Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 21 : Tiga Lawan Satu


__ADS_3

Makhluk itu kembali bangkit dan berlari untuk satu lawan satu melawan Todo, mereka saling membenturkan senjata mereka. Adhi menyelinap dari titik butanya, sayangnya bos ini memiliki pengamatan hebat dimana mampu menganalisa gerakan lawannya.


Dia memblok tebasan Todo kemudian mengalihkan pedangnya menghantam pedang Ardhi, dia melakukannya secara bergantian.


Hebat.


Ardhi hampir berteriak memujinya namun jelas itu bukan kata-kata yang ditunjukkan pada musuh.


Dentrang.


Percikan meluncur ke udara bersama lengkingan suara yang nyaring, memanfaatkan keduanya yang bertarung secara intens Mery melangkah maju.


Bos itu menerbangkan Ardhi dan Todo dalam sekali ayunan, dia tidak mempertimbangkan kemunculan Mery yang bergerak dengan cepat hingga berada di depan wajahnya.


Perisai itu menghasilkan dentuman keras saat mengenai perutnya, melambungkannya menghantam dinding.


"Berapa berat perisai tersebut?" tanya Ardhi yang dijawab ringan Todo.


"Tidak tahu, aku belum pernah menanyakannya ataupun mencoba memegangnya."


Dengan kepribadian Mery jelas tidak ada yang mau mendekatinya. Pedang Ardhi yang menusuk di bagian tertentu bos itu semakin menembus ke dalam akibat benturan.


Di sisi lain dia bisa membatasi pergerakan Ardhi namun di sisi lain itu juga menjadi kerugian untuknya, bos ikan membuka mulutnya sembari berteriak "Graaaaaaaaah," sebelum kembali menerjang ke depan, dia kini lebih mengarahkan serangan pada Mery, tentu dua rekan lainnya tak hanya diam untuk menonton saat dia dihujani berbagi tebasan kuat

__ADS_1


Ardhi memberikan tebasan di punggungnya, dia berbalik sedangkan dari atas tebasan Todo datang, di detik akhir monster itu bisa melompat mundur untuk menjauh dari ketiganya dan bersamaan itu guncangan gempa bumi terasa di antara mereka.


"Apa ini ulah monsternya?" tanya Todo berusaha menyeimbangkan kakinya.


Tentu saja bukan.


Dan Ardhi mengikuti pandangan Mery yang tertuju ke arah gunung satu-satunya di pulau ini, yang tiba-tiba saja mengeluarkan letusan pertama.


Mereka bisa mengerti apa yang diinginkan oleh para monster laut ini sebelumnya.


Pulau ini akan hancur tak lama lagi dan mereka berniat untuk mengambil kembali rumah para manusia yang berada di bawah laut.


Jelas hal itu tak akan terjadi lagi.


Sebelum Todo menyelesaikan kalimatnya, mereka jelas sudah menghilang.


"Mereka benar-benar cepat soal melarikan diri, aku bangga karena sudah melatih mereka."


"Yah, seharusnya kau.."


"Seharusnya apa?"


"Lupakan saja."

__ADS_1


Puing-puing batu berapi berjatuhan dari langit bersama letusan ke dua, ketiga dan selanjutnya. Walau berbahaya pertarungan ini masih belum berakhir. Ardhi berkata ke arah Todo.


"Aku perlu pedangku kembali."


"Serahkan padaku, Mery?"


"Aah."


Dibarengi anggukan kecil, Mery langsung bergerak untuk melawan keberadaan bos monster laut. Seperti biasanya perisainya tak bisa ditembus.


Ardhi bisa mengerti seberapa frustasinya musuhnya, baginya Mery mirip seperti sebuah dinding kokoh. Beberapa goresan mengenai tubuh Mery karena kelelahan akibat perisai itu terlalu berat.


Jika pun dia menggunakan perisai yang lebih ringan, itu juga akan mengurangi pertahanannya.


Ardhi melemparkan kedua pedangnya di udara dan keduanya melesat untuk melukai lengan bahu bos itu. Dia tak menyerah lalu menendang tubuh Mery setelah dia kehilangan tenaga hingga terbang ke samping.


Darah menyembur dari mulutnya.


Todo pun muncul kemudian menebas bagian daging yang menjerat seluruh pedang milik Ardhi sebelum ia pun dijatuhkan dengan tebasan.


"Apa itu cukup?!" teriak Todo.


"Tentu saja."

__ADS_1


Ke-enam pedang Ardhi mulai terangkat mengikuti pergerakan tangannya, ketika dijatuhkan seluruh pedang itu menembusnya di beberapa titik vitalnya hingga nyawanya terenggut selamanya.


__ADS_2