Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 32 : Taman Bunga Di Perkarangan Rumah


__ADS_3

Setelah selesai membersihkan perkarangan serta membersihkan makam Mira, Ardhi mulai mengambil beberapa kotak untuk membuat ladang bunga. Tentu saja bukan berarti dia seorang cowok flower boy, ini adalah permintaan rekan partynya yang haus akan keindahan tanaman.


Dia hanya membantu mereka mengerjakannya, sementara mereka berniat untuk mengerjakan hal lain di rumah ini seperti perkerjaan rumah tangga.


Mempekerjakan seorang pelayan cukuplah memakan biaya banyak, meski begitu hal itu juga diperlukan nanti, jika mereka terus disibukkan dengan hal ini maka mereka akan kesulitan untuk pergi berpetualang.


Ardhi mulai mencangkul tanah saat Mira melayang di atas kepalanya. Sekarang dia mengenakan warna merah muda walau sudah diperingati untuk tidak melayang dia sepertinya sudah terbiasa melakukannya.


Yang harus dilakukan Ardhi adalah untuk tidak menatap ke atas.


"Bunga seperti apa yang akan Ardhi tanam?"


"Untuk sementara bunga lavender, lily, dan mawar."


"Whooa! Itu pasti bunga yang cantik," balasnya tersenyum riang.


"Mungkinkah Mira belum pernah melihat bunga."


"Hehe iya, soalnya aku selalu terbaring di tempat tidur dan saat berubah jadi hantu jarang hantu lain memberitahuku nama bunga yang kulihat."

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan menanam yang banyak."


"Semangat."


"Aah."


Didukung oleh gadis cantik membuat Ardhi sedikit senang, ia meningkatkan kekuatannya dua kali lipat dan setelah selesai membajak dia mulai menaburkan bibit bunga. Semua ini bisa didapatkan di toko tanaman di kota ini.


"Boleh aku membantu menyiraminya."


"Tentu."


"Kita memerlukan pelayan, sebaiknya di mana aku menemukannya?"


"Hmmm bagaimana kalau Ardhi membeli budak, tidak seperti menyewa pelayan mereka jauh lebih murah bahkan bisa dipekerjakan tanpa perlu membayar asalkan diberi makanan dan pakaian... tentu saja budak diperlakukan baik di seluruh wilayah, karena era reformasi mereka mendapatkan hak-haknya."


Sesuai yang diduga dari hantu, ia tahu sejarah, pikir Ardhi dalam hati.


Dibandingkan membiarkan orang-orang mati di jalanan, para penjual budak biasanya mengambil mereka untuk tinggal bersama, mereka diberikan pelatihan dan juga cara-cara bekerja dengan baik hingga akhirnya beberapa orang kaya akan membeli mereka. Walau terkesan masih kurang nyaman didengar, perbudakan yang mereka lakukan masihlah manusiawi mereka juga tidak mendapatkan pelecehan apapun di sana, mungkin beberapa majikan mereka melakukan itu, namun secara kedua pihak menyetujui satu sama lain tanpa paksaan.

__ADS_1


Begitulah apa yang dikatakan Mira kepada Ardhi.


"Benar-benar dunia yang bebas," katanya pelan.


Di dunianya perbudakan adalah sesuatu yang ilegal itu sudah sepantasnya mendapatkan hukuman berat tapi di sini malah sebaliknya.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya Ardhi berkumpul dengan yang lainnya untuk membicarakan soal pelayan dan baru keesokan paginya dia akhirnya pergi ke penjual budak ditemani Mira yang melayang di dekatnya.


Ardhi pikir dia akan membeli tiga orang saja karena rumahnya sempit dan mau tidak mau dia juga harus memperbesarnya.


Ketika dia sampai seorang gadis berusia pertengahan 30an menyambutnya dia memiliki telinga runcing jadi di elf dan umurnya juga tidak bisa dipastikan, ia memiliki rambut hitam dengan pakaian pelayan yang menutupi tubuh putihnya. Aura yang dikeluarkan olehnya benar-benar sangat dewasa hingga Ardhi sedikit menahan nafasnya.


"Dadanya besar ya."


"Jangan mengatakannya," ucap Ardhi pada Mira yang hanya bisa dilihat olehnya.


Si pelayan tampak tersenyum kemudian melanjutkan.


"Silahkan ikut saya tuan."

__ADS_1


"Ah iya."


__ADS_2