
Ardhi terbangun di atas ranjang dan melihat bagaimana anggota kelompoknya telah berada di sana selagi mengawasinya dengan khawatir. Latifa memeluk Ardhi erat membuatnya sedikit tertekan.
"Latifa?"
"Biarkan aku memelukmu lebih lama."
Ardhi memilih untuk membiarkannya saja sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Yumi yang balik menatap dengan tubuh penuh perban, jika diingat dia sebelumnya tersambar petir.
"Tak kusangka ada raja iblis di tempat ini, aku benar-benar sakit."
"Yumi-chan baik-baik saja koq Ardhi-chan, tubuhnya hanya tergores."
"Hah, tergores apanya... aku babak belur loh."
"Baik, baik, lebih baik kita tinggalkan Ardhi sebentar."
Yugo dan Tiffany mengangguk untuk mengikuti keduanya ke luar ruangan, meninggalkan mereka saja yang ada di dalam.
"Mereka sangat khawatir juga padamu Ardhi nyan, sampai-sampai mereka bilang tidak akan pergi sebelum benar-benar memastikan bahwa kamu sudah siuman."
Ardhi membalas pernyataan tersebut dengan senyuman kecil, dia tidak menyangka diberkahi dengan teman-teman yang baik.
Mery menarik kerah baju Latifa supaya dia bisa melepaskannya.
"Aku pikir kau sudah cukup lama."
"Aku ingin lebih lama lagi merasakan aroma Ardhi."
__ADS_1
"Kau telah masuk ke ranah mesum dibandingkan rasa khawatir."
"Bagaimana Ardhi apa ada yang sakit nyan?"
"Aku baik-baik saja."
"Untuk memastikannya biarkan aku memberikan sihir penyembuhan."
Tentu Mery menghentikan usulan Mery dengan tangannya.
"Kamu hanya mencoba untuk melakukan hal mesum dalam situasi seperti ini bukan."
"Mana mungkin aku melakukannya, lepaskan aku.. aku hanya akan memberikan ciuman suci."
"Sudah kuduga."
Setelah keadaan tenang kelompok Yumi maupun kelompok Ardhi telah dipanggil ke istana menghadap ratu dan juga putrinya.
Sang ratu mulai memberikan hadiah untuk jasa mereka, kelompok Yumi dan Ardhi mendapatkan banyak uang dan juga kehormatan, untuk Ardhi yang memiliki lebih banyak jasa dibandingkan yang lainnya diberikan tambahan.
"Untuk Ardhi aku akan memberikan hadiah tambahan sebuah wilayah dan aku juga akan mengangkatmu sebagai bangsawan Viscount."
Kegemparan muncul di antara para bangsawan yang turut berada di aula singgasana, tidak hanya diberikan wilayah namun diberikan gelar yang cukup tinggi merupakan suatu yang sulit dibayangkan semua orang. Namun, Ardhi menggelengkan kepalanya.
"Saya senang dengan kemurahan hati yang mulia ratu, tapi saya akan menolaknya.. masih banyak yang harus saya lakukan ke depannya dan hal itu hanya bisa dilakukan jika saya tetap sebagai petualang bebas."
"Itu mengejutkan, bukannya menjadi petualang adalah untuk mendapatkan uang lebih banyak."
__ADS_1
Kebanyakan petualang memang memiliki tujuan seperti itu, tapi Ardhi lebih dari hanya sekedar mengumpulkan uang.
"Mungkinkah kamu lebih suka menikahi putriku?" tanya ratu.
Latifa jelas sekarang menunjuk ketidak nyamanan.
"Bukan, hadiah sebelumnya sudah cukup untuk saya."
Sepertinya ratu tidak akan melepaskan Ardhi karena itu dia memilih untuk mengubah hadiahnya dibandingkan menolaknya.
"Kalau boleh diganti saya saat ini membutuhkan batu Ore, bisakah saya mendapatkannya."
"Aku tidak keberatan, aku tidak tahu untuk apa batu Ore tersebut tapi kurasa kami bisa segera mengirimkannya ke kediamanmu."
"Itu sangat membantu."
Beberapa hari kemudian di kediaman Ardhi semua orang terkejut kembali, bukan karena kedatangan kiriman batu Ore, melainkan soal Ardhi yang menolak pemberian gelar bangsawan padanya.
"Ya ampun, kau benar-benar menolaknya... padahal semua itu keinginan setiap orang di negeri ini," yang berkata itu adalah Eve, kemudian disusul keempat pelayan Ardhi.
"Apapun pilihan tuan kami selalu mendukung."
"Terima kasih kalian semua, paling tidak kita memiliki uang yang banyak.. mari buat sebuah perayaan."
"Yey."
Mereka semua bergembira.
__ADS_1