
"Kenapa kalian semua diam, bukannya sebuah kehormatan bisa bertemu dengan raja iblis."
Tidak ada hal yang menganggap hal seperti itu, kaki mereka terlalu takut untuk melangkah, sosok di depannya belum benar-benar bangkit meski begitu ketakutan yang diberikan olehnya benar-benar mengerikan.
Bergerak diriku.
Ardhi terus meneriakkan hal itu dalam pikirannya, tepat saat Agarta muncul di depannya dia berhasil menebas, sayangnya tebasan itu dilewati begitu saja.
"Sayang sekali, serangan seperti itu tidak mungkin melukaiku."
Sebelum Ardhi diserang Nisa lebih dulu bergerak hingga Agarta melompat mundur, tepat kakinya mendarat perisai menghantamnya dari samping membuatnya menembus dinding.
"Bodoh, memangnya kami akan membiarkanmu menyakiti Ardhi nyan, kami tidak selemah itu."
Agarta mengalihkan pandangan ke arah Latifa yang memiliki tubuh bercahaya, ia baru saja menggunakan kekuatan sucinya untuk menghilangkan efek intimindasi.
"Seorang Arch Priest kah, tidak heran kau bisa melenyapkan pengaruhku."
"Ardhi kau baik-baik saja?" tanya Latifa memeriksa.
"Aku tak apa, aku barusan lengah."
"Entah dia raja iblis atau bukan kita hanya harus mengalahkannya, berjuanglah."
__ADS_1
Ardhi mengangguk mengiyakan, dua pedang di tangannya dan empat pedang lain melayang di sekitarnya.
Agarta mengarahkan tangannya ke samping dan dalam sekejap sebuah rumah terangkat ke udara, dia tak menahan dirinya hingga melemparkan bangunan raksasa itu pada mereka.
"Apa-apaan itu, bagaimana kita menahan serangan seperti itu nyan."
Ardhi mengayunkan pedangnya dan itu membelahnya menjadi dua bagian.
"Hoh, kalian benar-benar kuat, bagaimana kalau yang ini."
Rumah-rumah yang lain mulai berterbangan dan seperti sebelumnya itu mengarah pada mereka yang mana tidak ada jalan lagi untuk menghindarinya kecuali berlari hingga ledakan menggema dari segala arah.
"Kita perlu mendekatinya."
"Latifa apa kau memiliki sesuatu?"
"Tidak, sihirku hanya berada di penyembuhan dan penguatan aku benar-benar tidak memiliki kekuatan yang bisa melukai raja iblis."
Mery pun mengangguk sebagai pertanda bahwa dirinya juga tidak akan terlalu berpengaruh. Tepat saat mereka berlari menjauh tiba-tiba saja pijakan mereka terangkat ke udara.
Hanya menunggu waktu sampai mereka menyadari bahwa kini sebuah pulau raksasa telah melayang di atas langit.
"Sekarang kalian tidak bisa melarikan diri, mari saling membunuh satu sama lain."
__ADS_1
Yumi yang melihat perubahan itu mengirimkan naganya yang mana menerkam sosok Agarta dari samping lalu membawanya ke atas.
Tak perlu waktu lama untuk naga itu hancur sebelum Agarta kembali menginjakan kakinya di pulau melayang.
Dia melirik ke arah Yumi di bawahnya.
"Benar-benar mengganggu."
Sebuah petir jatuh dari langit menghantam Yumi sekaligus meledakan areanya menjadi sebuah ledakan api, sosok Yumi lenyap dan dia muncul di belakang Agarta.
"Apa-apaan barusan, apa kau berniat membunuhku."
"Jadi begitu, kau."
Yumi menusukan pensilnya menembus leher Agarta. Tidak ada darah ataupun rasa sakit yang ditunjukannya sebaliknya dia mencengkeram kepala Yumi lalu meremasnya hingga hancur berserakan.
Tentu saja itu bukan tubuh aslinya melainkan hanya gambar yang dibuatnya.
"Dia sempat menggambar dirinya di dekatku, paling tidak sekarang dia tidak mengganggu lagi."
Kelompok Ardhi hanya mengerutkan keningnya dengan apa yang terjadi barusan bahkan bagi Agarta, Yumi bukan apa-apa kedudukannya hanyalah seperti seekor serangga untuknya.
"Kenapa kalian tidak maju, baiklah... kalau begitu biar aku yang memulainya."
__ADS_1