
Saat cahaya matahari menyelinap di antara celah-celah pepohonan, seekor monster menyerupai beruang telah menerjang ke depan dengan kaki depan yang dinaikan ke atas.
Mery menahan serangan tersebut melalui perisainya hingga dentuman keras terdengar.
Nisa yang menyelinap dengan cepat mengambil kalung di lehernya dan selanjutnya Latifa menggunakan sihir 'Flash' untuk membuat beruang tersebut mundur beberapa langkah ke belakang.
Flash adalah sihir dimana untuk menembakan percikan cahaya menyerupai sebuah cahaya kamera, itu tidak mematikan namun cukup membuat monster terkejut dan kehilangan pandangannya sesaat.
Ketika beruang itu kesulitan, Mery menghempaskannya dengan tubrukan perisai hingga akhirnya dia terlempar ke batang pohon di belakangnya sebelum akhirnya memilih untuk pergi.
"Apa itu sudah cukup?" tanya Latifa.
"Aah, kerja bagus kalian," balas Ardhi yang bertarung dengan monster di sisi lain seorang diri.
Karena tidak ada niat untuk mundur, ia menebas pohon tersebut dengan enam pedang yang melayang di udara dan memotong-motongnya beberapa bagian sebelum akhirnya ke-enam pedang itu kembali ke dalam sarungnya.
Ia mengambil kalung di lehernya yang mana menunjukan 30 poin. Nisa mengintip dari belakang.
"Poin tinggi nyan, yang kami kalahkan hanya 10 poin."
"Kukira monster yang kalian lawan lebih sulit ditaklukkan."
"Mereka pasti sengaja melakukannya, semua orang pasti akan mengincar poin besar dengan mengalahkan makhluk kuat dan mengabaikan makhluk lemah, dengan cara ini semua petualang tidak akan mengabaikan monster apapun di depan mereka."
"Aku baru menyadarinya nyan, ternyata Latifa pintar juga nyan."
"Apa maksudmu dengan baru menyadarinya?" protesnya.
__ADS_1
"Aku pikir dalam kepalamu hanya dipenuhi hal cabul, benarkan Mery?"
"Benar, hanya rambut perak dan dadamu saja yang bagus."
"Kalian berdua sangat kejam... maaf karena aku selalu berfikiran cabul," katanya frustasi hingga tak lama sebuah teriakan terdengar dari segala arah, itu saling sahut menyahut hingga sulit untuk menemukan datangnya suara.
"Apa itu?"
"Lewat sini."
Nisa yang diberkahi pendengaran tajam memimpin jalan dan menemukan beberapa petualang yang tergeletak di tanah.
"Hey, kalian baik-baik saja?"
"Aku tak apa?"
"Poin mereka hilang, apa kalian diserang petualang lain nyan?"
Mereka sontak terkejut.
"Apa aku harus merapalkan sihir penyembuh untuk mereka?"
"Tidak usah, mereka tidak terkena luka vatal, lebih baik menyimpan tenagamu Latifa."
"Dimengerti."
Ardhi pikir Yumi bergerak dengan keinginannya sendiri, dia jelas jadi ancaman untuk semua orang sekarang. Hanya menunggu waktu sampai ia juga menemukan keberadaan Ardhi.
__ADS_1
Setelah kelompok petualang itu membaik, kelompok Ardhi melanjutkan penyisiran. Seperti yang dia duga tidak ada monster lain lagi.
"Yumi membantai seluruh monster agar petualang yang dijatuhkannya tidak dalam bahaya, dengan ini kita tidak akan dapat poin lagi kecuali mengalahkannya."
"Itu bagus jadi kita benar-benar harus mengalahkannya nyan."
"Tapi bagaimana dengan rekan setimnya?" tanya Latifa.
"Sudah jelas Yumi juga akan mengalahkan mereka.. dia datang."
Atas pernyataan Ardhi enam sosok harimau putih menyergap mereka dari atas, masing-masing pedang Ardhi menembus mereka hingga menghilang dalam sekejap.
Saat mereka mengalihkan pandangan jauh ke depan Yumi berdiri di sana dengan senyuman manis.
"Kini hanya kalian saja petualang yang belum kalah... dengan ini aku benar-benar menyelesaikan ujian ini dengan cepat."
Dari atas langit poin-poin mulai berjatuhan hingga berserakan di bawah.
Ardhi mengerenyitkan alisnya.
"Kau berperan jadi pemburu dan juga bos terakhir... bukannya itu berlebihan."
"Haha bukannya ujian seperti ini jauh lebih menarik, kakak akan membuatmu muncrat loh."
Ardhi benci mengakuinya tapi gadis di depannya sangatlah kuat untuk dikalahkan seorang diri, bahkan jika dihadapi berkelompok dia juga tidak yakin.
"Muncrat? Apa maksudnya?" Latifa panik sendiri.
__ADS_1
"Itu adalah istilah yang dibuat Yumi untuk menggambarkan situasi seseorang yang tak berdaya," balas Ardhi ragu.
"Benar-benar cabul."