
Ardhi membuat suara dengan jarinya dan beberapa burung elang berwarna coklat, hitam dan putih bermunculan di udara, seolah mengetahui isyarat yang ditunjukkannya semuanya segera menyebar bersamaan para monster yang bermunculan.
Mereka menggunakan pola cukup menarik di mana, di bagian depan diisi oleh para goblin yang menunggangi serigala, di belakangnya ada Orc bertubuh besar lengkap dengan armor dan gada mereka, dan paling belakang lagi kumpulan raksasa yang disebut trol dan Golem.
Trol memiliki tubuh seperti Orc bedanya mereka tidak berwarna hijau melainkan berwarna putih dan taring mereka jauh lebih besar menjorok ke luar, tingginya sekitar 4 meter lebih pendek 2 meter dari Golem di belakangnya.
Mereka teroganisir dan juga paham dengan apa yang mereka lakukan, sudah tidak ada keraguan bahwa seorang memang mengendalikannya.
Ardhi memulai instruksinya.
"Mari lakukan."
Para penyihir membentuk barisan sejajar dengan tongkat mereka yang diarahkan ke depan, menggunakan sedikit mantera mereka menghujani para musuh di depan dengan bola-bola beraneka ragam yang terbuat dari sihir angin, api, air dan sebagainya.
Di saat itu Latifa juga menggunakan sihir pendukung untuk semua orang di sini.
"Dewi Cahaya Herina lindungi kami, Blessing."
Ia meningkatkan tingkat keberuntungan semua orang untuk membuat nasib buruk, jika dipikirkan baik-baik itu adalah hal pertama yang akan benar-benar membantu dalam pertarungan awal.
__ADS_1
Ardhi menarik dua pedang dan menyisakan pedang sisanya tersarung. Setiap penyihir yang kelelahan akan langsung segera dipulihkan dengan mantera Latifa hingga selama 5 menit berturut-turut mereka mampu menembak sihir tanpa jeda.
"Aku sudah mencapai batas Ardhi."
"Itu sudah cukup, Latifa dan semua penyihir bisa masuk ke kota untuk beristirahat, dan sekarang kita yang akan maju."
Mengikuti instruksi Ardhi mereka bergerak demikian. Mery bergerak di depan untuk memblokir serangan seekor Trol, di saat yang sama Nisa menyelinap dan menusuk tepat di lehernya.
Ardhi pun menyerang di sekitar keduanya.
"Pastikan untuk bertarung berkelompok, meski mereka melewatimu tak masalah, kota akan terlindungi."
"Baik."
Singkatnya mereka tertahan oleh pelindungnya, seberapa keras mereka berusaha masuk mereka hanya mengalami kegagalan hingga sebagian petualang di garis depan menghabisi mereka dari belakang.
Ada alasan lain kenapa petualang ini lebih bersemangat dari sebelumnya, tak hanya mereka bisa bertarung bebas, mereka juga akan dapat bayaran cukup tinggi.
Ardhi juga mengharapkan hal itu, dia sudah menabung beberapa waktu lalu, dan berharap bisa memiliki rumah ke depannya.
__ADS_1
Seekor orc baru saja mengirimkan gada padanya, itu jelas sulit ditahan baginya namun Mery telah muncul di hadapannya dan menerimanya dengan perisainya, hingga dentuman menyebar ke setiap telinga yang berada di sekitarnya.
"Barusan benar-benar keras sekali."
Ardhi mengirimkan pedangnya terbang dan itu menembus kepala orc termasuk golem di belakangnya.
"Aku tertolong Mery."
"Bukan masalah."
Nisa dengan cekatan melewati beberapa goblin yang meninggalkan jejak darah di tubuh mereka, sampai seekor Trol mengirimkan tinjunya dan ia melompat untuk berlari di bahunya.
"Kau sangat keras kepala nyan~ kalau itu dulu aku pasti tidak akan bisa menghindarinya, tapi sekarang berbeda."
Dia menusuk lehernya dan jatuh bersama makhluk besar itu. Setelah lima menit berlalu Latifa memberikan kode lewat tangannya.
"Semuanya mundur!" teriak Ardhi.
"Baik."
__ADS_1
Mereka bergerak ke belakang, selanjutnya digantikan oleh serangan para penyihir, berbeda dari sebelumnya kini Latifa fokus untuk memberikan penyembuhan pada orang-orang di garis depan.
Bagi yang mengalami luka parah mereka akan masuk ke dalam kota dan sisanya kembali bergerak, mereka melakukannya secara terus menerus hingga pada akhirnya setiap monster mampu dikalahkan.