Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 64 : Kekuatan Yang Sama


__ADS_3

Tung.


Dentuman keras terdengar saat tinju Agarta menghantam perisai milik Mery hingga tangannya merebas masu ke dalam, tak ingin memberikannya momen untuk menyerang kembali. Nisa dan Ardhi menyelinap dari samping dengan sebuah tebasan.


Nisa menggunakan skill seorang Thief yang dinamakan Back Stab, sedangkan Ardhi menggunakan Double Slash.


Back Stab adalah gerakan menusuk kemudian mundur saat mengenai targetnya sedangkan Double Slash adalah skill untuk melipat gandakan tebasan.


Tentu saja Ardhi tidak belajar dari siapapun dia hanya meniru skill lain yang dimiliki Nisa. Sebelum serangan itu mengenai Agarta keduanya terhenti di udara sebelum terlempar kembali ke belakang.


Mery juga mengalami dampak hal sama, hingga tubuhnya mengeluarkan darah dari mulutnya.


Serangan itu terasa seperti seseorang ditabrak oleh sebuah mobil secara langsung.


Ardhi menahan diri dengan pedang yang ditancapkan di tanah sementara Nisa berguling sampai ia pun jatuh ke bawah hingga terjun bebas dari ketinggian.


Pedang Ardhi terbang padanya yang mana ditangkap oleh Nisa sehingga ia bisa ditarik kembali ke atas.


"Aku tertolong nyan."


Latifa secara spontan menyembuhkan Mery sayangnya tubuhnya ditarik ke atas dan saat dia dijatuhkan Ardhi menahannya dengan kemampuannya yang mana membuat seringai di wajah Agarta sendiri.


"Dari awal aku sudah menyadarinya, kau memiliki kekuatan yang sama denganku.. darimana kau dapat kekuatan seperti itu?"


Ardhi meletakan Mery dengan hati-hati sebelum bangkit kembali.


"Itulah yang ingin kuketahui."


"Kau juga tidak tahu, hanya ada satu alasan yang bagus untuk menggambarkan apa yang terjadi, kau adalah orang yang diramalkan bukan?"

__ADS_1


"Ramalkan?"


Agarta melayang di udara bersama empat pedang milik Ardhi di sekelilingnya, itu bukan karena Ardhi yang menginginkannya melainkan Agarta telah mengambil kekuasaan pedangnya seutuhnya kemudian dia lesatkan padanya.


Dua menembus tangan Ardhi dan dua lagi menembus kakinya hingga dia berlutut.


"Ramalan ini tiba-tiba muncul begitu saja di setiap wilayah, saat aku dibangkitkan kembali akan ada pahlawan baru yang ikut dikirim ke dunia ini dan dialah yang menjadi harapan terakhir agar kedamaian tercipta di dunia ini. Sejak awal aku yakin bahwa pelaku yang menyebarkan hal itu adalah dewi sendiri, Dewi Kehidupan Naya."


Latifa, Nisa dan Mery yang berasal dari dunia ini jelas mengetahuinya dengan baik, karena pengikut sang dewi yang semakin kecil sampai menghilang sosoknya dianggap telah lenyap seutuhnya namun jika dicari dengan teliti beberapa gereja miliknya tetaplah ada di suatu tempat tertentu.


Tersembunyi baik dari kerumunan banyak orang.


"Bagaimana kau yakin bahwa Dewi Naya yang melakukannya?" tanya Latifa.


"Tentu saja aku yakin karena dia adalah dewi yang turun tangan membantu pahlawan pertama untuk mengalahkanku."


Semua orang terdiam.


"Sepertinya aku terlalu banyak bicara, lebih baik aku segera membunuh kalian semua atau mungkin suatu hari kalian benar-benar akan mengganggu rencanaku."


Agarta menciptakan sebuah tombak dari api, bagaimana pun dia bisa menggunakan seluruh elemen tanpa kesulitan. Dengan sigap Nisa, Latifa dan juga Mery berdiri di depan Ardhi sebagai perisai hidup.


"Apa yang kalian lakukan? Cepat lari."


"Memangnya kita bisa lari dari tempat setinggi ini."


"Yang dikatakan Latifa benar nyan, aku akan melindungi Ardhi."


"Aku juga, jika kita tidak bersama aku mungkin akan kesepian, kupikir mati bersama lebih baik," tambah Mery.

__ADS_1


"Kau baru saja mengatakan hal mengerikan nyan... aku tidak mau mati bersama, kau duluan baru aku."


"Tidak... yang benar, Nisa dan Mery mati duluan, aku dan Ardhi belakang jadi kami berdua tidak ada yang mengganggu."


"Kau pendeta busuk nyan."


Agarta memotong.


"Kalian bisa berbicara santai seperti itu, baiklah... Jika kalian lebih suka mati bersama maka akan aku kabulkan keinginan kalian."


Tombak diluncurkan hingga semua orang menutup matanya serempak, namun serangan yang mereka takuti tak pernah kunjung datang.


Mereka baru menyadari beberapa saat kemudian saat sebuah bola air telah menyelubungi keempatnya sebelum pecah menjadi sebuah riak-riak kecil, sementara itu, Agarta ditusuk oleh tombak air dari segala arah, di mata, di jantung, di perut, di punggung serta di bahu dan kaki.


"Dewi itu melindungimu sejauh ini.. hingga akhir kau sungguh merepotkan, Naya... tapi biarlah, aku juga belum memiliki bentuk sempurnaku maka mari bertemu lagi, dan saat itu aku akan membunuh kalian semua."


Tubuh Agarta dalam bentuk putri Asenola hancur menjadi tetesan air, bersamaan itu pulau yang mereka pijak bergoyang dan jatuh bebas ke bawah.


Nisa mulai berlarian panik.


"Whoaaa, kita akan mati-mati nyan."


Ardhi mencabut setiap pedang yang menusuk dirinya dan mencoba bangkit.


"Ardhi kau masih terluka."


"Tak apa Latifa, sembuhkan aku nanti saja."


Ardhi mengangkat kedua tangannya untuk menahan pulau ini, karena beban yang terlalu berat darah menyembur dari mulutnya meski begitu dia masih berusaha untuk berdiri, dengan teriakan ia berhasil melayangkan pijakan mereka setengah meter dari tempatnya kemudian meletakan kembali secara perlahan sebelum akhirnya Ardhi tumbang karena kehabisan mana.

__ADS_1


"Ardhi?" panggil Mery tanpa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Dia hanya pingsan, ia akan baik-baik saja, aku yakin."


__ADS_2