
Sesuatu telah merayap di atas tempat tidur Ardhi yang sebelumnya merupakan tempat tidur Latifa, untuk Latifa sendiri dia memilih tidur dengan Mery agar Ardhi tidak terus menerus tidur di sofa.
Jika dibilang sesuatu, lebih tepatnya seseorang. Ardhi terbangun dan melihat bagaimana seseorang itu telah menjulurkan wajahnya begitu dekat hingga dia bisa merasakan nafas hangat darinya yang bercampur aroma harum dari sebuah wangi bunga tertentu.
"Lynn."
"Selamat pagi tuan, ini giliran aku yang membangunkan Anda. Ngomong-ngomong hari ini Anda tidak salah sebut."
"Kurasa aku mulai terbiasa mencium aroma kalian."
"Itu perkataan yang begitu mesum."
"Tidak, itu hanya kata-kata biasa... lebih dari itu, apa tidak bisa kalau membangunkanku dengan cara biasa saja."
"Cara biasa ketinggalan zaman, ini adalah hal yang sering dilakukan para pelayan muda yang tidak bisa menahan gairahnya," katanya bersemangat.
Ardhi pikir ada apa dengan dunia ini sebenarnya? Bagaimanapun sekarang dia harus bangun, lagipula ini terlihat sudah siang hari.
Sementara Ardhi mengganti pakaiannya, Lynn duduk di atas ranjang.
"Tadi pagi pemilik toko pandai besi datang kemari, ia meminta tuan untuk menemuinya."
"Dia sudah kembali rupanya."
"Kembali? Apa ia sebelumnya meninggalkan kota."
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu. Ah benar Lynn.. kita perlu memperbesar rumah, apa kau bisa membantu soal itu?"
"Tentu saja tuan, aku akan melakukan apapun yang Anda inginkan."
"Kami sudah menabung banyak uang dari hasil quest, untuk sementara kita bisa menginap di penginapan."
"Dimengerti."
Ardhi meninggalkan kediamannya setelah sarapan walaupun jelas sangat terlambat, dia melambai ke arah Carmen dan Lila yang sedang menjemur pakaian sebelum melanjutkan langkahnya kembali.
Hanya perlu sekitar 10-15 menit untuk sampai di pandai besi dan saat dia memasukinya, bunyi lonceng di atas pintu berbunyi nyaring sementara si pemiliknya melirik dari tempat kerjanya.
"Hoh, akhirnya kau datang."
"Sudah lama sekali, kuharap kau baik-baik saja."
Dia menaruh enam pedang hitam di atas meja yang membuat Ardhi tampak terkejut.
"Pedang ini terbuat dari bahan yang sangat kuat dan tentunya sangat tajam. Ini adalah karyaku yang paling bagus sepanjang karirku sebagai seorang pandai besi. Terimalah."
"Bukannya ini terlalu bagus untukku mungkin aku tidak bisa membayarnya."
"Soal pembayaran tak usah dipikirkan... yang lebih penting kepuasan konsumen, bukannya pedangmu selalu hancur padahal kau menggunakannya untuk melindungi kota ini. Mari anggap bahwa ini investasiku untuk kota ini dan sebagai pembayaran lindungi kota ini ke depannya."
Ardhi mengalirkan air mata seperti air terjun.
__ADS_1
"Terima kasih banyak paman."
"Aku mengerti, cobalah untuk mengayunkannya."
Ardhi melakukan seperti apa yang dikatakannya dan merasa bahwa pedang itu cocok untuknya.
"Beratnya terasa ringan."
"Baguslah."
Ia memasang enam pedang di pinggangnya sebelum melanjutkan.
"Ngomong-ngomong paman, selama di kota ini aku tidak terlalu melihat banyak petualang tingkat atas, apa kau tahu sesuatu?"
"Kau belum diberitahu?"
"Beritahu soal apa?"
"Yah kurasa lebih baik kau langsung menanyakan hal seperti ini pada orang yang bertanggung jawab di guild, itulah saranku... beberapa petualang yang datang kemari juga sudah tidak terlihat saat mereka naik peringkat."
Banyak pertanyaan soal itu, tapi Ardhi memutuskan untuk kembali ke kediamannya saja, yang sekarang entah kenapa banyak orang yang sedang bekerja.
"Ugh, kenapa pembangunannya cepat sekali dan juga bukannya mereka membuatnya terlalu luas, berapa banyak anggaran yang harus dikeluarkan?"
Sebuah suara menjawabnya.
__ADS_1
"Sama sekali tidak ada."
Dia berbalik dan menemukan guild master Crimson Opera telah berdiri di sana selagi menghembuskan asap ke udara.