
Enam pedang Ardhi terbang di udara kemudian masing-masing dari mereka menembus setiap bandit yang bertugas sebagai penjaga, sebelum mereka menyadarinya kematian lebih dulu datang untuk mereka.
Setelah menumbangkan mereka, Latifa, Nisa dan juga Mery menumpuk banyak rumput di mulut gua, kemudian menyalakannya dengan api dari sihir Nisa sehingga asap yang dihasilkan telah masuk ke dalam gua itu sendiri.
"Kurasa itu sudah cukup."
Nisa menggunakan sihir air untuk memadamkannya kemudian dia mengikuti yang lainnya di belakang. Walau tidak membuat asap yang begitu tebal, asap yang dibuat mereka sudah cukup untuk membuat siapapun yang menghirupnya lumpuh.
Ardhi memimpin jalan dan mereka terus berjalan hingga menemukan ruangan yang cukup luas, banyak dari mereka tidak bisa bergerak dan secara sengaja Nisa menendang salah satunya.
"Rasakan ini."
Bandit itu hanya mengerang kesakitan.
"Bandit biasanya punya banyak harta yang kalian simpan bukan, aku akan mengambil semuanya haha."
"Mencuri uang dari bandit tidak baik, mari uangnya kirim ke gereja," atas pernyataan Latifa membuat ketiganya memiringkan kepala.
"Ini pertama kalinya kau mengatakan hal baik nyan."
"Apa maksudmu? Aku ini selalu mengatakan hal baik-baik."
Mery diam memikirkannya, dia mengingat kelakuan Latifa, seperti tidur di sofa sembarangan selagi mengumpat beberapa orang, minum-minum hingga dia berbicara ngelantur dan terkadang mengajak Ardhi untuk melakukan hal-hal tidak senonoh.
Mery menepuk kedua tangannya.
"Apa yang kau pikirkan?" teriak Latifa.
__ADS_1
Bagaimanpun harta ada di ruangan yang tertutup di sebelah kiri dan sebelah kanan jelas adalah penjaranya.
Ardhi memeriksa bagian penjara sementara sisanya gudang harta, Nisa dengan sengaja meminjam tas penyimpanan dari Eve dan ia jelas sudah merencanakan semuanya dari awal.
Job pencuri memang pantas disandangnya.
Ardhi tak ingin pikir panjang dengan apa yang mereka ingin lakukan dengan uangnya paling tidak dia menemukan sosok penyihir Purin yang meringkuk di lantai dari sebuah penjara kokoh.
"Kau baik-baik saja?"
"Owh, syukurlah.... aku pikir aku tidak bisa keluar dari sini, tolong aku ueeeeh."
Dia menangis dengan ingus keluar dari hidungnya, siapapun yang melihatnya akan membuat mereka kecewa bagaimana kecantikan darinya berkurang drastis.
"Tolong mundur sebentar."
"Baik."
"Takut, aku takut, takut, ah maaf."
Benar-benar orang yang tidak sopan.
Ardhi tampak jijik saat pakaiannya dipenuhi ingus tapi dia memilih untuk mengabaikannya, ternyata idol tidak ada manis-manisnya.
Tak ingin berlarut dalam pikiran buruk, keduanya keluar menuju ruangan sebelumnya, sampai akhirnya sebuah getaran dirasakan keduanya.
"Apa kalian melakukan sesuatu?" tanya Ardhi.
__ADS_1
"Tidak, kami hanya menguras gudang harta nyan."
Hanya satu jawaban logis untuk menyimpulkan apa yang sedang terjadi sekarang, salah satunya adalah.
"Lari," teriak Ardhi.
Ardhi menggendong penyihir Purin dengan pangkuan putri sebelum berlari bersama yang lainnya di belakang, bertepatan dengan itu dari dinding gua menyeruak kepala ular raksasa tanpa daging dan kulit kecuali tulang berulang.
Dia membuka mulutnya dan menghasilkan suara teriakan seperti sebuah lagu kematian.
"Dewi Cahaya Herina lindungi kami, Protection."
Sebuah cahaya telah melindungi mereka.
Ini adalah sihir suci milik Latifa yang melindungi siapapun dari efek status abnormal.
Ardhi memeriksa ke belakang dan jelas sepertinya ular yang disebut Serpent itu tidak mengejar mereka melainkan membantai siapapun yang berada di sana.
"Apa-apaan itu?" katanya heran.
Ular itu mencabik setiap daging mereka untuk secara sengaja melumuri tulangnya dengan darah, apa yang ditampilkan di sana hanya kebrutalan mengerikan.
"Jangan melihat ke belakang, terus lari."
"Baik."
Mereka berhasil keluar gua dengan selamat, hari memang sudah gelap meski begitu mereka memutuskan untuk terus bergerak dengan bantuan sihir cahaya milik Latifa.
__ADS_1