Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 72 : Kota Yang Kembali Bersemangat (End)


__ADS_3

Yang menyambut mereka adalah para Maid di kediaman Ardhi, hantu Mira dan juga Eve muncul belakangan setelah para pelayan membawa Purin untuk membersihkan diri dan beristirahat.


"Benar-benar mengerikan, siapa yang menyangka ada makhluk bencana di dalam gua nyan."


"Aku sebenarnya ingin mencoba seberapa kuat perisai baruku."


"Kau sudah gila, ah... aku baru menyadarinya, ternyata perisaimu baru."


"Aku ingin mengatakannya tapi aku merasa malu."


"Sangat feminim."


Ardhi menyandarkan dirinya di sofa ruangan tamu seperti yang dilakukan semuanya.


"Kita tidak bisa menemukan pemimpinnya walau begitu seluruh bandit pasti telah dihabisi oleh Serpent jadi mereka tidak akan bisa bergerak dalam beberapa waktu ke depan."


"Mau bagaimana lagi, melawan makhluk bencana sangatlah beresiko aku lebih bersyukur bahwa kalian bisa selamat," balas Eve demikian.


Mira yang melayang di atas Ardhi tampak mengepalkan tinjunya.


"Kalau saja aku kuat akan kuberikan makhluk itu pukulan dan tendangan."


"Itu akan membantu, tapi kau yakin masih tidak ingin pergi dari dunia ini. Aku akan mensucikanmu."


"Ardhi lihat itu, dia mau membunuhku aku bisa mati."


Dia memang sudah mati.


"Latifa hanya bercanda."


Tak lama kemudian Nisa tertawa dengan wajah penuh kemenangan.


"Ngomong-ngomong aku sudah menguras uang milik mereka nyan, mari kita bagi empat."


"Benar sekali."


"Aku ingin belanja besok, kita jangan lupa beri bagian untuk Eve yang telah meminjamkan kita tasnya nyan."


"Kalian benar-benar bersemangat, aku rasa semua penduduk kota juga akan kembali seperti itu."


Perkataan Eve mengakhiri kelelahan mereka.


Pagi berikutnya semua orang telah duduk di meja makan dengan semua hidangan tersaji di atasnya, itu terlihat seperti sebuah perayaan besar bagaimana keempat pelayan Ardhi membuatnya dengan semangat.


Mereka berdiri di belakangnya dan hanya menyisakan Lila yang duduk dipangkuan Ardhi selagi ia menyuapinya.


Pemandangan seperti itu telah menjadi hal biasa yang bisa mereka abaikan sepenuhnya, Purin malah lebih berkonsentrasi dengan makanan di depannya, dia makan seperti seorang yang telah kelaparan selama tiga hari.


"Enak, enak, ini masakan enak, ohok-ohok."

__ADS_1


"Ya ampun, kau bisa makan dengan pelan," ucap Latifa menyarankan.


"Apa dia benar-benar orang yang sama yang dipikirkan oleh orang-orang."


"Hmm, sisi seseorang terkadang sangat misterius nyan."


"Kenapa kau melihatku seperti itu," protes Latifa.


Eve memotong.


"Aku sudah menyebarkan informasi bahwa penyihir Purin telah diselamatkan dan akan tampil siang ini, semuanya terkendali."


"Sesuai yang diharapkan dari guild master."


"Puji aku terus Ardhi, aku tidak keberatan loh."


Mereka menghabiskan pagi dengan damai sebelum masing-masing orang mengambil waktu mereka sendiri untuk bersenang-senang di kota dengan berbelanja atau mencoba berbagai makanan yang telah disiapkan para fans fanatik Purin.


Ardhi dan Carmen juga tidak ingin melewatkannya dan berjalan-jalan untuk memeriksa keadaan kota.


Para pria bergaun wanita mengangkat tongkat bersinar mereka selagi memanggil nama Purin berulang kali.


"Mereka benar-benar tidak malu mengenakannya."


"Mereka bilang ini penghormatan dan dukungan untuk Purin," balas Carmen yang membuat Ardhi menghela nafas panjang.


