
Sekembalinya ke kota, pandai besi langganan Ardhi tampak kesal, mau bagaimana lagi pedang yang dibuatnya sering hancur begitu saja.
Dia bukan marah pada Ardhi melainkan pada dirinya yang tidak bisa membuat pedang sesungguhnya, pria berjenggot itu mendecapkan lidahnya dan mengemasi barang-barangnya dalam tas ransel.
Dia mengambil seluruh pedang Ardhi dan juga membeli goloknya.
"Tunggu, kau mau kemana?"
"Aku akan pergi beberapa hari untuk membuat pedang untukmu, tunggu aku."
"Heh."
Dia benar-benar pergi.
Ardhi hanya memiliki satu pedang sekarang.
Pria tua langganannya benar-benar sangat serius dalam bekerja. Masih ada 9 guest lagi yang harus diselesaikan, untuk sekarang dia memilih beristirahat di rumah sederhananya.
Para pelayan mengerjakan tugasnya dengan baik dan sesekali mereka bertanya hal-hal mendasar dalam pekerjaan rumah mereka.
"Jadi begitu, kami harus memaksanya seperti itu."
"Yap, aku yakin kalian bisa terbiasa nantinya."
Mereka sangat membantu dan terkadang merepotkan juga, khususnya saat mandi. Ardhi akan selalu kedatangan Carmen atau Lynn untuk menggosok punggungnya.
Bagi pemuda sehat untuknya hal seperti ini membuatnya bahagia sekaligus gelisah juga.
"Aku sering melakukan hal seperti ini dengan suamiku, jadi tuan tak perlu tegang?"
__ADS_1
"Mustahil, mustahil, aku tidak mungkin terbiasa dan lagian kenapa kalian bisa masuk padahal aku selalu mengunci pintunya."
"Kami punya kunci duplikatnya."
Ardhi menghela nafas panjang.
Pelayan di dunia ini memang sangat totalitas.
"Apa aku sebaiknya menggosok dengan dadaku?"
"Tolong jangan lakukan itu, aku mohon."
Mentalnya sudah terlalu lelah dengan semua ini.
Pagi berikutnya quest kedua adalah quest untuk menangkap seekor kucing, tidak seperti sebelumnya mereka menemukan quest yang lebih mudah atau sejujurnya itu juga masih sulit.
Jika demi-human seperti Nisa mudah melakukannya tapi jika itu kucing sesungguhnya mereka terlihat mirip satu sama lain.
"Yang ini juga bukan, kucing berwarna putih dengan tanda hati di perutnya," Latifa memperjelas kembali misinya, sementara Mery tampak duduk selagi memeluk lututnya suram.
Tidak ada kucing yang bisa dia tangkap atau sesungguhnya semua kucing ketakutan padanya.
Dia memiliki tubuh besar dan tinggi 190 cm Ardhi yakin kucing juga menganggapnya sebagai ancaman terlebih dia menakutkan saat menangkap kucing.
"Jangan lari kemari kucing imut, kucing imut haah haaah," dia mengatakannya dengan nafas berat, semua orang juga pasti takut.
Nisa yang pergi entah kemana telah kembali dengan wajah berseri-seri.
"Apa kau menemukannya?"
__ADS_1
"Aku bertanya pada sebagian kucing dan mereka bilang bahwa kucing yang kita cari telah diculik."
Ardhi menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Ada penculik kucing?"
"Mau bagaimana lagi, pemilik yang memberikan permintaan ini adalah orang kaya pasti mereka berniat meminta tebusan.. mencuri anaknya sulit jadi kucingnya juga oke."
"Pemikiran kriminal benar-benar cerdik," kata Latifa kagum.
Seharusnya dia tidak boleh kagum dengan hal seperti itu.
Nisa duduk berjongkok dengan beberapa kucing di depannya.
Yang Ardhi dengar dia hanya mengatakan meong, meong dan meong, meong.
"Salah satu penjahatnya ada di dalam kota, tepatnya di pasar loak. Apa kita akan menangkapnya?"
"Tentu saja."
Dengan arahan para kucing mereka berempat berdiri di depan seorang pria penjual buah-buahan.
"Kau tidak bisa lari lagi, berikan kucingnya nyan."
Pria itu menjatuhkan bom asap kemudian berlari sekuat tenaga, lagi-lagi mereka harus mengejarnya
"Seharusnya aku buat pingsan dulu dengan perisaiku."
"Dia bisa mati kalau begitu," ucap Ardhi lemas.
__ADS_1