
Sehari mengambil quest dan setelah selesai mereka akan mengambil istirahat sehari sebelum mengambil quest berikutnya.
Setelah mengambil quest pemukiman goblin serta penculikan kucing, mereka mengambil quest membangun jembatan.
Permintaan ini datang dari keluarga yang tinggal di dalam hutan di mana rumah mereka dipisahkan dengan jurang.
"Aku kagum mereka bisa tinggal di sana."
"Bahkan aku juga tidak tahu bagaimana mereka membuat permintaannya," ucap Latifa dan Mery.
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, putri dan seorang nenek tampak melambaikan tangan mereka dari seberang.
Nisa membalasnya dengan senang.
"Jangan khawatir nyan, kami akan membangun jembatannya sehari."
Itu bukan pekerjaan seperti mempertaruhkan nyawa tapi tetap saja hal yang merepotkan.
Ada jembatan tali sebelumnya dan sekarang itu telah jatuh ke bawah.
Nisa menggigil.
"Ternyata jurangnya dalam juga, jika kita terjatuh kita akan jadi telur hancur."
"Ugh... kenapa kau mengatakannya, aku tidak mau mati."
"Tidak ada yang akan mati, Mery tolong potong pohon secukupnya dan kita akan mulai membangun jembatannya."
"Baik."
Ardhi berjongkok kemudian menggunakan ranting untuk menggambar sketsa sederhana.
"Pertama kita akan mengikat empat tali, dua tali di bawah yang akan menjadi alas untuk papan dan dua lagi untuk berpegangan, masing-masing tali akan diikat di pohon agar lebih kuat.
__ADS_1
"Baik, aku yang akan menempatkan kayunya nyan."
"Dimengerti."
Mery menebang pohon, Ardhi memotongnya sesuai ukuran dengan teknik pedang, Latifa mengumpulkan potongan itu lalu membawanya pada Nisa untuk dilekatkan di atas tali yang sebelumnya mereka sudah buat.
Semua berjalan sesuai yang ditentukan namun membuat jembatan bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam waktu sehari hingga pada akhirnya mereka berkemah selagi memanggang daging untuk mereka nikmati.
Ardhi berjalan ke sisi jurang selagi berteriak ke arah para penghuni rumah.
"Kalian baik-baik saja, apa kalian punya makanan di sana?!"
"Jangan khawatir, kami punya persediaan untuk seminggu!" balas pria di seberang.
"Kalau begitu baguslah."
Mereka juga harus memastikan keluarga tersebut baik-baik saja.
Latifa memeluk Ardhi dari depan dan Nisa memeluknya dari sisi lain, dan untuk Mery dia menindihnya.
"Kalian semua ingin membunuhku yah."
"Udara di sini dingin kita harus saling menghangatkan diri nyan."
"Benar sekali."
"Mery kau sangat berat."
"Tidak sopan mengatakan seorang gadis dengan perkataan berat."
"Bukan itu maksudku."
Pagi berikutnya mereka kembali membuat jembatan dan saat langit berubah oranye, akhirnya jembatan selesai dibuat.
__ADS_1
Keluarga itu terus mengucapkan terima kasih.
"Tak apa, ini bukan masalah... ngomong-ngomong bagaimana kalian menaruh permintaan?"
"Kami meminta bantuan pada petualang yang lewat."
"Dan alasan kalian tinggal di sini?" potong Latifa.
"Sejak dulu nenek moyangku tinggal di sini, kami hanya mengikuti jejaknya."
Sulit dipastikan apa alasan sesungguhnya mereka enggan pindah, apapun itu tak masalah untuk membiarkan tetap menjadi misteri.
Saat perjalanan pulang Latifa menarik nafas lega selagi menyandarkan dirinya di pohon.
"Kamu baik-baik saja Latifa?" tanya Ardhi.
"Tidak, hanya saja kita benar-benar membuat jembatan untuk mereka."
"Maksudmu?"
"Sebenarnya mereka sudah mati."
Nisa memiringkan kepalanya dan Mery tersenyum pahit hingga akhirnya Latifa menjelaskan
"Ah, sebelum kita datang kemari aku sempat bertanya pada Cathy tentang quest ini, katanya quest ini sudah 10 tahun berada di sana."
"Eh?"
"Dulu ada petualang sama seperti kita yang mengambil permintaan ini, namun saat petualang itu mengecek keadaan orang-orang di seberang, mereka sudah tak bernyawa dan tergeletak di perkarangan rumah mereka."
Ardhi memucat.
"Mari jauhi tempat itu selamanya."
__ADS_1
"Itu ide bagus."
Mereka mendapatkan bayaran namun tentu saja uang itu berasal dari hantu.