
Yumi kembali menggambar sesuatu di bukunya dan itu sebuah harimau putih yang sering digambar olehnya hanya saja ukurannya dua kali lipat lebih besar dan gigi yang jauh berjeruji.
Sekilas Ardhi bisa tahu bahwa dia tidak berniat menahan diri.
Ardhi mengambil ranting pohon sebagai senjata sebelum melesat maju, harimau berdiri di depannya berniat menerkamnya namun Mery entah bagaimana bisa melompat di atas kepalanya lalu menjatuhkan perisai beratnya.
Tung.... Brak.
Dentuman memekakkan telinga terdengar ke udara, Nisa dan Latifa turut bertarung di bawahnya, Ardhi juga tak tinggal diam dan dia menusuk ranting kayu tersebut hingga harimau meledak menjadi serpihan noda hitam.
Yumi tersenyum dengan senang.
"Untuk rank bawah kalian cukup kuat, sayangnya jika kalian ingin menang maka..."
Nisa langsung memberikan tebasan ke arah Yumi.
Dia menangkap kaki Nisa kemudian melemparkannya ke arah samping, Mery juga menerobos maju dengan perisainya.
"Ya ampun, cara yang sama tidak akan berhasil padaku."
"Aku tahu itu."
Tiba-tiba saja Mery berhenti di depan wajahnya. Dan di saat yang sama Latifa keluar dari belakangnya. Dia segera mengulurkan tangannya untuk menggunakan sihir Flash.
"Uwah, mataku... aku tidak bisa melihat," teriak panik Yumi.
Ardhi yang mengambil serangan akhir melompat pada Yumi dan menjatuhkannya ke tanah, dia duduk di atas Yumi sementara kedua tangannya membuat tangan Yumi tak bergerak.
__ADS_1
"Dengan ini kami yang menang."
Yumi menarik nafas panjang sebelum menjawab.
"Itu memang benar, aku ucapkan selamat untuk kalian semua."
Ardhi melepaskan tangannya lalu mundur dan duduk dengan nafas tersengal-sengal. Ini benar-benar pertarungan yang melelahkan ia berharap bisa segera menyelesaikan ujian ini dan pulang, sayangnya masih ada satu hari lagi yang harus mereka lewati.
Yang mereka lakukan selanjutnya hanya mengumpulkan seluruh poin ini dan bersembunyi di tempat aman, mereka terlalu lelah jika harus berhadapan dengan para petualang jika mereka berniat merebut poin.
Tempat yang dipilih mereka adalah sebuah celah gua yang berada di belakang air terjun, tempat itu lembab dan basah namun bisa ditinggali sebagai tempat sementara.
Terdapat lumut-lumut yang bercahaya di sana yang berguna sebagai penerangan, seperti biasa Ardhi yang bertugas untuk memasak. Dia sekarang sedang bersama para gadis mengumpulkan kepiting di jalur sungai.
"Uwaahh.... lepaskan makhluk ini dariku nyan."
Nisa tampak berlarian ke sana kemari saat tangan dan ekornya dicapit kepiting.
Mery adalah yang paling serius dan dibandingkan siapapun dialah yang paling banyak mendapatkannya, di sisi lain Yumi tampak duduk selagi menggambar mereka di buku gambar.
"Lukisan yang indah," katanya tersenyum kecil. Ia memutuskan untuk ikut dengan kelompok Ardhi setelah kekalahannya.
"Kau juga harus membantu nyan."
"Baik, baik, aku bantu.. Ardhi tolong bantu aku di sini."
"Baiklah."
__ADS_1
Ardhi memangku Yumi dengan kedua tangannya kemudian menurunkannya ke tengah sungai, melihat itu entah kenapa kecuali dirinya semua orang mencoba menahan tawa.
Dia benar-benar seperti gadis kecil imut yang sedang bermain dengan air. Yumi tampak mengembungkan pipinya.
"Hey Ardhi, kau tidak menganggapku anak kecil juga bukan."
"Tentu saja, aku menganggapmu gadis dewasa."
"Contohnya."
"Ketika kau membuka paha aku selalu mencoba untuk mengintip."
"Apa yang kupakai?"
"Putih bergambar kelinci."
"Tepat sekali."
Nisa menyikut Latifa.
"Sepertinya kau dapat saingan sulit loh nyan."
"Ini tidak bisa dibiarkan, aku juga harus berjuang."
Ketika selesai menyantap sup kepiting untuk makan malam, Ardhi hanya mendesah pelan melihat tingkah laku Latifa yang memamerkan dirinya.
"Boleh aku tidur sekarang."
__ADS_1
"Tidak boleh."
Dia jelas terlibat dengan sesuatu yang disebut Harem dan Fanservice di dalamnya.