"Bagaimana dengan Nemesis?"


"Ia melakukan pekerjaannya dengan baik, ia cukup ahli dalam urusan rumah tangga juga."


"Apa dia merasa senang bekerja dengan kita."


"Sepertinya begitu, semua orang juga merasa demikian hanya saja ada satu hal yang aku pikirkan tuan."


"Apa itu?"


"Nemesis adalah seorang elf, aku tidak pernah mendengar ia mau menjadi budak seseorang, jikapun itu terjadi seharusnya kerajaan Prista tak akan membiarkannya dan bahkan tidak sulit untuk mereka menyerang kota ini secara besar-besaran."


"Apa maksudmu dia disengaja dibuang oleh kerajaan tersebut."


"Benar, aku sempat menanyakannya tapi ia tak ingin membicarakannya."


"Tak apa, kurasa mungkin itu pengalaman pahit untuknya."


Keduanya telah sampai di kerumunan orang yang sedang berkumpul di depan panggung, musik telah dimainkan dan bersama sebuah kembang api yang meriah sosok Purin muncul dengan mikrofonnya.


Dia memberikan sambutan hingga selanjutnya menyanyikan lagu yang benar-benar energik.


"Lagu yang indah."

__ADS_1


Semua orang berteriak semangat dengan nama Purin.


"Terima kasih semuanya, berkat kalian aku bisa membawakan laguku di kota ini, selanjutnya lagu yang akan kunyanyikan Miracle love, tolong terima cintaku."


"Hoh."


Ketika dia mengatakan "Love, love, love," maka penonton akan mengikutinya dengan teriakan sama.


Bagi Ardhi ini adalah kota luar biasa ia tinggal, entah ada hal berbahaya seperti apa yang muncul dia akan mencoba melindunginya.


Suara dewi seolah teringat di benaknya.


Tolong bertambah kuatlah.


"Aku pasti akan bertambah kuat," gumamnya dalam hati.


Side Story : Misi Penipuan.


Di dalam sebuah guild yang penuh perkelahian kelompok Yumi telah mendapatkan misi khusus dari seseorang, Cathy mengatakan hal itu selagi memberikan misi yang biasanya ditaruh di papan quest.


"Misi pengawalan?"


"Benar, mereka ingin pergi ke kota bawah tanah Arfadius dan memerlukan pengawal, bagaimanapun juga tempat itu cukup jauh dan berbahaya."


"Roy bagaimana denganmu."


"Ini aneh, aku baru mendengar serikat pedagang ini, jelas ini jebakan."


"Eh benarkah? Apa kita harus melaporkanya pada guild master."


"Kurasa tidak usah, kami akan mengambilnya lagipula bayarannya cukup besar."


Yumi tersenyum menakutkan sementara yang lainnya juga terlihat tak keberatan, mereka bertemu dengan empat kereta di luar kota dan segera mungkin bergegas pergi


Setelah setengah perjalanan Yugo bertingkah acuh tak acuh dan berbaring di atas kereta sementara Tiffany sedang mencoba membersihkan pedangnya.


"Mereka tidak sekuat yang aku pikirkan?"


"Benar sekali," Roy menyetujuinya.


Di sekitar mereka semua pedagang yang seharusnya mereka kawal telah dijatuhkan, Yumi telah mengintrogasi mereka dan mengetahui rencananya. Dia membuat burung hantu dari buku gambarnya dan naik di punggungnya untuk pergi ke sebuah gua di perbatasan Arguina.


Itu malam hari tapi dia bisa dengan mudah melihat bagaimana kejadian di bawahnya sedang terjadi, kelompok Ardhi telah keluar dan kemudian dari gua itu muncul kepala ular raksasa.


"Itu makhluk bencana kah, tak kusangka ada yang seperti itu juga di sini."


Yumi membuat naga dari gambarnya dan itu menyerang ular tersebut hingga pertarungan tak bisa dilewatkan.


Paling tidak ia akan sanggup menahannya sampai kelompok Ardhi bisa menyelamatkan diri.

__ADS_1


__ADS_2