dengan teman kuliahnya.


Setelah Ririn pergi aku segera merias wajahku dan berganti pakaian agar lebih segar dan wangi.


Tok.. tok..tok..


Ada yang mengetuk pintu rumah.


Jangan-jangan Hanum?


Aku berlari kecil membuka pintu.


Ada wajah yang kukenal. Hanum. Kami pun berpelukan. Aku mempersilahkan ia masuk. dan kami langsung duduk di meja makan.


" Uda lapar ya?" tanyaku.


" Iya.. apalagi aroma masakan kamu uda seliweran di hidungku." ucapnya tanpa malu-malu.


Aku menyusun piring dan seafood di hadapan Hanum. Tak berapa lama mas Adzam pulang. Aku menyambutnya dengan ciuman di pipi.


Tak lupa aku mengenalkan Hanum pada mas Adzam.


Hanum hanya menangkup kan tangannya di dada. Ia dan mas Adzam bukan muhrim aku paham itu.


Akhirnya kami makan dengan lahap. Tampak di wajah Hanum dan mas Adzam ada kecanggungan dan aku berusaha mencairkan suasana.

__ADS_1


Selesai makan, aku tak mau berbasa basi lagi.


" Hanum, bolehkah aku meminjam rahimmu? Tanyaku dengan serius.


__ADS_2