Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 31 : Hantu Mira


__ADS_3

Dia memperkenalkan sosok Mira ke setiap orang namun tanggapan yang dia terima hanya sebuah kebingungan.


"Memang benar ada aura aneh di dekatmu, tapi aku sama sekali tak melihat apapun," kata Latifa.


Bahkan bagi Arc Priest melihat hantu terasa sulit.


"Apa ada hantu, bagaimana penampilannya nyan?" kata Nisa.


"Mungkin dia mau berteman denganku, akan menyenangkan jika aku bisa melihatnya juga," kata Mery.


Dengan kata lain hanya Ardhi yang bisa melihatnya, terlebih.


"Jangan menyentuhku Ardhi."


Tangannya benar-benar tidak menembusnya sama sekali.


"Kudengar hantu bisa menunjukkan dirinya jika mereka sudah berpengalaman, aku pikir aku harus bertanya pada hantu lainnya agar bisa melakukannya."


"Itu ide bagus tapi jangan bawa mereka ke sini."


"Dimengerti."


Begitulah untuk beberapa hari Mira memutuskan menghilang dari kediamannya, dia bukan hantu terikat jadi dia bisa pergi kemanapun yang dia inginkan.


Ardhi melanjutkan pekerjaannya kembali hingga menemukan sebuah makam di belakang rumah, tadinya itu tertutup semak-semak serta rerumputan namun sekarang sudah dibersihkan dengan baik.


Di batu nisannya tertera nama Mira, dan tahun kematiannya juga.


"Dia sudah meninggal 100 tahun yang lalu, dengan kata lain dia sudah kesepian selama itu," kata Ardhi dengan simpati sampai Latifa datang menemuinya.


"Ardhi kita akan membeli perabotan, apa kau bisa pergi bersamaku? Owh, apa itu makam Mira."

__ADS_1


"Um.. nah Latifa, apa tidak masalah kalau Mira tidak disucikan?"


"Aku pikir tidak masalah, lagipula dia bukan roh jahat."


"Begitu, aku merasa kasihan padanya... katanya dia selalu sakit-sakittan hingga meninggal dan tak pernah merasa bahagia, jadi kupikir walau dia hantu aku ingin dia merasakan hal itu."


"Seperti yang kuduga, Ardhi terlalu baik.. apa kau yakin bukan seorang kesatria?"


"Tentu saja bukan."


Latifa menatapnya dengan senyuman di wajahnya.


"Karena sifatmu inilah kami sangat mempercayaimu sebagai pemimpin kami, apapun itu kami akan mengikutimu."


"Maksudnya?"


"Sudahlah, ayo beli apapun yang kita butuhkan."


"Kita seperti sepasang kekasih yang baru menikah, hari ini aku dan Ardhi akan bersama sampai malam."


Dia hanya menghembuskan nafas panjang.


Mereka membeli tempat tidur, sofa, meja makan, peralatan lainnya serta pakaian untuk semua orang.


Tak lupa bahan makanan juga, mereka semua sangat sibuk.


Seminggu telah berlalu dan Mira akhirnya telah kembali, di depan semua orang yang duduk di sofa, dia tiba-tiba menunjukan dirinya.


"Bagaimana, apa kalian sekarang bisa melihatku?"


"Dia gadis yang imut nyan."

__ADS_1


"Itu memang benar," jawabnya selagi membusungkan dada.


"Apa kita bisa berteman?"


"Tentu saja."


"Disini kita hanya memiliki empat kamar, kita perlu menentukan siapa yang akan tidur dengannya," kata Latifa.


"Hantu bisa tidak tidur loh, tapi jika memilih aku akan tidur dengan Ardhi."


Ketiganya memberikan penolakan secara bersamaan.


"Aku saja yang tidur dengan Ardhi."


"Aku saja nyan, kami sudah sering tidur bersama di penginapan."


"Bukannya yang lebih pantas yang belum pernah."


"Hah!"


Karena urusan sederhana seperti ini bisa menjadi runyam.


Pada akhirnya Mery akan sekamar dengan Mira dengan tambahan ranjang baru di kamarnya, dengan begitu semuanya baik-baik saja.


Ardhi meletakan semua makanan yang dibuatnya di atas meja makan. Semuanya adalah hidangan yang sama yang ada di restoran yang mereka kunjungi.


"Semuanya terlihat enak."


"Makanlah yang banyak, lalu Mira?"


"Tak masalah aku sudah belajar dengan senior hantu. Aku juga bisa memakannya."

__ADS_1


Ardhi pikir senior hantu itu sangatlah luar biasa.


__ADS_2