
Kelompok Ardhi berhasil menyelinap dan masuk ke dalam istana, suasana terlihat sepi tapi bukan berarti tanpa penjagaan.
Di tempat ini ada dua penjara karena itulah mereka membagi diri menjadi dua kelompok, Ardhi, Latifa dan Asenola memeriksa penjara di kiri, untuk Nisa dan Mery penjara yang lain.
Ardhi menjatuhkan beberapa penjaga dengan memukul belakang leher mereka lalu dibantu kedua rekannya mereka menyembunyikannya di dalam semak-semak.
"Apa mereka mati?" tanya Asenola.
"Tidak, aku hanya membuat mereka tak sadarkan diri."
"Begitu."
"Mari bergerak lagi."
Mereka berlari di dalam lorong saat penjaga muncul dari balik pintu, Latifa menggunakan sihir Flash untuk mengaburkan pandangan mereka dan dengan terjangan kuat Ardhi menjatuhkan mereka sebelum bersama yang lainnya turun ke ruang bawah tanah yang mana di dalamnya deretan sel berjajar dengan rapih.
Hanya satu yang terisi dari keseluruhan sel tersebut.
"Siapa kau?" sebelum penjaga itu bisa bergerak, punggung pedang Ardhi telah menjatuhkannya ke lantai.
"Mama?"
Asenola segera menyambar sebuah sel yang berada paling ujung. Latifa mengikuti bersamanya dan tampaknya ratu hanya berdiri di sana dengan wajah kosong seolah dia bukan dirinya sendiri.
Ardhi yang memeriksa tubuh penjaga yang dia tumbangkan mendapatkan sebuah kunci lalu membuka sel tersebut hingga Asenola melompat untuk memeluk ibunya erat.
Nama ratu itu bernama Rola Lyndon Agnessia, dengan kata lain Asenola juga memiliki nama keluarga yang sama.
__ADS_1
Latifa merapalkan sihir suci dan cahaya menyembuhkan ratu dengan mudah, ia mirip seperti Asenola namun dalam versi wanita dewasa di pertengahan 30an.
"Asenola?"
"Mama."
"Syukurlah kamu selamat."
Sebuah ledakan membuat tanah bergetar yang mana menandakan bahwa mereka harus segera melarikan diri.
"Kita harus segera pergi sekarang."
"Lalu bagaimana Nisa dan Mery?" tanya Latifa.
"Tak apa, kita akan datang menyelamatkan mereka nanti yang lebih penting keselamatan ratu dan putrinya."
Ardhi tak ingin melakukan ini tapi, hanya inilah jalan satu-satunya agar mereka selamat, mereka tidak tahu berapa jumlah orang di istana dan bagaimana kondisinya.
Fakta mereka menerobos ke sini juga karena semata-mata modal nekat.
Matahari terbit dan sebuah pengumuman telah disebarkan ke sudut kota, Ardhi yang sejak pagi tadi menyelinap di antara orang-orang telah kembali ke penginapan.
Di sana Latifa, Asenola dan ratu tampak memiliki ekpresi sedih.
"Bagaimana dengan mereka?"
"Mereka baik-baik saja, mereka dinyatakan sebagai pengkhianat kerajaan dan akan dieksekusi tengah hari."
__ADS_1
"Itu mustahil? Bagaimana bisa seorang menyelinap harus dihukum mati."
"Itu karena mereka dituduh sebagai pembunuh ratu."
Semua orang di ruangan tampak terkejut, bagaimanapun ratu masih hidup terlebih berada bersama mereka.
"Mereka membunuh pelayan dan mendandaninya sebagai ratu."
Perkataan Ardhi membuat udara semakin buruk sampai sebuah burung mengetuk-ngetuk jendela. burung itu berwarna putih dan jelas itu bukanlah hewan sesungguhnya melainkan terbuat dari sihir Yumi.
Beberapa saat menunggu mereka telah muncul di atap.
"Kami langsung datang kemari setelah mengetahui situasinya, apa kau butuh bantuan Ardhi?" tanya Yumi disusul Roy di sebelahnya.
"Haha maafkan aku Ardhi-chan, seharusnya kami muncul dengan keren tapi malah seperti ini."
Mereka bergantian masuk lewat jendela. Yugo tampak pingsan dan hanya diseret Tiffany kasar.
"Siapa lawan kita? Aku siap membunuh mereka.. pertarungan sampai mati kan."
Seperti biasanya Tiffany selalu mengatakan hal berbau kekerasan namun Ardhi lebih penasaran dengan sosok yang dibawanya.
"Apa yang terjadi dengan Yugo?"
"Dia minum saat bertugas dan Yumi memintaku untuk menyeretnya, dia cukup berguna untuk umpan nanti."
Kelompok ini memang tidak normal tapi mereka jelas sangat bisa diandalkan.
__ADS_1