
Di luar hutan yang rimbun Ardhi telah mengumpulkan burung elang serta merpati miliknya.
Ketika dia bersiul dengan kedua jarinya, para burung mulai terbang ke langit kemudian berpencar ke setiap arah.
Latifa, Nisa dan Mery hanya bisa terkesan dengan semua itu, seharusnya hanya orang-orang yang memiliki kemampuan penjinak saja yang mampu melakukannya tapi Ardhi tanpa kekuatan malah bisa melakukannya.
"Bahkan para Tamer, tidak bisa mengendalikan hewan sebanyak itu.. mungkinkah yang Ardhi maksud dirinya lemah perbandingannya dengan dewa nyan."
"Aku juga sempat berfikir itu."
"Sudah kubilang aku tidak sekuat itu, menggerakkan hewan pasti mudah dipelajari oleh banyak orang."
"Sifat merendahkannya menakutkan," gumam Mery.
Setelah menunggu satu elang putih telah kembali yang lalu menunjukkan jalan untuk sampai ke markas Skull Darkness, mereka dikatakan selalu berada di hutan namun kenyataannya mereka berada di luar hutan, yang lebih mengejutkan mereka malah membuat markas di perbatasan Arguina.
"Ini buruk, syukurlah bahwa Serpent masih belum muncul di wilayah ini nyan."
Serpent adalah salah satu makhluk bencana, walau tidak sekuat Great Titan tetap saja dia makhluk yang tidak bisa diremehkan.
"Kita harus segera mengeluarkannya dari sana."
Sementara itu di dalam penjara yang berada di dalam gua, penyihir Purin tampak meronta-ronta dengan rantai mengikat kedua tangannya, untuk kakinya dibebaskan begitu saja.
Dia menggendor-gedor jeruji saat seorang pria gemuk besar muncul di depannya bersama pria pengawalnya berkacamata.
__ADS_1
"Tuan Lufidol, bukannya berbahaya untuk menculik penyihir Purin?"
"Kau hanya tidak tahu Vares, penyihir Purin itu sebenarnya bukan manusia dia adalah seorang demi-human."
"Hah, apa tuan yakin?"
"Sangat yakin, terlebih dia adalah seorang yang berpengaruh di kerajaan Arvensia."
"Hmm... itu kerajaan demi human."
"Ah, semenjak tiga kerajaan besar bermusuhan demi-human dari kerajaan itu, tidak bisa masuk ke dua kerajaan lainnya, begitu juga sebaliknya tapi sepertinya ada yang mencoba menyamar di sini bukannya begitu putri."
Tatapan keduanya di arahkan pada Purin.
"Haha mudah saja, kami para bandit memiliki jaringan informasi melebihi para pedagang... coba bayangkan jika kita menjual dia pada kerajaan Prista, pasti akan menjadi keuntungan ras elf untuk memenangkan pertempuran."
"Kau tidak memilih menjualku pada kerajaan Lyndon."
"Aku tidak suka dengan ratu itu... dia terus mencoba untuk membuat perdamaian, akan jauh lebih baik jika masing-masing kerajaan saling berperang dan menghancurkan, dan saat Itulah kami akan bergerak untuk menguasai semuanya."
"Apa kau ini benar-benar seorang bandit?" tanya Purin dengan mata terbelalak.
"Aku memang bandit tapi dari kelas tinggi, sampai pengirimanmu siap, bersantailah di jeruji ini."
"Sialan, tolong lepaskan aku."
__ADS_1
"Percuma di wilayah ini tidak ada yang akan menyelamatkanmu."
"Bukannya di sini ada petualang Yumi."
Lufidol menghentikan langkahnya lalu berbalik dengan seringai.
"Aku memberikan mereka misi yang jauh dari tempat ini, saat mereka selesai kami sudah tidak ada di sini."
"Jadi begitu, kau sudah merencanakan semuanya."
"Begitulah, karena itulah aku memilih menculikmu saat berkunjung ke kota Georginia daripada di kota lainnya, kota untuk petualang lemah."
Hanya terdengar langkah kaki saat keheningan kembali muncul.
Purin memerosotkan dirinya berlutut di lantai dingin.
"Kalau saja aku tidak pergi dari rumah, semuanya tak akan seperti ini... sekarang bukan hanya aku, kerajaan juga dalam bahaya, seseorang? Siapa saja, selamat aku."
Saat matahari sudah berubah kejinggaan, kelompok Ardhi telah siap di markas musuh yang merupakan sebuah gua besar.
"Apa rencanannya nyan?"
"Kita akan mengalahkan mereka dari sini."
Tanda tanya muncul di atas kepala semua orang.
__ADS_1