
Mereka menyelesaikan quest itu pada pertengahan siang hari, walau melelahkan beberapa hari berikutnya mereka telah menyelesaikan 9 quest dari kesepuluh quest yang harus mereka selesaikan.
Cathy berkata ke arah mereka yang baru datang setelah menyelesaikan quest terakhir dengan babak belur.
"Bukannya kalian terlalu memaksakan diri?"
"Fufu kami suka memaksakan diri, Itulah moto kami," Latifa mengatakannya dengan mulut berbusa.
"Uwaah, apa kau baik-baik saja?"
"Aku tak apa."
Sementara itu, Nisa tampak pingsan hingga harus dibawa Mery di tangannya, untuk Ardhi juga tampak kurang tidur.
Cathy melanjutkan.
"Kalian sudah menyelesaikan jumlah quest yang ditentukan untuk ujian, dalam tiga hari berikutnya kalian bisa ikut berpartisipasi."
"Syukurlah."
"Padahal kalian bisa melakukan ujian lain, enam bulan berikutnya."
__ADS_1
"Kami ingin segera naik peringkat, kalau begitu kami akan pulang sekarang."
"Ah iya."
Ardhi berhenti sesaat untuk bertanya suatu hal yang sejak lama mengganggunya.
"Aku tidak melihat kelompok Yumi?"
"Mereka baru saja dari sini dan kemudian kembali mengambil quest.. sepertinya mereka juga ingin mengambil ujian berikutnya."
"Begitu."
Mereka segera meninggalkan guild dan beristirahat seharian penuh. Ardhi lebih dulu memakai kamar mandinya dan saat air hangat menenggelamkan tubuhnya dia mendesah pelan seolah beban yang menimpanya telah lepas darinya.
Dia menatap langit-langit kamar mandi selagi memikirkannya.
"Bahkan sekarang, aku tidak menemukan petunjuk siapa yang telah mengirimkanku kemari... jika itu dewi sungguh mustahil bahwa aku ditinggalkan begitu saja tanpa petunjuk, biasanya dewi pasti akan memberikan sebuah misi yang paling tidak aku tidak boleh lupakan, tapi ia tidak bisa mengingat apapun, apa mungkin sebenarnya tidak ada kejadian apapun sebelum aku dikirim ke dunia ini? Namun aku selalu merasa melupakan sesuatu, apa sebenarnya aku bukan berasal dari dunia lain melainkan dari dunia ini, sayangnya tiba-tiba saja pengetahuan dunia lain masuk ke dalam pikiranku."
Seberapa keras Ardhi memikirkannya dia tidak pernah dapat jawaban satu pun di dalam kepalanya. Tak lama tiba-tiba saja sesuatu berbunyi di dalam keranjang di mana dia menumpuk pakaiannya.
"Kalau tidak salah..."
__ADS_1
Ia selalu membawa ponselnya sejak lama.
Ardhi keluar dari bak mandi dan melihat bahwa sebuah alarm telah berbunyi untuknya. Di sana ada tulisan tertentu dan sepertinya dia sendiri yang telah menulisnya.
Untuk diriku di masa depan, kau pasti kebingungan bukan, kenapa ada di tempat ini.. namun sejujurnya aku telah menemukan cara bagaimana kau akan mengetahui apa yang terjadi...
Perkataannya berhenti di sana, dan sepertinya alarm yang lain juga telah dipasang untuk beberapa bulan berikutnya.
Dia berusaha untuk mengeceknya namun terkunci.
"Aku tidak ingat kata sandinya."
Dibandingkan alih-alih menyebutkan siapa yang telah mengirimnya ke dunia ini, jelas Ardhi di masa lalu lebih memilih memberikan jeda agar dia tahu sedikit demi sedikit.
Apa ini disengaja agar Ardhi tidak terlalu berusaha mengetahui kebenarannya dengan cepat?
Atau mungkin ada hal yang harus diketahuinya sebelum tahu siapa yang mengirimnya?
Apapun itu dia memilih untuk mempercayakan semuanya pada dirinya di masa lalu, paling tidak dia tidak akan terus menerus tidak tahu akan apa yang menimpanya.
Ia menghela nafas panjang saat melihat baterainya mencapai 10 persen.
__ADS_1
Sebelum itu, dia harus tahu bagaimana cara untuk mengisi daya baterai pada ponselnya atau semua petunjuk yang berada di dalam ponselnya akan hilang selamanya.