
Kelompok Ardhi kembali melakukan rutinitas mereka sebagai petualang, berbeda dari sebelumnya mereka sekarang adalah petualang peringkat C, karena itulah mereka bisa berburu di tempat yang sedikit berbahaya yang disebut tanah terjal Arguina, tempat ini dipenuhi kadal salamander dengan tubuh api yang menyala di bagian ekornya.
Mereka memiliki jumlah populasi tinggi dengan harga cukup lumayan tinggi.
Cakarnya biasanya digunakan sebagai perhiasan sementara tubuhnya dikonsumsi banyak orang karena rasanya enak.
Pemukiman goblin sudah tidak ada maka tempat ini menjadi tempat populer kedua untuk petualang pertengahan ataupun petualang tinggi.
Salamander membuka mulutnya dan api menyembur dari sana sehingga memaksa Mery menggunakan Absolute Shield untuk menahannya. Nisa yang menyelinap dengan skill Hide, melompat dari belakang lalu menikamnya tepat di kepala hingga tumbang.
Ardhi maupun Latifa bisa dengan tenang menurunkan pertahanan mereka. Satu ekor Salamander sepanjang 3 meter untuk usia muda dan 6 meter untuk dewasa, hanya memburu beberapa sudah cukup melelahkan apalagi jika seseorang itu tidak memiliki tas penyimpanan atau sebagainya hanya akan merepotkan. Namun, di sini Ardhi telah mempersiapkan sesuatu sebagai gantinya yaitu sebuah gerobak untuk mengangkutnya kembali meskipun mereka masih tetap meletakkannya di luar kawasan Arguina yang tidak terjal.
Mery dan Ardhi mengikat 5 ekor Salamander di gerobak tersebut, ketika mereka sudah memastikan bahwa itu akan baik-baik saja, mereka mulai mendorong bersama.
"Bukannya seharusnya kita memiliki tas penyimpanan?" tanya Latifa.
"Aku sudah berusaha membelinya nyan, sayangnya stoknya sendiri malah habis."
Sejujurnya Ardhi juga sudah mencoba membeli satu, namun seperti yang dikatakan Nisa, tas penyimpanan terbilang barang yang langka sekarang.
Sebelumnya mereka tidak punya uang untuk membelinya dan sekarang ketika mereka punya uang stoknya menghilang.
Tidak ada yang mau repot memikirkannya lagi karena itulah mereka memilih untuk melakukan apapun yang bisa mereka lakukan sekarang.
__ADS_1
Ardhi berhenti karena mendengar sesuatu, bukan hanya dirinya anggota kelompoknya juga merasakan hal sama.
"Apa itu nyan?"
"Entahlah, tapi sepertinya terdengar mengerikan, lebih baik kita cepat untuk keluar dari sini, " ucap Ardhi yang mendapatkan anggukan lainnya.
Sebagai pemimpin dia harus memprioritaskan keamanan anggotanya, bahkan terkadang rasa penasaran bisa membunuh seseorang.
Sesampainya di guild tampak orang-orang sedang berkumpul karena sesuatu, Cathy yang merupakan seorang resepsionis mendekati kelompok Ardhi.
"Kalian tidak apa-apa, aku bersyukur."
"Apa ada yang terjadi?" tanya Ardhi demikian mewakili pertanyaan semua rekannya.
"Jadi yang kami dengar dari makhluk bencana nyan."
"Apa kalian menemukan sesuatu?"
"Kami hanya mendengar sebuah suara aneh seperti jeritan," balas Latifa yang disusul Mery.
"Dari suaranya mungkin itu sesuatu yang besar."
"Jadi itu benar, sebaiknya guild membuat larangan untuk pergi ke area tanah terjal secepatnya."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong makhluk bencana seperti apa yang ada di sana?" tanya Ardhi yang dijawab cepat Cathy.
"Serpent, itu adalah ular raksasa tanpa kulit serta daging dan hanya tulang berulang, makhluk itu begitu menakutkan dan sering membunuh siapapun di dekatnya."
Mungkin lebih mirip semacam ular undead atau sebagainya.
Menurut cerita Serpent tadinya seperti ular pada umumnya, suatu hari pahlawan membunuhnya dengan sihir api hingga berubah menjadi tengkorak, ketika beberapa tahun berlalu ular yang mati itu hidup kembali dan menjadi makhluk bencana seperti yang mereka kenal sekarang.
"Kalau begitu aku akan mulai memeriksa salamander yang kalian bawa."
"Tolong yah."
Jika area tebing terjal berbahaya maka kelompok Ardhi hanya harus menghindarinya walaupun harga satu salamandernya berada dikisaran 20 koin perak mereka tetap memprioritaskan keselamatan.
"Semuanya jadi 100 koin perak."
"Tolong bagi empat."
"Baik, silahkan."
"Terima kasih."
Masing-masing orang mendapatkan 25 koin perak untuk perburuan hari ini.
__ADS_1