Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 38 : Keseharian


__ADS_3

Di sudut jalanan yang dipenuhi orang-orang, tampak seorang berlari menerobosnya, dia menjatuhkan beberapa orang dan berbelok di gang-gang sempit untuk mengecoh para pengejarnya.


Ardhi meminta kelompoknya membagi dirinya menjadi dua bagian, Nisa dengan Mery sedangkan dirinya dengan Latifa.


"Mari kita pojokan orang tersebut."


"Fufu jika aku bersama Ardhi rasanya aku bisa melakukan apapun," ucap Latifa tanpa mendapatkan balasan.


Sesuai yang diharapkan, orang yang mereka kejar tidak pergi ke suatu tempat tertentu, singkatnya dia hanya berputar-putar. Hanya dua kemungkinan yaitu dia tidak ingin membawa mereka ke tempat persembunyian tertentu dan satu lagi adalah bahwa mereka hanya mengetahui distrik pasar ini.


Setelah memasuki gang pria itu terkejut saat mengetahui bahwa Nisa dan Mery telah berada di depannya, saat dia berbalik Ardhi dan Latifa telah menutup jalan keluar.


"Apa-apaan kalian ini?" teriaknya frustasi.


"Maaf saja nyan, kau tidak bisa pergi dari kota ini... Ardhi itu memiliki pengamatan yang hebat, bahkan seluruh kota adalah wahana bermainnya."


Entah kenapa Ardhi tidak menyukai pujian itu tapi itulah yang terjadi, jika seseorang menyadarinya jumlah elang liar di kota ini terlalu banyak dan semua itu bisa dibilang peliharaan Ardhi, awalnya dia hanya menemukan satu elang yang terluka di hutan dan saat dia memutuskan merawatnya elang lain mulai berdatangan.


Bukan karena ia memiliki skill semacam Tamer atau sebagainya, elang- elang tersebut dengan suka rela menjadi bawahannya.


Nisa menjatuhkan pria itu ke bawah kemudian duduk di atasnya.


"Sebaiknya kau beritahu markasmu dan kucingnya, kalau tidak berharaplah bahwa pisau ini tidak akan menembus perutmu."


Dia mengatakannya selagi menjilat ujung senjatanya. Hal yang kebanyakan dilakukan orang jahat di dalam manga.

__ADS_1


"Aaaah, aku tahu, aku akan memberitahu kalian."


Satu ancaman bisa menyelesaikan permasalahan mereka.


Mereka menjatuhkan para penculik lainnya yang bersembunyi di area kumuh, dan dengan mudah mereka mengalahkan mereka lalu mengikat mereka bersama-sama dan menyerahkan kucing pada pemiliknya sesungguhnya.


Uang yang mereka dapatkan sesuai dengan jerih payah yang mereka lakukan.


Pagi hari yang damai setelah sarapan, Ardhi dan Lila tengah menanam beberapa sayuran untuk dikonsumsi bersamaan nantinya.


Lila adalah putri Carmen, ia memiliki wajah seperti dirinya dalam versi gadis kecil yang imut.


"Kita buat dulu lubang, masukan pupuknya selanjutnya benih tanaman dan siram."


"Aku mengerti."


"Tuan memang lebih cocok jadi suamiku."


"Sebaiknya kamu tidak melewati batas apapun."


"Eh, aku akan berhati-hati agar tidak hamil."


"Bukan itu maksudnya."


Para elang mulai berkumpul di perkarangan rumah, mereka memiliki tiga warna, elang putih, elang coklat dan juga elang hitam. Ardhi tidak terlalu tahu jenisnya yang jelas mereka sangatlah banyak.

__ADS_1


Di antara mereka ada seekor burung yang tidak dia peliharaan. Nisa muncul dengan sendok dan garpu.


"Ah burung, aku ingin memakan mereka terlebih merpati ini... gemuk sekali."


"Oi hentikan, kau jangan memakan mereka."


"Cuma satu gigit... tidak!"


Entah kenapa selanjutnya banyak burung merpati yang turut berdatangan untuk minta makan.


"Kurasa Ardhi sebenarnya manusia burung nyan."


"Aku baru tahu itu," kata Latifa.


"Aku bahkan melihat para burung menyembahnya seperti dewa."


"Itu lebih mengejutkan."


Mery sedang mencoba berlatih untuk menjadi feminim, dengan sedikit gerakan anggun.


Ardhi yang ada di belakangnya bertanya.


"Apa yang kau lakukan Mery?"


"Aku sedang mencoba menari balet."

__ADS_1


"Begitu, sambil membawa barbel," katanya lemas.


__ADS_2