
Mereka sampai pada malam harinya, sebelumnya mereka tidak datang ke guild malam hari dengan kata lain ini adalah pertama kalinya mereka melakukannya.
Alih-alih sepi tempat ini jauh lebih ramai dibandingkan pada siang hari, dan seutuhnya benar-benar berubah menjadi sebuah bar.
Ardhi mengitari seisi ruangan dengan pandangannya dan melihat bahwa kelompok Yumi tak berada di sini, mereka mungkin sedang mengambil misi.
Cathy dengan senang membawa minuman ke meja-meja berisi kumpulan pria, dia primadona di tempat ini dan semua orang selalu menaruh hormat padanya.
Setelah melaporkan hasil quest mereka mengambil tempat duduk di pojokan dan mulai memesan. Hampir seluruh makanan di sini adalah hal asing bagi Ardhi namun bagi manusia mereka bisa beradaptasi dengan cepat khususnya soal makanan.
"Daging katak goreng, sup kaki kadal, sate tikus dan juga roti isi belalang."
Atau mungkin tidak.
Ardhi bisa merasakan perutnya sedikit mual, dia terbiasa makan di restoran Sanguan dan jelas menu seperti ini tidak dihidangkan di sini juga.
Ardhi memberikan hak paten makanan ke pada restoran tersebut dan setiap bulannya ia mendapatkan kompensasi uang dari hasil penjualan makanan di sana, walau ia sempat menolaknya kedua pasutri itu jelas tidak ingin mengambil pengetahuan yang luas itu secara gratis.
Mereka orang-orang baik.
Makanan telah dihidangkan di atas meja, Latifa menyatukan tangannya untuk berdoa.
"Dewi Cahaya Herina berkahilah makanan kami."
Dan mereka menyantapnya setelahnya.
__ADS_1
"Ini enak," ucap Nisa, sejauh ini dia tidak pernah bilang bahwa makanan tidak enak. Apapun akan terasa seperti itu baginya.
Mery sepertinya sama seperti Ardhi, setelah menimbang-nimbang dia juga memakannya.
Karena lapar hal bagaimana makanan terbuat dari apa, sudah tidak dipermasalahkan lagi.
"Biar aku suapi Ardhi."
Latifa berniat melakukannya dan Ardhi dengan sopan menolaknya.
"Biar aku sendiri yang melakukannya."
"Latifa sangat berani nyan."
"Bagaimana dengan kami?"
"Aku akan membuat rumah kecil di depan rumah kami dan nanti kalian bisa tinggal di dalamnya."
Bukannya itu?
Nisa menyeringai.
"Kau berani mengatakan itu nyan."
"Aku tidak berniat memberikan Ardhi ke wanita lain. Aku akan memonopolinya sendirian."
__ADS_1
"Mery katakan sesuatu nyan?"
"Aku akan jadi selingkuhannya."
"Kalian semua."
Ardhi memilih mengabaikannya lalu menghabiskan makanannya, entah kenapa tiba-tiba saja dia mulai terbiasa dengan makanan seperti ini.
Keesokan paginya mereka habiskan untuk bersantai di rumah sebelum akhirnya mengambil Quest berikutnya yang tidak terlalu menyusahkan esok harinya, biasanya Ardhi tidak terlalu pilih-pilih soal quest namun sekarang dia harus berfikir dua kali, rekannya seorang gadis maka dari itu dia tidak ingin melibatkan dalam pekerjaan kasar. Setelah menaikan lengan baju dan kakinya, ia mulai turun ke dasar sungai.
Hari ini misi yang mereka ambil adalah mengumpulkan tanaman obat yang tumbuh di bawah sungai, mereka setinggi toge dan berbentuk seperti semak-semak. Jika disebut tanaman mungkin lebih baik menyebutnya lumut.
"Latifa, Mery, di mana Nisa?"
"Bukannya ada di sebelahku."
"Whoaaa, tolong aku... aku terseret arus."
"Nisa?"
Kami buru-buru menyelamatkannya, arus di sini memang cukup deras, dia terpeleset dan malah terbawa arus.
"Pakaianku basah kuyup, aku benci air sungai," kata Nisa duduk di pinggir.
Dari awal kucing seharusnya menjauhi air bukan? pikir Ardhi dalam hati.
__ADS_1