Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 59 : Persiapan Toko


__ADS_3

Sosok Asenola membuka matanya dan terkejut saat dia mengetahui banyak orang telah menatapnya, ia buru-buru menutupi dirinya dengan selimut untuk meredakan ketakutannya.


"Siapa kalian?"


Semua orang memperkenalkan dirinya termasuk Eve dan Latifa meski begitu dia tidak mengenali keduanya.


"Aku Latifa, tuan putri tidak mungkin benar-benar melupakan aku bukan?"


"Maaf, aku tidak mengenalmu."


Eve memberikan dua kemungkinan yang menimpa Asenola, pertama kepalanya mungkin terbentur sesuatu yang keras hingga tak bisa mengingat apapun atau ada sebuah sihir yang menghapus ingatannya.


Latifa menggelengkan kepalanya untuk kemungkinan ke dua.


"Jika ada sihir seperti itu, maka aku bisa memulihkannya dengan baik, ia mungkin telah dipukul hingga kehilangan ingatannya."


Yang manapun yang terjadi fakta putri kehilangan ingatannya sudah cukup membuat mereka mati langkah, jika mereka ingin merebut kembali kerajaan. Asenola jelas harus memiliki ingatannya dulu agar tidak ada orang yang menuduhnya sebagai penipu.


"Ini akan sulit nyan."


"Kita tidak perlu buru-buru, keselamatan putri adalah yang utama."


Latifa mengangkat tangannya.


"Selagi ia belum mendapatkan ingatannya, bolehkah aku merawatnya."


Semua orang setujui untuk memberikan tanggung jawab itu padanya, sampai masalah ini selesai kegiatan petualang akan dihentikan sementara waktu. Paling tidak Asenola akan aman di rumah yang terlihat seperti mansion ini.

__ADS_1


Di hari berikutnya sebelum Ardhi berangkat bersama Carmen meninggalkan mansion, dia sempat melihat bagaimana Latifa sedang menyuapi Asenola apel di perkarangan rumah, mereka berdua begitu dekat. Jika tidak salah mereka sudah tumbuh bersama di istana jadi hubungan mereka jelas akan terlihat seperti saudara.


"Tuan?"


"Bukan apa-apa, mari pergi."


"Baik."


Mereka berdua mengunjungi agen properti untuk melihat apa mereka punya bangunan untuk disewa ataupun dijual. Setelah menjelaskan apa yang mereka inginkan agen properti yang merupakan pria tua berseragam menunjuk lokasi yang tepat di mana toko itu berada di jalanan utama.


"Baru saja pemiliknya berniat menjualnya, Anda sangat beruntung."


Dengan kata lain Ardhi yang pertama melihat bangunan ini.


"Apa terjadi sesuatu, bukannya tempat ini sangat strategis?" tanya Carmen.


"Hmm... sayang sekali, kurasa bisnisnya sangat maju," balas Carmen namun dia juga terlihat senang jika toko ini diambil oleh tuannya.


Sekilas orang akan mengetahuinya, bagaimanapun toko ini memiliki dua lantai yang sangat luas, setelah melihat-lihatnya ia yakin bahwa 100 pelayan yang ia minta pada Doris akan bisa ditempatkan di tempat ini.


Tanpa menunggu lama Ardhi menyepakati penjualan dan di hari yang sama dia mendapatkan berkas yang dibutuhkan sebagai pemilik sah.


Uangnya sendiri merupakan uang patungan dari semua orang karena itu keuntungan akan dibagi sesuai jumlah modal yang diberikan, ini semacam saham.


Beberapa hari ke depan semua orang melakukan bersih-bersih hingga selesai dengan cepat.


"Ruangan atas akan digunakan untuk menyimpan stok dan juga tinggal para karyawan yang tidak bisa masuk semuanya ke mansion, sementara bagian bawah akan dijadikan sebagai tempat penjualan, untuk orang yang bertanggung jawab aku serahkan pada Carmen."

__ADS_1


Carmen meletakan tangannya di dada selagi tersenyum puas.


"Serahkan padaku tuan, aku tidak akan mengecewakan Anda."


Hanya berselang dua hari Doris telah mengirimkan para budak yang dibeli Ardhi sebelumnya ke toko miliknya, di sana ketiga pelayan mulai menjelaskan soal pekerjaan termasuk hal-hal yang mereka lakukan ke depannya.


"Bagaimana tuan muda, apa Anda puas? Sekitar 20 orang demi-human, 20 orang wanita tua, 10 pria dewasa dan sisanya merupakan gadis muda tak terkecuali yang sakit maupun sehat... aku memberikan bonus satu elf di sana."


Elf itu begitu cantik dengan rambut hitam panjang serta mata berwarna serupa, tubuh putihnya ditutup gaun terusan sederhana yang cocok baginya.


Elf benar-benar sangat cantik, apa yang dipikirkan Ardhi.


"Kau yakin?"


"Tidak masalah, dia masih perawan Anda akan senang saat menyentuhnya untuk pertama kali."


Ardhi pikir dia tidak akan melakukan sejauh itu, ngomong-ngomong namanya adalah Nemesis, karena ia memiliki rambut hitam yang jarang dimiliki elf lainnya makan ia diusir dari desanya dan berakhir seperti itu.


"Yah, ini bayaranmu."


"Haha jumlah yang mengagumkan, senang berbisnis dengan Anda.. para kenalan saya sangat tertarik dengan Anda, tentu saja saya menolak memperkenalkan Anda.. tuan muda seperti tambang emas bagi saya."


"Kau tidak menyembunyikan perasaanmu itu."


"Saya suka untuk mengatakan semuanya dengan jujur... kalau begitu, permisi."


Semakin lama, dia bertingkah semakin sopan yang membuat Ardhi berfikir apa dia salah makan sesuatu atau apa? Yang membuatnya jadi kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2