Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol

Book 01 : Bertahan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 45 : Hari Pertama


__ADS_3

Di dalam hutan lebat ada area kosong yang dipenuhi pohon tumbang, di salah satunya tampak gadis kecil (hanya penampilannya) sedang duduk selagi terus menggerakkan tangannya yang memegang pensil serta buku gambar, dia duduk selagi melipat kakinya. Dengan posisi seperti itu sulit untuk tidak melihat area yang sesungguhnya tidak boleh dilihat umum namun jelas gadis itu tidak mempermasalahkannya, sudah 5 jam ujian ini dimulai namun tidak ada yang muncul untuk menantangnya.


Seluruh petualang jelas menghindari sosoknya yang mana membuatnya sedikit bosan, jika dia tidak dibayar sebanyak 30 koin emas ia jelas tidak akan melakukannya.


"Apa tidak ada yang muncul untuk menantangku, sungguh para petualang kita tidak memiliki keberanian," katanya, walaupun dia mengeluh, jelas tidak akan merubah kondisinya, dia menghela nafas, membetulkan topi bundar di kepalanya sebelum menurunkan kaki dan meletakkan buku gambarnya di samping.


Gadis itu tersenyum seolah baru menyadari sesuatu.


"Jika tidak ada yang datang, aku hanya harus menemui mereka sendiri... aku yakin tidak ada yang akan mempermasalahkannya bukan."


***


Kaki Latifa terjerat tali hingga dia ditarik ke atas pohon dengan posisi terbalik.


"Whoaaa."


" Fufu Latifa kau benar-benar berani nyan, mengenakan pakaian dalam merah berenda apa kau berusaha menggoda Ardhi nanti."


"Berisik, cepat turunkan aku Nisa... kepalaku pusing."


"Baik, baik. Pendeta yang tidak ada manis-manisnya."


Nisa melemparkan belatinya untuk memotong tali, dan ketika Latifa jatuh dia sudah menangkapnya dengan baik.

__ADS_1


"Sudah beres."


"Terima kasih."


"Yeah."


Nisa mengambil belati yang tertusuk di pohon dan mengembalikannya ke pinggangnya, mereka sekarang bertugas untuk mengambil air namun seperti yang Ardhi bilang hutan ini juga tidak luput dari jebakan.


Walau tidak mematikan, itu tetap saja merepotkan.


Mereka tiba di sebuah kolam mata air berukuran kecil, mengambil sedikit air untuk diminum, baru mereka mengambilnya untuk mengisi botol yang mereka bawa.


Ini hampir gelap, dibandingkan terus memburu monster mereka memutuskan bersiap untuk berkemah. Sekembalinya ke tempat utama mereka menemukan Ardhi sedang memasak sup dan Mery tengah mempersiapkan area yang bisa mereka gunakan untuk tidur.


"Kami kembali nyan.... hmmm, aromanya harum Ardhi."


"Baik, hey Ardhi apa kau tahu pakaian dalam Latifa sekarang jika kau melihatnya kau mungkin akan suka."


Latifa memegangi bagian bawahnya selagi meringkuk dengan wajah memerah.


"Aku ingin menunjukannya saat aku dan Ardhi berduaan, Nisa dan Mery sebenarnya tidak boleh melihatnya...ah, aku sangat malu."


Ardhi menunjukan wajah bermasalah namun dia memilih mengabaikannya. Dia mungkin hanya mencoba untuk menggodanya, dibandingkan Latifa orang yang lebih mengerikan darinya masih ada.

__ADS_1


Misalnya Yumi atau orang-orang di distrik lampu merah yang langsung menculik pria saat melintasi tempat mereka dan setelahnya para pria itu akan kehilangan segalanya saat pagi hari dan pulang bertelanjang.


Ia hanya mengetahuinya dari rekan sesama petualang di guild.


Tepat saat matahari tenggelam mereka menikmati sup bersama, Nisa memulai pembicaraan yang sedikit serius.


"Di sisi hutan ini kita hanya menemukan monster sedikit dan juga poin yang mereka berikan hanya 10 poin saja, dengan begitu kita baru mendapat 50 poin. Bukannya kita terlalu memakan waktu nyan."


"Kenapa kau khawatir, itu lumayan... kita bergerak secara perlahan."


"Bukannya sebagian besar salahmu Latifa, kau sering terkena jebakan sih."


"Ugh... mau bagaimana lagi, jebakannya sangat sulit terlihat, aku jatuh ke lubang 10 kali, terikat tali 5 kali, dan 5 kali terjerat akar."


"Bukannya itu namanya ceroboh nyan."


Lebih tepatnya Latifa seorang yang akan mudah mengaktifkan jebakan di manapun dia berdiri.


"Apa mungkin aku harus menggendong Latifa agar tidak terkena jebakan?" tanya Mery.


"Aku tidak ingin digendong wanita, jika boleh memilih aku ingin digendong Ardhi."


"Kau terlalu berat nyan.. guakh."

__ADS_1


Latifa baru saja memukul perut Nisa hingga dia terjungkal ke belakang.


Ardhi hanya berfikir apa kelompok ini akan baik-baik saja ke depannya.


__ADS_2